Berharap Bisa Kuliah Luring, Pengurus BEM di DIY Dukung Vaksinasi

Sejumlah pengurus BEM di DIY saat diskusi penanganan Covid-19, Sabtu (28/8/2021). - Harian Jogja/Sunartono
28 Agustus 2021 16:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sejumlah pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa kampus di DIY mendukung pelaksanaan vaksinasi yang saat ini sedang digencarkan pemerintah. Melalui banyaknya masyarakat yang divaksinasi tersebut diharapkan kuliah tatap muka atau luring bisa segera digelar.

Koordinator BEM Nusantara Achmad Mubarok mengatakan, kuliah tatap muka menjadi harapan sebagian besar mahasiswa di DIY. Namun karena masih pandemi sehingga belum bisa dilakukan, akibatnya perkuliahan masih secara online. Dengan adanya program vaksinasi ini harapannya kasus Covid-19 bisa terus menurun dan perkuliahan luring dapat digelar.

"Kami berharap ada percepatan vaksinasi untuk mahasiswa baik yang saat ini masih tinggal di Jogja maupun yang bertahan di kampung halaman mereka. Kami siap mengoordinasikan terkait vaksinasi untuk mahasiswa. Termasuk penyaluran bansos ini harapannya bisa tepat sasaran," kata pemuda yang juga Ketua BEM Universitas Janabadra ini, Sabtu (28/8/2021).

Pernyataan itu disampaikan bersama sejumlah pengurus BEM lainnya, antara lain Ketua DEMA UIN Sunan Kalijaga, Mochammad Ja'far Amri, Ketua BEM STIE Widya Wiwaha Angki, Ketua BEM ISI Jogja Arif Rahman Saleh dan Ketua BEM STMIK Akakom, Fahreza Alvindo.

"Terutama mahasiswa pendatang ini butuh sekali vaksinasi, apalagi vaksinasi ini menjadi syarat berbagai aktivitas, bahkan kuliah tatap muka. Sehingga kami berharap ada percepatan, saya melihat antusias mahasiswa sangat tinggi," katanya Mochammad Ja'far Amri.

Para mahasiswa menilai desakan untuk segera dilakukannya kuliah tatap muka memang hal yang wajar, karena selama ini pelaksanaan kuliah daring tak sepenuhnya efektif. "Kami dapat kuota 15 giga sebulan, itu untuk kuliah online hanya cukup untuk sepekan. Belum lagi teman kami yang di pelosok kesulitan mengakses. Selain soal keterbatasan fasilitas, kami juga mengalami kendala terbatasnya pemahaman atas materi, sangat berbeda dengan saat kuliah tatap muka," imbuh Fahreza Alvindo.

Arif Rahman Saleh menambahkan jika kuliah tatap muka digelar, ia ingin melakukan pembenahan organisasi internalnya agar berjalan lebih baik. Karena selama pandemi dengan adanya pembatasan mobilitas membuat kegiatan BEM ikut terkendala. "Tetapi ada beberapa yang berjalan, seperti BEM di tiga fakultas di ISI memberikan bantuan bagi yang isoman dengan memberikan makanan, sehari sekitar 80 porsi kami distribusikan," ucapnya.

Angkie menambahkan vaksinasi saat ini sudah menjadi kebutuhan baik secara administratif maupun kesehatan. Karena dengan kartu vaksin masyarakat mendapatkan kemudahan mobilitas, di sisi lain vaksinasi juga efektif dapat menekan kasus Covid-19. "Harapannya segera mencapai herd immunity dan kami mahasiswa segera mendapatkan haknya yaitu kuliah offline," ujarnya.