Begini Perjuangan Perempuan Pekerja Rumahan Menjaga Ketahanan Pangan Saat Pandemi 

Di tengah pandemi, para perempuan pekerja rumahan di Desa Bawuran, Kabupaten Bantul, menempuh berbagai cara untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. - Istimewa
09 Juli 2021 12:37 WIB Media Digital Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Di tengah pandemi, para perempuan pekerja rumahan di Desa Bawuran, Kabupaten Bantul, menempuh berbagai cara untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.  Budi daya ikan lele dan menanam sayuran pun mereka lakukan agar dapur tetap ngebul. Namun, upaya menjaga ketahanan pangan itu menghadapi sejumlah tantangan. 

Sejak Desember 2020, Nunik Kristiana, 40, memiliki kegiatan baru di rumah. Bersama teman-temannya anggota Serikat Perempuan Pekerja Rumahan (SPPR) Bunda Mandiri, Nunik beternak lele dengan menggunakan ember.  

“Kami beternak ikan lele di ember supaya tidak makan tempat. Kalau orang lain beternak lele harus punya kolam, kami cukup dengan ember,” ujar Nunik yang merupakan mantan Ketua SPPR Bunda Mandiri saat diwawancarai, Sabtu (26/6/2021). 

SPPR Bunda Mandiri berkedudukan di Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, Bantul. Sesuai namanya, SPPR Bunda Mandiri beranggotakan para perempuan pekerja rumahan yang berasal dari Desa Bawuran. Saat ini, ada 37 perempuan pekerja rumahan yang menjadi anggota SPPR Bunda Mandiri. 

Pekerja rumahan merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut mereka yang bekerja dari rumah dan menggunakan rumah sebagai tempat kerja. Biasanya, jenis pekerjaan yang dilakukan para pekerja rumahan itu adalah memproduksi komoditas komersial secara massal. 

Kebanyakan anggota SPPR Bunda Mandiri bekerja menjahit tas kain dan baju di rumah. Pekerjaan itu dilakukan berdasarkan pesanan dari para produsen tas atau baju, baik yang dikelola perseorangan maupun perusahaan. Setelah menyelesaikan pekerjaan, para anggota SPPR Bunda Mandiri biasanya dibayar sesuai jumlah tas atau baju yang mereka jahit.

Nunik mengatakan setelah adanya pandemi Covid-19, pesanan menjahit ke para anggota SPPR Bunda Mandiri sempat menurun drastis. Kondisi itulah yang membuat SPPR Bunda Mandiri melakukan sejumlah upaya untuk membantu perekonomian anggota-anggotanya, termasuk dengan melakukan budi daya lele. 

Dengan adanya budi daya lele itu, diharapkan para anggota SPPR Bunda Mandiri bisa menjaga ketahanan pangan keluarga mereka di tengah pandemi Covid-19. Lele-lele yang mereka pelihara itu nantinya bisa digunakan sebagai lauk-pauk bagi keluarga sehingga para anggota SPPR Bunda Mandiri dapat menghemat pengeluaran.  

Kegiatan budi daya lele itu berjalan dengan pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat IDEA Yogyakarta. Sebelum mulai membudidayakan lele, para anggota SPPR Bunda Mandiri terlebih dulu mengikuti pelatihan yang difasilitasi IDEA Yogyakarta. 

Nunik menuturkan budi daya ikan lele itu dipusatkan di rumah dua anggota SPPR Bunda Mandiri. Di masing-masing lokasi tersebut, dibudidayakan 300 bibit lele yang dipelihara di dalam dua ember ukuran 75 liter. 

Meskipun budi daya hanya dilakukan di rumah dua anggota, para anggota SPPR Bunda Mandiri bergantian mengurus ratusan ikan lele tersebut. “Kami gantian untuk mengurus lele-lele itu. Sesempatnya masing-masing anggota,” tutur Nunik. 

Penuh tantangan 

Salah satu rumah yang dipakai untuk ternak lele dengan ember itu adalah rumah Nunik yang berlokasi di Dusun Sanan, Desa Bawuran. Selama beberapa bulan melakukan budi daya lele, Nunik menyebut, ada sejumlah tantangan dan persoalan yang dihadapi para anggota SPPR Bunda Mandiri. 

Salah satunya adalah keterbatasan air di Dusun Sanan. Sebagian besar wilayah Dusun Sanan berupa perbukitan batu sehingga warga tidak bisa mengandalkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Menurut Nunik, selama ini, warga Dusun Sanan hanya mengandalkan air dari perusahaan daerah air minum (PDAM). Namun, aliran air dari PDAM terkadang mati sehingga stok air warga menjadi terbatas. “Kendala pertama itu air karena di sini kan tidak ada sumur air tanah sehingga pakai air PAM,” katanya. 

Keterbatasan air itu membuat air di dalam ember budi daya lele menjadi tidak bisa sering diganti. Kondisi itulah yang membuat sebagian lele yang dibudidayakan di rumah Nunik akhirnya mati sebelum sempat dipanen. “Karena airnya susah, jadi air di dalam ember enggak sering diganti. Akhirnya banyak yang mati,” ujar Nunik.

