Advertisement

Obat Covid-19 Favipiravir di Kota Jogja Tinggal Tersisa untuk 90 Pasien

Yosef Leon
Selasa, 03 Agustus 2021 - 18:07 WIB
Bhekti Suryani
Obat Covid-19 Favipiravir di Kota Jogja Tinggal Tersisa untuk 90 Pasien Foto ilustrasi. - Reuters/Srdjan Zivulovic

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menyebutkan stok obat Favipiravir yang biasa digunakan sebagai obat terapi bagi pasien Covid-19 hanya tersisa sebanyak 3.700 butir. Jumlah itu diperkirakan hanya cukup digunakan untuk kebutuhan kurang dari 100 pasien.

"Cuma 3.700 butir tersisa dan itu hanya cukup untuk 90 pasien," kata Kepala Dinkes Kota Jogja Emma Rahmi Aryani, Selasa (3/8/2021).

Emma mengakui bahwa jumlah itu sangat terbatas. Pihaknya juga telah melakukan sejumlah hal termasuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencukupi kebutuhan obat terapi bagi pasien Covid-19.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

"Kalau memang sangat dibutuhkan kita sifatnya kolaborasi saja nanti. Misalnya dari TNI/Polri kan juga sudah mengedarkan beberapa waktu lalu," ujarnya.

BACA JUGA: Covid-19 DIY Bertambah 1.445 Kasus

Beberapa waktu lalu, Dinkes Kota Jogja juga juga bersurat kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta Pemda DIY soal pemenuhan stok obat itu. Hanya saja, karena kondisi stok yang belum memadai penyediaan obat menjadi agak terkendala.

"Sampai sekarang kami masih menunggu penyediaannya bagaimana. Juli itu sudah berkirim surat kembali, kami tidak hanya meminta, tapi kami juga membeli. Namun karena stoknya tidak ada mau bagaimana," ungkapnya.

Obat Favipiravir, kata Emma awalnya hanya belum digunakan secara teratur untuk penanganan pasien Covid-19. Pemakaian obat itu mulai dilakukan saat kasus Covid-19 meledak di DIY beberapa waktu lalu. Dia menjelaskan, Dinkes melalui puskesmas sebelum penggunaan obat itu hanya memberikan vitamin, multivitamin, madu dan juga suplemen mengandung Zinc kepada penderita Covid-19 melalui Puskemas.

"Awalnya kan hanya tersedia di Rumah Sakit, sebelumnya itu Oseltamivir. Nah kemunculan kasus besar itu baru didistribusikan ke puskesmas. Tapi jumlahnya sedikit, 1 puskesmas bisa 20 butir itupun tidak semua puskesmas," kata dia.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Blogger Ini Kunjungi 91 Negara untuk Cari Toilet Terburuk, Salah Satunya Ada di Indonesia

News
| Selasa, 27 September 2022, 18:17 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement