Detik-Detik Malam Nahas di RSUP Dr Sardjito

Petugas medis melakukan perawatan pasien di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (4/7/2021). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
22 Juli 2021 07:17 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Lebih dari 40 pasien (hampir semuanya pasien Covid-19) di RSUP dr Sardjito Jogja meninggal dunia dalam waktu 11 jam, pada awal Juli 2021 lalu. Kuat diduga, anomali alias jumlah kematian yang tak wajar itu terjadi karena krisis oksigen. Keluarga dari sejumlah pasien meninggal mengisahkan detik-detik yang terjadi pada malam nahas itu, saat oksigen di rumah sakit pelat merah itu habis. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Bhekti Suryani.

Baryanto tengah berjaga di dalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr Sardjito, Sabtu (3/7/2021) malam lalu. Lelaki 36 tahun itu tengah menunggui ibunya Siti Zaenab yang terbaring lemah di bed rumah sakit karena positif terinfeksi Covid-19.

RSUP Dr Sardjito adalah harapan terakhir Baryanto menyelamatkan ibunya setelah sebelumnya ditolak oleh sejumlah rumah sakit di Klaten, Jawa Tengah dan RS di Jogja. Malam itu selang oksigen dari alat bantu pernapasan beraliran tinggi atau High Flow Nasal Cannula (HFNC) terpasang di tubuh perempuan 69 tahun tersebut.

Saturasi atau kadar oksigen dalam darah pasien saat itu menunjukkan angka 86 hingga 87. Angka kritis untuk nilai normal kadar oksigen dalam darah yakni minimal 95. Sekitar pukul 21.00 WIB, tiba-tiba mesin HFNC yang membantu ibunya bernapas berbunyi. “Bunyinya tit..tit..tit…,” ungkap Baryanto menirukan bunyi mesin HFNC malam itu, saat diwawancari 13 Juli lalu.

Selang sekitar 10 menit kemudian satu per satu mesin HFNC milik pasien lain di ruangan yang sama juga berbunyi bersahutan. Kondisi itu terjadi kurang lebih satu jam.  Saat itu, saturasi oksigen ibunya langsung drop. Sekitar pukul 23.00 WIB perawat melepas selang HFNC di tubuh ibunya dan menggantinya dengan oksigen biasa yakni oksigen model masker. Saat itu satursi oksigen ibunya sudah drop di angka 20 dan 10. Sekitar Pukul 01.00 WIB dini hari atau Minggu (4/7/2021) esok harinya, perempuan dengan riwayat penyakit jantung itu tak terselamatkan.

Saat itu kata Baryanto, tak hanya ibunya yang meregang nyawa. Dalam rentang waktu sekitar satu jam, ada empat hingga lima orang dalam ruangan itu yang meninggal setelah oksigen dari HFNC berhenti mengalir. Malam itu, Baryanto menyaksikan satu per satu jenazah dibawa ke ruang forensik untuk antre dimandikan. Ibunya sendiri baru bisa keluar dari RSUP Sardjito sekitar pukul 15.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB sore harinya, untuk selanjutnya dimakamkan. “Saat itu ibu saya disebut di urutan antrean ke-48 untuk prosesnya [pemulasaraan jenazah],” kata lelaki asal Klaten, Jawa Tengah itu.

Baryanto sangat yakin ibunya meninggal karena kehabisan oksigen. Sejumlah hal mendukung keyakinanya. “Karena saat dipasang HFNC saturasi naik 86-87 hampir 90. Saat mesin bunyi atau ada  gangguan langsung drop,” ungkap dia.

Saat itu kata Baryanto, dokter yang merawat ibunya juga sempat meminta maaf dan mengabarkan krisis oksigen. “Dia [dokter] minta maaf, oksigen diinformasikan sudah ditambah tiga kali lipat dari biasanya. Cuma karena banyaknya pasien masuk ke RSUP Sardjito karena RS lain menolak [pasien],  maka kebutuhan oksigen banyak sekali,” tutur Baryanto.

Baryanto-Harian Jogja/Bhekti Suryani

Dugaan kuat sejumlah pasien di RSUP Dr Sardjito meninggal karena menjadi korban habisnya oksigen juga diungkapkan Johny. Ibu mertuanya, Sukini, meninggal hanya berselang sejam setelah oksigen sentral di RSUP Dr Sardjito habis pada Sabtu (3/7/2021) pukul 20.00 WIB. Sukini selama ini diketahui tak punya penyakit penyerta atau komorbid.