Kesulitan membudidayakan lele itu juga dialami oleh Surahmi, 40, yang merupakan Bendahara SPPR Bunda Mandiri. Rumah Surahmi di Dusun Jambon, Desa Bawuran, juga dipakai sebagai tempat budi daya lele oleh para anggota SPPR Bunda Mandiri. 

Menurut Surahmi, budi daya lele di rumahnya dilakukan sejak 23 Januari 2021. Awalnya, Surahmi menggunakan dua ember untuk membudidayakan 300 bibit lele. Namun, setelah lele-lele itu mulai membesar, Surahmi memindahkan sebagian lele tersebut ke satu ember lain sehingga total ada tiga ember yang dipakai. 

Surahmi menuturkan, saat cuaca sangat panas, sejumlah lele yang dipelihara di rumahnya tak bisa bertahan hidup. Selain itu, sebagian lele tersebut juga tidak mau makan saat diberi pakan. Oleh karena itu, sejumlah lele akhirnya tak bisa bertahan hidup. 

Surahmi mengatakan, pengetahuannya tentang budi daya ikan lele memang belum memadai. Oleh karena itu, dia mengaku tak tahu pasti kenapa lele yang dipeliharanya tak mau makan. “Air di dalam ember itu juga jadi cepat bau. Baru tiga hari sudah bau,” tuturnya. 

Berbagai masalah itu membuat hasil budi daya lele yang dilakukan anggota SPPR Bunda Mandiri belum terlalu maksimal. Dari 300 bibit lele yang dibudidayakan di rumah Nunik, hanya 112 ekor yang akhirnya bisa dipanen. Sementara itu, jumlah lele di rumah Surahmi yang bisa dipanen sekitar 120 ekor.    

Meski begitu, lele hasil budi daya itu tetap memberi manfaat bagi para anggota SPPR Bunda Mandiri. Surahmi menyebut, sebagian lele hasil panen itu digunakan untuk konsumsi saat ada pertemuan serikat tersebut. Dengan begitu, SPPR Bunda Mandiri bisa menghemat biaya untuk konsumsi. 

Sebagian lele juga dijual dengan harga murah kepada para anggota SPPR Bunda Mandiri. Penjualan lele itu memberi manfaat ganda. Di satu sisi, para anggota bisa mendapat bahan pangan yang bergizi dengan harga murah. Di sisi lain, hasil penjualan itu juga bisa menambah kas SPPR Bunda Mandiri. 

Menanam sayur 

Selain budi daya lele, Surahmi menambahkan, para anggota SPPR Bunda Mandiri juga menanam aneka jenis sayuran di polybag di rumah masing-masing. Beberapa jenis sayuran yang ditanam di rumah masing-masing anggota itu misalnya sawi, pakcoy, seledri, kacang panjang, kembang kol, terong, tomat, cabe, selada, dan sebagainya.

Menurut Surahmi, kegiatan menanam sayuran di polybag itu dibantu oleh Yayasan Annisa Swasti (Yasanti). Setelah siap panen, sayuran itu digunakan untuk lauk bagi masing-masing keluarga anggota SPPR Bunda Mandiri. Dengan begitu, para perempuan anggota SPPR Bunda Mandiri bisa menghemat pengeluaran untuk membeli lauk. 

Project Manager Program Penanggulangan Kemiskinan IDEA Yogyakarta, Isnawati, mengatakan, pendampingan kegiatan budi daya lele di Desa Bawuran bermula dari kondisi para anggota SPPR Bunda Mandiri yang mengalami kesulitan ekonomi karena pandemi. Berdasarkan kondisi itu, sejumlah pegiat IDEA Yogyakarta kemudian berdiskusi dengan para anggota SPPR Bunda Mandiri untuk merumuskan kegiatan yang bisa meringankan beban ekonomi anggota serikat tersebut. 

“Kami diskusi potensi apa yang bisa dikembangkan, paling enggak untuk membantu lauk-pauk bagi  keluarga mereka. Akhirnya teman-teman sepakat mencoba untuk budi daya lele,” ujar Isnawati. 

Isnawati menyebut, budi daya lele dipilih karena tak membutuhkan lahan luas dan bahkan bisa menggunakan ember. Selain itu, informasi mengenai budi daya lele juga mudah ditemukan di internet. “Budi daya lele itu modalnya juga terjangkau,” katanya. 

Isnawati mengakui, hasil budi daya lele itu memang belum maksimal karena budi daya tersebut merupakan pengalaman pertama bagi para anggota SPPR Bunda Mandiri. Berdasarkan kesepakatan dengan para anggota serikat tersebut, kegiatan budi daya lele itu pun dihentikan sementara. 

Saat ini, Isnawati menambahkan, IDEA Yogyakarta sedang mendorong Pemerintah Desa Bawuran menjalankan program untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat desa itu. Salah satu program yang diusulkan adalah membagikan bibit sayuran ke masyarakat untuk ditanam di masing-masing rumah. 

“Kami mendorong pemerintah desa mengalokasikan anggaran untuk ketahanan pangan warganya dalam situasi pandemi ini. Jadi, kami mendorong pemerintah desa menyediakan bibit tanaman yang bisa dibagikan ke masyarakat,” ungkap Isnawati. (ADV)