Atasi BOR Penuh, Bantul Tambah 30 Bed di RS Lapangan

Ilustrasi. - REUTERS/Susana Vera
25 Juli 2021 05:27 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul terus berupaya mengatasi persoalan tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) isolasi dan perawatan intensif (critical bed) pasien Covid-19. Salah satunya dengan menambah tempat tidur di sejumlah rumah sakit rujukan dan RS Lapangan Khusus Covid-19 (RSLKC) Bambanglipuro.

Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja mengungkapkan, saat ini pihaknya memang mengalami masa sulit terkait dengan BOR isolasi dan critical bed pasien Covid-19. Di mana, BOR sejumlah rumah sakit rujukan dan RSLKC Bambanglipuro selalu mengalami kondisi yang hampir penuh. Oleh karena itu, berdasarkan rapat koordinasi dengan pemerintah pusat, akan ada penambahan jumlah tempat tidur, baik untuk rumah sakit rujukan dan RSLKC Bambanglipuro.

“Di RSLKC ini kami akan tambah 30 bed. Dari awalnya 50 bed. Jadi nanti total ada 80 bed. InsyaAllah paling lama dua pekan, kita bisa sudah bisa tambah 30 bed. Begitu juga dengan RSPS [Rumah Sakit Panembahan Senopati] Bantul yang akan ditambah ICU dan rawat Covid-19. PKU Muhammadiyah juga akan menambah IGD. Semua difasilitasi pemerintah pusat,” katanya, Sabtu (24/7/2021).

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno mengatakan hingga Sabtu (24/7/2021) BOR isolasi pasien Covid-19 di rumah sakit rujukan Covid-19 dari 342 bed, telah terpakai 93,27% atau 319 bed.

“Sedangkan untuk BOR critical bed ada 38 dan sudah penuh. Karena, memang banyak pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat,” jelasnya.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di DIY Bertambah 1.628 Orang

Sementara terkait dengan kebutuhan oksigen, Agus menambahkan, saat ini pihaknya belum pernah mengalami kedaruratan terkait ketersediaan oksigen. Hingga Sabtu (24/7/2021), Agus mengaku masih memiliki stok oksigen yang baru saja dipasok oleh produsen oksigen Samator. “Ada 30 tabung dari Samator dan aman,” ungkap Agus.

Selain itu, Agus mengaku pihaknya akan memaksimalkan 135 unit oksigen konsentrator. Alat ini bisa mengonversi udara menjadi oksigen medis dengan hanya disambungkan ke aliran listrik. Alat ini juga dinilai bisa menggantikan peran tabung oksigen di ruang-ruang isolasi di rumah sakit. Terlebih, alat tersebut memiliki kapasitas 5-10 liter per menit.

“Ini sudah mulai kami pakai di selter kabupaten dan RSLKC. Sementara lainnya kami pinjamkan di selter kalurahan,” jelasnya.