Padahal pada Sabtu sore harinya, ibunya masih bisa berkomunikasi. Dokter yang merawat mengabarkan saturasi Sukini masih di angka 90-an kala itu. Pada Sabtu sore pula, putri Johny sempat berkomunikasi lewat video call dengan perawat yang merawat ibunya. “Sekitar jam enam [Sabtu sore] ibu saya video call. Perawat waktu itu hanya bilang semangat yang tenang cepat sembuh, enggak ada kepanikan. Kami enggak bisa masuk ke ruang isolasi,” ungkap Johny.

Namun kabar buruk itu datang sekitar pukul 21.00-an, telepon masuk dari rumah sakit mengabarkan ibu mertuanya telah meninggal dunia. “Saya tanya [ke dokter yang merawat], ibu saya bagaimana kok tahu-tahu bisa innalillahi. Dia [dokter] enggak percaya. Saya dikiria bercanda. Katanya enggak apa-apa kondisinya, karena sore barusan dicek saturasinya 90. Tapi kami dikabari ibu sudah meninggal jam sembilan itu,” ungkap dia.

Hingga kini tak ada info dari otoritas rumah sakit ke keluarga Johny ihwal krisis oksigen yang diduga menjadi penyebab mertuanya meninggal. Johny mengaku baru tahu esok harinya ihwal gonjang-ganjing krisis oksigen di RSUP Dr Sardjito.

 “Tidak ada info dari RS soal oksigen menipis. Selang satu hari saya baru dikabari teman saya yang nanya ibu kapan meninggal? Wah..itu berarti korban oksigen. Saya baru ngeh di situ,” kata dia.

 Johny juga menceritakan membeludaknya jenazah pasien Covid-19 pada hari yang sama saat ibunya meninggal. Ia mendapat kabar rumah sakit sampai kehabisan peti jenazah. Jenazah mertuanya bahkan mendapat urutan ke-36 untuk dirukti oleh petugas.

“Saya kaget masa malam itu ada 60-an yang meninggal. Kami enggak kepikiran soal oksigen habis,” ungkapnya. Pada Minggu (4/7/2021) sekitar pukul 13.00 WIB, jenazah Sukini baru bisa keluar dari RSUP Sardjito untuk dimakamkan di daerah asalnya di Semarang, Jawa Tengah.

Johny-Harian Jogja/Bhekti Suryani

Kisah pilu pada malam nahas Sabtu (4/7/2021) lalu juga diceritakan Amarzoni. Lantaran membeludaknya pasien yang meninggal di waktu hampir bersamaan, ia tak sempat melihat istrinya dimakamkan di liang lahat.

Istri Amarzoni meninggal Minggu (4/7/2021) dini hari pukul 00.30 WIB. Padahal pada Sabtu sore ia masih sempat menunggui istrinya di UGD RSUP Dr Sardjito, mengantarnya ke kamar mandi dan membelikannya jeruk hangat.

Jelang Maghrib, Amarzoni pamit pulang hendak mengambil pakaian ganti sang istri. Namun ternyata malam itu pula, istrinya meninggal dunia tanpa ia ketahui. Saat itu, istrinya juga sangat bergantung dengan pasokan oksigen setelah divonis terinfeksi Covid-19. “Waktu itu setelah istri meninggal, rumah sakit memberi tahu keponakan saya [lewat telepon]. Tapi tidak sampai ke saya [informasinya] karena HP saya lowbat,” kata Amarzoni.

Amarzoni bahkan baru tahu istrinya Sri Sumaryati meninggal dunia sekitar pukul 14.00 WIB, setelah ia mencari tahu keberadaan istrinya dan mencari kabar ke otoritas rumah sakit.

Dinyatakan meninggal Minggu dini hari tak serta merta jenazah sang istri bisa langsung dikeluarkan untuk dimakamkan. Sejak Minggu siang hingga Senin pagi Amarzoni harus mengantre di depan ruang forensik menunggu jasad istrinya dimandikan. Saat itu kata Amarzoni, puluhan jenazah mengantre proses pemulasaraan.

