Merapi Masuk Fase Ekstrusi, Masyarakat Diimbau Hindari Sungai

Gunung Merapi dilihat dari Jurangjero, Srumbung, Kabupaten Magelang, 7 Januari 2021. - Harian Jogja/Nina Atmasari
14 Agustus 2021 01:17 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Gunung Merapi yang telah ditetapkan Erupsi sejak 4 Januari lalu, saat ini tengah kembali memasuki masa ekstrusi. Masyarakat di sekitar Merapi diimbau untuk tidak beraktivitas di sungai khususnya pada sungai di sisi barat daya dan tenggara.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menjelaskan Merapi kembali memasuki fase ekstrusi mulai 6 Agustus. “Ditandai dengan menurunnya aktivitas kegempaan yang diikuti meningkatnya guguran dan awan panas,” ujarnya, Jumat (13/8/2021).

Fase ekstrusi terjadi setelah Merapi melalui masa intrusi yang berlangsung pada April hingga awal Agustus lalu. Dalam fase intrusi, terjadi tekanan magma dari dalam menuju permukaan. Kemudian pada fase ekstrusi, magma yang sudah berada di permukaan ini akan keluar menjadi guguran lava dan awan panas.

Baca juga: Kasus Aktif di Sleman Belum Beranjak Dari 6.000 Kasus

Sebelumnya, Merapi juga telah memasuki masa intrusi pada Oktober hingga Januari, yang kemudian dilanjutkan dengan fase ekstrusi pada Januari sampai April. Pada fase ekstrusi, meski kegempaan menurun, masyarakat diimbau lebih waspada karena guguran dan awan panas akan lebih banyak terjadi.

“Dalam fase ekstrusi justru kita harus hati-hati. Awan panas masih mengancam ke daerah potensi bahaya seperti sungai Bebeng sejauh 5 km. Maka kami harap tidak lakukan aktivitas di alur sungai, karena sangat berpotensi. Kecepatan awan panas Merapi bisa samai 100 km per jam. Kalau di sungai apa bisa lari?” ungkapnya.

Dengan banyaknya awan panas yang terjadi, akan berdampak pada kemunculan hujan abu seperti yang sudah terjadi di sekitar Magelang. Abu vulkanik dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan kulit dan pernafasan. Maka ia mengimbau masyarakat untuk juga mengantisipasi bahaya ini, salah satunya dengan memakai masker.

Baca juga: Covid-19 di DIY Belum Landai, Pemda Minta Warga untuk Tetap Mengurangi Mobilitas

Berdasarkan foto dari stasiun kamera, volume kubah lava barat daya saat ini 1,8 juta meter kubik dengan laju pertumbuhan rata-rata 13.000 meter kubik per hari. Sementara volume kubah lava tengah kawah sebesar 2,8 juta meter kubik dengan laju pertumbuhan rata-rata 18.000 meter kubik per hari.

Dalam sepekan terakhir, 6-12 Agustus, terjadi 28 awan panas dengan jarak luncur maksimal 3 km dan 252 guguran lava dengan jarak luncur maksimal 2 km. Aktivitas ini lebih tinggi dari sepekan sebelumnya, yakni tujuh awan panas dengan jarak luncur maksimal 2 km dan 84 guguran lava dengan jarak luncur makimal 2 km.

Potensi bahaya yang telah ditetapkan berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.