Dari Pengasih, Kap Lampu Mujimin Tembus Negara Sakura

Mujimin, 45, mempraktikkan pembuatan kap lampu berbahan bambu di rumahnya di Pengasih, Kulonprogo, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
28 Agustus 2021 21:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kap lampu berbahan bambu produksi Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo tak hanya diminati konsumen lokal. Produk besutan warga Bumi Binangun tersebut juga sampai mancanegara, khususnya Jepang. Bagaimana kisahnya, berikut laporan wartawan Harian Jogja, Hafit Yudi Suprobo.

Mulanya, Mujimin, 45, warga Sidomulyo, Pengasih, Kulonprogo, ingin merintis usaha dari bambu. Ia memutar otak untuk membuat bambu yang tersedia banyak di Kulonprogo menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Lantas terlintas di benak Mujimin untuk membuat kap lampu berbahan baku bambu.

"Selain membuat produk olahan bambu berupa kap lampu, saya juga membuat produk olahan bambu lain berupa nampan," kata Mujimin pada Kamis (12/8/2021).

Pembuatan produk olahan bambu berupa kap lampu ini harus melalui sejumlah tahapan. Pertama-tama, ia harus memotong sebilah bambu terlebih dahulu. Kemudian proses merakit kap lampu dilakukan dengan perlahan.

"Untuk bahan baku bambu kami memanfaatkan tanaman bambu yang ada di sekitar rumah, jadi tidak harus jauh-jauh mencari. Untuk ukurannya juga disesuaikan permintaan pelanggan," ujar Mujimin.

Dalam memproduksi produk olahan bambu, Mujimin menemukan sejumlah kendala. Salah satunya adalah kendala sumber daya manusia (SDM). Minat generasi muda dalam mengikuti jejaknya ternyata masih minim. Padahal, jika generasi muda ingin telaten dan mengetahui proses pembuatan kap lampu dengan saksama, pundi-pundi rupiah sudah terhampar di depan mata.

"Sekarang ini susah cari anak-anak muda yang mau kerja kayak gini, semoga saja ke depan makin banyak yang mau ikut terlibat," kata Mujimin.

Produksi kap lampu berbahan bambu yang dibuat oleh Mujimin dibantu tiga karyawannya ternyata dilirik masyarakat di DIY. Dalam sehari, ia dan tiga karyawannya bisa membuat 15 sampai dengan 20 kap lampu. "Sebelum dipasarkan ke luar masyarakat di dalam negeri harus mengerti dulu produk kami. Alhamdulillah respons warga terhadap produk kami juga baik," kata Mujimin.

Nasib mujur menaungi Mujimin. Ibarat kata usaha tak pernah mengkhianati hasil. Kap lampu berbahan baku lampu besutan Mujimin menembus dilirik konsumen dari Negeri Sakura.

Beberapa waktu lalu, ia mendapatkan pesanan sebanyak 3.500 kap lampu berbahan bambu. Warga Jepang ternyata berminat menjajal kap lampu berbahan bambu buatan Mujimin.

"Sebelum bisa diekspor, kami telah mengajukan beberapa sampel, ternyata sangat diminati mereka, sehingga langsung memesan dalam jumlah banyak," ujar Mujimin.

Pesanan kap lampu tersebut menjadi berkah sendiri bagi Mujimin, karena pesanan datang saat pandemi Covid-19. Terlebih, saat ini pemerintah masih memberlakukan PPKM yang dampaknya juga dirasakan Mujimin.

"Syukurlah ada pesanan, di tengah kondisi kayak gini. Alhamdulillah usaha saya jadi terbilang cukup berkembang dan mulai bisa ekspor ke Jepang. [kap lampu] buat memenuhi kebutuhan ornamen salah satu hotel di sana," kata Mujimin.

Menurutnya, produk kap lampu diminati warga mancanegara karena mereka suka dengan kreativitas orang Indonesia dalam membuat kerajinan bambu.

Kesuksesan Mujimin yang mampu meraih kepercayaan dari pasar internasional tidak luput dari upayanya beserta karyawannya menjaga kualitas kap lampu.

Setiap produk yang dibuatnya memang selalu dipastikan tidak ada cacat. Selain kegigihannya dalam mempertahankan kualitas, ketepatan waktu pembuatan juga menjadi perhatian Mujimin.

Semua pesanan dari konsumen luar negeri bisa ia penuhi tepat waktu.

Selain produk kap lampu bambu, Mujimin juga membuat kerajinan bambu lain, salah satunya nampan. Produk ini juga berhasil diekspor ke berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Malaysia, Amerika Serikat dan Singapura.

Bupati Kulonprogo Sutedjo menilai Kabupaten Kulonprogo memiliki peluang dan potensi yang sangat besar untuk mengembangkan diri melalui pemasaran produk-produk UMKM sebagai bahan ekspor.  “Namun memang ada berbagai keterbatasan yang sesungguhnya keterbatasan tersebut dapat dikelola melalui pelatihan atau motivasi-motivasi kepada pelaku UMKM di Kulonprogo," kata Sutedjo.