Ia bahkan sempat tertidur dan tak tahu pada Senin (5/7/2021) dini hari sekitar pukul 05.00 WIB, mobil ambulans sudah membawa jasad istrinya keluar rumah sakit untuk dimakamkan di pemakaman Krapyak, Sewon, Bantul. “Saya waktu itu ketiduran. Sekitar jam sembilan baru bangun. Saya bangun istri sudah dibawa ke pemakaman. Saya langsung susul ke sana, saya datang ke pemakaman istri sudah dimakamkan,” kata dia.

Amarzoni-Harian Jogja/Bhekti Suryani

Krisis oksigen dan antrean jasad pasien Covid-19 di ruang pemulasaraan diceritakan pula oleh Felani Indri, keponakan dari almarhum Pranodyo Ngesti. Pasien Covid-19 yang meninggal pada Sabtu (3/7/2021) pukul 23.29 WIB atau jam-jam kritis saat oksigen sentral RSUP Dr Sardjito habis. Almarhum Pranodyo saat itu juga bergantung dengan pasokan oksigen.

“Almarhum pakai terus oksigen. Kalau enggak pakai kadar oksigen drop lagi. Setahu saya waktu di IGD dipakai terus sudah di angka 87 [saturasi] tetap dipakai oksigennya,” ungkap Felani. Malam saat almarhum meninggal, Felani menyaksikan sendiri bagaimana petugas rumah sakit kalang kabut mencari tabung oksigen.

“Ada pegawai Sardjito lagi lari-lari cari tabung-tabung yang kosong sambil telepon. Itu ada di sana, ada di sana. Mungkin kurang oksigennya itu,” papar dia. Setelah dinyatakan meninggal, Felani juga harus berjibaku mengurus surat kematian dan mengantre pemulasaraan. Almarhum Pranodyo mendapat urutan ke-61 untuk proses pemulasaraan.

“Situasinya saat itu sudah kacau sekali, karena banyak keluarga pasien yang sudah tidak sabar menunggu. Sampai kehabisan peti, kami ditawari kalau mau cepat sediakan peti sendiri. Warga itu sudah enggak sabaran padahal itu yang antre sampai dua hari juga ada,” kisah Felani.

Lonjakan Kematian di Jam Genting

Kisah pilu sejumlah pasien Covid-19 itu senyampang dengan data yang ditemukan tim kolaborasi jurnalis yang meliput krisis oksigen di RSUP dr Sardjito. Harian Jogja bersama sejumlah jurnalis di DIY yakni Gatra, Kompas, CNN Indonesia, IDN Times, Voa Indonesia dan Tirto.id mengumpulkan data jumlah dan jam kematian pasien RSUP Sardjito pada hari-hari genting Sabtu (3/7/2021) hingga Minggu (4/7/2021).

Data yang diperoleh dari Posko Dukungan (Posduk) Operasi Satgas Penanganan Covid-19 BPBD DIY itu menunjukkan ada lonjakan kematian pada jam-jam kritis tersebut. Tim menemukan ada 41 kematian pasien setelah oksigen sentral RSUP Dr Sardjito habis pada Sabtu pukul 20.00 WIB hingga Minggu pagi pukul 07.00 WIB. Dalam jam-jam kritis itu sejumlah pasien meninggal dalam waktu berdekatan.

Pada pukul 20.00 WIB hingga pukul 20.59 WIB mulanya hanya tercatat satu kematian. Jumlah kematian melonjak menjadi lima kematian dalam sejam kemudian, naik lagi menjadi tujuh kematian pada pukul 22.00 WIB hingga 22.59 WIB, sempat turun menjadi enam kematian sejam kemudian dan melonjak lagi hingga sembilan kematian dalam sejam berikutnya.

Jumlah kematian mulai mereda pada pukul 00.00 WIB hingga pukul 00.59 menjadi lima kematian. Penurunan itu seiring mulai masuknya bantuan 100 tabung oksigen dari Polda DIY sekitar pukul 00.15 WIB menurut informasi dari rilis RSUP Dr Sardjito yang diterbitkan pada Minggu (4/7/2021) siang.

Jumlah kematian semakin berkurang  setelah pada pukul 03.40 WIB truk oksigen liquid pertama dari Kendal, Jawa Tengah tiba di lokasi mengisi tabung utama, sehingga oksigen sentral sudah dapat berfungsi kembali. Disusul truk kedua pada pukul 04.45 WIB masuk pula mengisi tabung sentral oksigen.  

