Tak Ada Penjagaan, Banyak Wisatawan Masuk ke Objek Wisata di Merapi

Wisatawan mulai ramai mendatangi Bukit Klangon di Glagaharjo, Cangkringan, Minggu (13/9/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
06 September 2021 05:17 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Meski belum beroperasi, sejumlah objek wisata khususnya alam di Sleman tetap bisa diakses oleh pengunjung. Tidak ada penjagaan di jalur-jalur atau loket menuju objek wisata tersebut. Pada akhir pekan, pengunjung didominasi oleh pesepeda.

Lurah Glagaharjo, Suroto, mengakui jika saat ini bukit Klangon masih bisa diakses pengunjung, terutama para pesepeda. Ia juga menyebutkan tidak ada penjagaan di jalur masuk bukit Klangon. Bahkan, di dalam tetap ada penjaga parkir. “Ada yang jaga parkir,” ungkapnya, Minggu (5/9/2021).

Sementara di Kaliurang, pengunjung masih bebas masuk tanpa ada penjagaan baik di jalur maupun loket. Pada Minggu (5/9/2021) pagi, cukup banyak pesepeda yang masuk kawasan Kaliurang.

Baca juga: Pintu Masuk Parangtritis Disekat, Pengunjung Putar Balik

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Supramono, menjelaskan objek wisata seperti Kaliurang berada di tengah permukiman masyarakat sehingga tidak bisa serta merta ditutup jalurnya, karena untuk akses keluar-masuk warga juga.

Meski demikian ia memastikan objek wisata di dalam Kaliurang tetap ditutup. “Objeknya tetap tutup, seperti taman, gardu pandang, terus Telogo Putri masih tutup semua. Kami memang belum bolehkan buka,” ujarnya, Minggu (5/9/2021).

Sementara untuk objek wisata Klangon, ia mengakui memang bukan di area permukiman dan seharusnya tetap ditutup. Di satu-satunya jalan masuk Klangon, sebenarnya sudah diberi palang bambu, namun masih menyisakan sedikit sisi terbuka yang muat dimasuki satu mobil. “Seharusnya ditutup, nanti coba saya komunikasikan dengan pengelolanya,” katanya.

Baca juga: Mahasiswa UGM Bikin Permen Anti Diabetes dari Kulit Salak

Meski demikian, di bukit Klangon juga sering dijadikan jalur pencari rumput yang menggunakan motor untuk mencari rumput di sebelah utara Klangon. Namun terbukanya akses ini pun kemudian dimanfaatkan pengunjung yang ingin datang.

Untuk dapat memisahkan kepentingan warga dan pengunjung, ia berharap pengelola bersama Satgas Covid-19 tingkat kapanewon dan kalurahan dapat bekerja sama. “Mereka bertugas mengingatkan, kalau untuk wisata sebenarnya belum boleh,” ungkapnya.

Ia juga mengakui jika kebanyakan pengunjung di kedua objek wisata tersebut adalah pesepeda, karena biasanya pesepeda mencari destinasi tertentu setelah melewati rute ke arah utara. Tak jarang pihaknya juga menerima keluhan dari warga terkait aktivitas wisata ini.

Jika mendapat laporan, ia pun segera menegur pengelola. “Sering kami mendapat keluhan, sekarang sosial media itu kan gampang. Warga melaporkan ke kami. lalu kami kontak pengelolanya, tolong masih tutup, belum boleh buka,” kata dia.