Sepi Wisatawan, Perajin Makanan Geplak Keluhkan Penurunan Penjualan

Pengrajin geplak menunjukkan produk olahannya pada Kamis (9/9/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.
10 September 2021 10:57 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, KRETEK - Penjualan jajanan oleh-oleh khas Jogja ikut lesu akibat penutupan destinasi wisata. Perajin makanan jenis geplak sebagai oleh-oleh khas Jogja mengeluhkan penurunan penjualan karena sepinya wisatawan.

Di sentra geplak Galan, Tirtosari, Kretek, Bantul sejumlah pengrajin terpaksa mengurangi jumlah produksi selama pandemi. Salah satu pengrajin geplak, Warjo mengaku produksi geplak rumahan miliknya turun hampir 50 persen selama pandemi. "Dulu kalau sekali produksi habis 250 buah kelapa, sekarang cuma 150 buah kelapa," ujarnya pada Kamis (9/9/2021).

Dari 150 buah kelapa, Warjo dapat memproduksi geplak sebanyak 800 kemasan ukuran normal. Kemasan geplak siap jual, selanjutnya akan dititipkan ke sejumlah pasar dan pusat oleh-oleh. "Nanti dititipkan ke pedagang Pasar Imogiri, Pasar Kotagede, toko-toko oleh-oleh di Banguntapan," ungkapnya.

BACA JUGA : Nasib Bakpia di Tengah Corona, dari Oleh-oleh Kini

Namun sepinya wisatawan yang mampir ke Jogja secara drastis juga berpengaruh kepada penjualan geplak. Banyak geplak yang dititipkan tak laku dan para pedagang mengurangi jumlah pesanan geplak. "Kalau toko besar biasanya minta 200 kemasan, nanti yang menunggu toko bilang lagi sepi, minta dikurangi, ya nitipnya jadi 150 kemasan. Nanti yang 50 kemasan kita titipkan ke pedagang yang lain," paparnya.

"Misal sekali berangkat bawa 800 kemasan, nanti seminggu kemudian yang balik 300 kemasan ya ada. Kalau enggak corona, yang balik sedikit, bawa segitu kadang kurang-kurang," tuturnya.

Selama pandemi omzet usaha geplak milik Warjo mengalami penurunan. Hasil penjualan selama pandemi hanya menyisakan untung sedikit, jauh dari kondisi saat normal. "Ya kurang lebih sisa sedikit lah dari uang modal," ungkapnya.

BACA JUGA : Manisnya Geplak ala Kulonprogo

Kini Warjo paling-paling memproduksi geplak sepekan sekali, padahal saat normal terlebih musim liburan, perputaran geplak sangat cepat. Bahkan dalam sepekan Warjo kudu memproduksi geplak dua kali.

Penrajin geplak lainnya, Nijah juga mengaku beberapa geplak titipannya banyak yang kembali selama pandemi. Nijah tetap mempertahankan jumlah produksi 125 buah kelapa per hari atau setara 500 kemasan geplak.

Geplak produksi Nijah dititipkan ke sejumlah pedagang di kawasan Gamping. "Sekali berangjat 600 semua ditipkan, cuma tetap bawa balik. Kalu sudah sepekan minta balik, ganti geplak yang baru," ujarnya

Kepala Padukuhan Galan, Arif Rudianto menceritakan sudah sejak lama masyarakat Galan berkecimpung dalam produksi geplak. Menurut Arif setidaknya produksi geplak di Galan sudah ada sejak tahun 1950. Kini pembuatan geplak turun menurun ke ahli waris. "Kalau sentra geplak ini sudah turun temurun. Dari tahun 1950, terus turun ke anak-anaknya. Dari satu, sekarang ada empat rumah yang memproduksi geplak," katanya.

"Geplak itu kan makanan khas dari Bantul lah itu. Sayang kalau ditinggalkan, soalnya turun temurun. Terus pemasarannya juga gampang, ramai kalau tidak pandemi," ucapnya.