Data temuan tim kolaborasi berbeda dari data yang diklaim otoritas RSUP Dr Sardjito. Dalam rilisnya, rumah sakit pelat merah itu menyebut hanya tercatat 33 kematian terhitung sejak oksigen sentral habis pada Sabtu malam pukul 20.00 WIB hingga pagi esok harinya. Sedangkan dalam kurun waktu 24 jam atau sejak Sabtu (3/7/2021) pagi hingga Minggu (4/7/2021) pagi, total pasien yang meninggal tercatat sebanyak 63 orang.

Melalui rilis yang diterbitkan pada 4 Juli 2021, Direktur RSUP Dr Sardjito kala itu Rukmono Siswishanto membantah puluhan pasien Covid-19 yang meninggal dalam hitungan belasan jam itu sepenuhnya terkait krisis oksigen. Otoritas mengklaim pasien meninggal bukan semata-mata karena kurang oksigen tapi karena kondisi klinis yang buruk.

Klaim otoritas RSUP Dr Sardjito berbeda dengan apa yang ditemukan di lapangan. Selain kesaksian sejumlah keluarga pasien tentang detik-detik yang terjadi pada malam nahas itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY juga menemukan anomali di balik kematian puluhan pasien itu.

Komandan TRC BPBD DIY Wahyu Pristiawan Buntoro menyebut angka tak wajar dari kematian puluhan pasien di Sardjito dalam waktu satu malam.

Rata-rata kata Wahyu Pristiawan Buntoro, jumlah kematian di rumah sakit tersebut dalam sehari berkisar 40 hingga 50 orang. Namun pada dua hari kritis itu, TRC mencatat hingga 72 kematian dalam waktu 24 jam dan tercatat sebanyak 41 kematian di jam-jam kritis dari pukul 20.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB esok harinya.

Pada Minggu, sejumlah personel TRC dikerahkan ke RSUP Dr Sardjito untuk mengurai kemacetan jenazah yang keluar dari ruang forensik RS. Tim juga mendata jumlah kematian yang terjadi dalam 24 jam tersebut. “Saat kami datang suasana di sana itu sudah kacau balau sudah chaos. Yang bisa kami selamatkan datanya ada 72 itu [yang meninggal dunia],” ungkap dia.

Wahyu Pristiawan Buntoro-Harian Jogja/Bhekti Suryani

Melihat anomali kematian yang tak wajar, tim kata Pris meyakini tragedi itu terkait krisis oksigen. Sebab, beberapa hari sebelum kejadian, tim BPBD sudah melihat adanya krisis kekurangan oksigen di sejumlah RS di DIY termasuk Sardjito. Kondisi itu menurut Pris sudah disampaikan ke otoritas terkait.   

“[kematian akibat krisis oksigen] Itu faktor dominan. Kalau 63 kematian [klaim RS] dalam 24 jam. Itu kan pasien yang meninggal itu pasien yang memang sudah ditangani rumah sakit [dipasang alat bantu napas], bukan pasien yang baru datang,” kata Wahyu Pristiawan.

Terpisah, Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSUP Persahabatan Jakarta dan juga dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prasenohadi, menjelaskan bagaimana terhentinya pasokan oksigen bisa membahayakan nyawa pasien.

Idealnya kata dia, pasien Covid-19 dengan kondisi kritis dibantu dengan alat bantu napas level tinggi seperti HFNC atau ventilator. Alat bantu napas seperti HFNC menyedot sekitar 70 liter oksigen dalam satu menit dan bisa membantu hingga 100 % kebutuhan oksigen.

Dalam kondisi darurat saat pasokan oksigen menipis, kata dia, bisa saja petugas kesehatan mengganti alat bantu napas dari yang bertekanan tinggi ke alat bantu napas biasa seperti oksigen masker atau nasal canul. Namun kondisi ini bisa berbahaya bagi pasien berat yang sudah bergantung dengan HFNC.

“Kalau kurang oksigen dan parunya jelek harusnya enggak mungkin diganti dengan alat yang lebih sederhana. Tapi dalam kondisi tertentu apa boleh buat. Keterbatasan oksigen menyebabkan itu dilepas diganti yang lain, itu enggak bisa dihindari. Tapi enggak mungkin pakai nasal canul [dari HFNC ganti nasal canul]. Kalau pakai itu enggak lama pasti terjadi bahaya, malah kecelakaan buat pasien,” jelasnya.

