Anak dan Istrinya Kelaparan, Sopir Taksi Jogja Telanjang Dada Protes PPKM

Bambang Sri Sabdono mengusung poster protes saat aksi tunggal memprotes penerapan PPKM di perempatan Balai Kota Jogja, Kamis (29/7/2021)-Harian Jogja - Yosef Leon
29 Juli 2021 18:37 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Seorang sopir taksi yang tergabung dalam Perkumpulan Pengemudi Taksi Argometer Yogyakarta (Perpetayo) mengadakan aksi tunggal di perempatan Balai Kota Jogja pada Kamis (29/7/2021). Dalam aksinya, sopir taksi atas nama Bambang Sri Sabdono yang merupakan warga Ngampilan, Kota Jogja itu memprotes aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM_ yang dinilainya berdampak serius terhadap pendapatannya.

Aksi yang digelar Bambang cukup unik. Dia bertelanjang dada bercoretkan spidol sambil membawa poster tuntutan dan berjalan dari depan SPBU Timoho ke perempatan Balai Kota Jogja. Di punggungnya tertulis suara protes 'Stop PPKM' dan di dada hingga perut terpampang tulisan 'Kesuwen Iso Edan', sementara pada poster yang diusungnya di bagian depan diisi dengan tulisan 'Pak Presiden Kami Sudah Menyerah' kemudian pada poster bagian belakang lebih keras lagi yakni 'Kami Tidak Takut Corona, Kami Takut Anak Istri Kami Lapar.'

Aksinya hanya berlangsung kurang lebih 30 menit saja. Banyak masyarakat di sekitar lokasi merasa geli saat melihat aksi Bambang. Bahkan tak sedikit pula yang mengabadikan unjuk rasa tunggalnya itu dengan smartphone masing-masing. Begitu pula dengan para pengendara yang kebetulan melintas atau yang tengah menunggu lampu APILL di sana, banyak yang melirik geli kepada Bambang. Bahkan ada satu pengendara yang melintas dan berteriak "tolak PPKM, semangat pak" dan kemudian memacu sepeda motornya.

BACA JUGA: Penipu Mengaku Bagian dari KPK Berkeliaran

Tak hanya itu, aksi Bambang bisa juga terbilang nekat dan agak berbahaya. Sebab, dia sempat berdiri di tengah perempatan Balai Kota Jogja itu selama kurang lebih 10 menit hingga cukup berbahaya jika tertabrak kendaraan yang tengah melintas. Namun dia hanya berceletuk singkat dan sedikit mengguyon, "biar langsung viral terus diamplopin sama Pak Presiden," kata dia.

Saat ditemui setelah aksi, Bambang mengatakan sengaja melakukan aksi tunggal dengan agak unik itu. Dia ingin agar pemerintah merespons suara protesnya tersebut. Apalagi di masa PPKM sekarang dilarang untuk mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Sehingga dengan seorang diri saja dia telah mematuhi aturan terkait protokol kesehatan. Namun yang jauh lebih penting menurutnya adalah selama PPKM diberlakukan profesinya sangat terdampak karena banyaknya penyekatan dan penutupan tempat wisata.

"Saya mewakili teman-teman profesi taksi plat kuning merasa sangat keberatan dengan PPKM sehingga anak istri kelaparan," katanya.

Bambang mengungkapkan, di masa normal dia kerap mangkal di depan hotel Tentrem Jogja. Dengan mewabahnya pandemi Covid-19 otomatis pendapatan berkurang. Namun tidak seperti di saat penerapan PPKM yang aktivitas pariwisata benar-benar terhenti sehingga pendapatannya benar-benar terdampak. Ditambah lagi dengan adanya penyekatan di sejumlah perbatasan wilayah, membuat profesi Bambang yang mengandalkan tamu luar daerah menjadi seret.

"Dampaknya sangat susah. Keluarga terancam, hutang bertambah dan pemerintah juga tidak memperhatikan kami. Dari dulu sampai sekarang PPKM terus berlanjut," ucapnya.

Perhatian dari pemerintah dikatakan Bambang bukan dalam bentuk bantuan. Dia hanya berharap agar aturan PPKM dihentikan, sehingga sektor transportasi bisa kembali beroperasi. "Harapan kami agar pemerintah bisa memperhatikan sopir transportasi supaya bisa bekerja, kami bukan minta bantuan," katanya.

Ketua Perpetayo, Muhammad Amin Abdulloh mengatakan, profesi sopir taksi merupakan salah satu dari sekian sektor yang juga ikut terdampak dari adanya PPKM. Pihaknya pun segera beraudiensi kepada DPRD DIY untuk menyampaikan keresahan yang dialami selama PPKM berlangsung. "Besok pagi kami akan audiensi kepada Komisi D DPRD DIY. Harapan kami ada solusi yang baik bagi teman-teman sopir," ujar dia.