Update Kasus Daycare Jogja, Puluhan Anak Alami Gangguan Tumbuh Kembang
Dinkes Jogja temukan 30 anak daycare alami gangguan gizi dan tumbuh kembang. Penanganan terapi dan pemulihan sedang dilakukan.
Pasar Sentul Jogja - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah pedagang Pasar Sentul mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat omzet pedagang menurun drastis hingga kesulitan membayar biaya retribusi pasar.
Salah satu pedagang rujak es krim, Sri Rahayu, mengatakan penjualannya kini jauh menurun dibandingkan saat masih berjualan di Alun-Alun Sewandanan. Saat itu, ia mampu menjual hingga 100 porsi per hari, sedangkan kini di Pasar Sentul hanya sekitar lima porsi per hari.
“Sekarang paling cuma lima porsi per hari,” ujarnya saat ditemui di Pasar Sentul, Selasa (4/11/2025).
Dengan kondisi tersebut, omzet yang diperoleh per hari maksimal sekitar Rp100.000. Jumlah itu menurutnya jauh dari sebelumnya yang bisa mencapai jutaan rupiah.
Sri mengaku hal ini cukup memberatkan, terutama karena pedagang masih diwajibkan membayar retribusi sebesar Rp700.000 setiap empat bulan.
Menurutnya, pembeli yang datang ke area kuliner Pasar Sentul sebagian besar merupakan petugas dan pedagang di pasar itu sendiri, bukan pengunjung umum. “Yang beli orang pasar sendiri, petugas keamanan dan ketertiban (Kamtib), bakul di bawah,” katanya.
Ia menilai lokasi kios kuliner yang berada di bagian dalam pasar membuatnya sulit terlihat dari luar sehingga tidak menarik banyak pengunjung.
“Harapan kami pasar bisa kembali ramai, soalnya sekarang sehari kadang enggak ada yang beli,” ujarnya.
Sri menambahkan jumlah pedagang yang masih aktif berjualan di area kuliner Pasar Sentul juga semakin sedikit. Dari sekitar 30 kios yang tersedia, kini hanya 10 kios yang masih beroperasi.
“Yang aktif cuma sepuluh, pagi tujuh, malam tiga [kios yang beroperasi]. Ada yang jual gado-gado, jus, buka dari jam 09.00–16.00 WIB,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan keringanan seperti pembebasan retribusi sebagai bentuk dukungan bagi pedagang kecil agar tetap bisa bertahan.
Sementara itu, pedagang kupat tahu dan ketoprak, Supriyatin, menyayangkan meski kondisi Pasar Sentul kini sudah bersih dan tertata, jumlah pembeli justru terus menurun.
“Pengunjung malah terus menurun. Tempatnya bersih dan bagus, tapi ya tetap sepi [pembeli]. Banyak makanan [stok penjualan] yang terbuang,” ujarnya.
Para pedagang berharap ada perhatian dari Pemkot Jogja agar Pasar Sentul kembali ramai dan dapat menjadi salah satu pusat kuliner yang diminati masyarakat seperti sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Jogja temukan 30 anak daycare alami gangguan gizi dan tumbuh kembang. Penanganan terapi dan pemulihan sedang dilakukan.
Pemkab Sleman mengalokasikan Rp8,6 miliar untuk pemeliharaan jalan desa pada 2026. Sebanyak 86 desa mendapat Rp100 juta.
Kemnaker membuka sertifikasi kompetensi gratis bagi alumni magang nasional hingga 15 Mei 2026 dengan sertifikat resmi BNSP.
PDAB Tirtatama DIY mengusulkan kenaikan tarif air curah Rp500 per meter kubik untuk menekan subsidi Pemda DIY yang membengkak.
Anthony Ginting menghadapi Shi Yu Qi pada hari kedua Thailand Open 2026. Berikut jadwal lengkap 10 wakil Indonesia di Bangkok.
Lima weton diprediksi perlu ekstra waspada pada Rabu Kliwon 13 Mei 2026, mulai konflik hingga persoalan finansial.