Dr Prasenohadi-Harian Jogja/Bhekti Suryani

Kematian kata dia, bisa terjadi dalam hitungan waktu satu jam bila suplai oksigen tekanan tinggi berhenti untuk pasien berat. Prasenohadi juga menduga kematian sejumlah pasien di RSUP Dr Sardjito setelah mesin HFNC berbunyi secara bersamaan di sejumlah pasien Covid-19 seperti yang diceritakan Baryanto, terkait dengan habisnya suplai oksigen.

“Mesin HFNC akan bunyi karena kita setting ada alarmnya. Memang butuh kestabilan oksigen di RS. Kalau enggak stabil suplai oksigen, misal [aliran oksigen di HFNC] kita setting x, kalau di bawah x mesinnya bunyi,” jelas dia.

Butuh Audit

Ihwal kejadian di RSUP Dr Sardjito pada 3-4 Juli lalu, tim kolaborasi meminta klarifikasi ke otoritas RSUP Dr Sardjito melalui surat yang dilayangkan pada 18 Juli lalu. Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta yang baru saja dilantik Eniarti, kemudian mengirimkan jawaban tertulis pada Rabu (21/7/2021).

Dalam suratnya Eniarti menyatakan RSUP Dr Sardjito sudah bekerja sama dengan dua perusahaan penyedia oksigen untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit. Namun ia mengakui dalam kondisi kebencanaan saat ini tidak semua layanan rumah sakit berjalan lancar atau normal lantaran banyaknya pasien yang berdatangan ke RS.

Terkait dugaan kematian puluhan pasien akibat habisnya oksigen, Eniarti menyatakan sudah menjawab persoalan itu dalam jumpa pers yang digelar 16 Juli lalu. Dalam jumpa pers itu Eniarti menyatakan perlu adanya audit untuk membuktikan apakah kematian puluhan pasien dalam waktu berdekatan itu disebabkan habisnya pasokan oksigen.

“Apakah memang kematian itu disebabkan oleh kekurangan oksigen dan lain sebagainya. Ini perlu adanya audit. Audit ini sudah ada tim yang diberi amanah oleh rumah sakit yaitu tim audit medis dari komite medis itu sendiri,” kata Eniarti saat jumpa pers, Jumat (16/7/2021) lalu.

Kebijakan Pemerintah

Tragedi yang terjadi di RSUP Dr Sardjito serta krisis oksigen di berbagai daerah menjadi pelajaran banyak pihak untuk bebenah dalam menangani pandemi Covid-19 serta menjadi alarm bagi masyarakat untuk waspada.

Komandan TRC BPBD DIY Wahyu Pristiawan Buntoro menyatakan selama ini, pemerintah sejatinya sudah tahu ihwal krisis oksigen dan lonjakan pasien Covid-19 yang terjadi belakangan. “Itu kenapa yang penting dilakukan saat ini fungsikan rumah sakit-rumah sakit yang non-rujukan Covid-19 itu menjadi RS rujukan. Jangan bertumpuk di satu tempat. Saat ini, rumah sakit itu sudah kelimpahan juga pasien Covid-19 hanya tidak bisa maksimal menangani karena bukan ditunjuk sebagai RS rujukan,” kata Pristiawan.

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSUP Persahabatan Jakarta, Prasenohadi lebih menyoroti langkah pencegahan dari masyarakat. Melonjaknya pasien Covid-19, RS yang kewalahan serta krisis oksigen berujung kematian sedianya bisa dicegah oleh masyarakat itu sendiri dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. “Cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, stay at home. Ikut vaksin,” kata Prasenohadi.

Sedangkan bagi keluarga pasien, kejadian pada periode 3-4 Juli lalu hingga kini masih berbekas. Kesedihan di antaranya masih dirasakan oleh Baryanto. Ia mengkritisi kebijakan pemerintah yang menurutnya belum maksimal dalam penanganan Covid-19 sehingga ibunya turut menjadi korban.

“Saya lebih ke kebijakan pemerintah untuk dimaksimalkan penanggulangan Covid tidak tersentral di satu rumah sakit sehingga terjadi begini. Kalau RS lain enggak menolak, enggak ada kejadian seperti ini. Pihak berwenang seperti Kemenkes berikan perintah agar RS tak menolak pasien. Kondisinya sekarang RS masih menolak,” kesal Baryanto.