Harga Telur Anjlok, Peternak Bantul Tekor

Ilustrasi telur ayam. - Antara
11 September 2021 19:47 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Harga telur ayam yang jatuh secara nasional membuat peternak ayam petelur di Bantul tekor. Harga pakan yang kian hari kian naik makin memperparah kerugian yang ditanggung para peternak.

Peternak ayam petelur Ngepet, Srigading, Sanden, Teni Irmawanto, menyebutkan harga jual telur ayam dari peternak kini Rp15.000 per kilogram. Harga tersebut merugikan peternak. “Pakannya mahal harga telurnya murah," ujarnya pada Sabtu (11/9/2021).

BACA JUGA: Sekarang, STRP Tak Berlaku di Stasiun. Begini Cara Pakai Aplikasi PeduliLindungi

Harga pakan yang naik diduga Teni terjadi karena sulitnya pakan impor masuk. Padahal setidaknya Teni mengeluarkan modal untuk pakan sebesar Rp1,5 juta lebih untuk 240 kilogram pakan per hari.

Dengan populasi 2.000 ekor ayam di kandangnya, Teni mampu memproduksi sekitar 100 kilogram telur. Bila harga jual telur ayam dipatok Rp15.000 per kilogram dikali jumlah produksi, Teni baru mendapat pendapatan sekitar Rp1,5 juta. Itu sama saja dengan biaya pakan, belum biaya lainnya.

"100 kilo dikali Rp15.000 baru Rp1,5 juta sudah minus Rp75.000 untuk pakan. Belum tenaga, belum obat," ujar dia.

Penurunan harga jual telur ayam terjadi sejak pandemi. Namun kondisi parah terjadi selama PPKM diterapkan. Teni mencatat harga jual telur ayam terparah terjadi di awal pandemi, yakni di angka Rp11.000 per kilogram. Sedangkan selama PPKM harga telur ayam berangsur merosot dari harga normalnya Rp19.000 kini hanya di angka Rp15.000 per kilogram.

BACA JUGA: Akhir Pekan, Ini 6 Titik Penyekatan di Kota Jogja

Menurut Teni, sesekali harga telur ayam memang naik mencapai Rp20.000 per kilogram saat ada pembagian bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Itu pun hanya berlangsung kurang lebih lima hari saat pembagian bantuan dilakukan, setelah itu turun lagi.

"Kalau untung itu di harga Rp19.000 sudah ada sisa. Nanti pakannya di Rp5500 - 6000 masih ada sisa," ujarnya.

Saking lamanya pandemi berlangsung, Teni mengurangi populasi ayam petelur budi dayanya sekitar 80 persen. "Dari 10.000 sekarang cuma melihara 2.000, karena pandemi," ungkapnya.

Teni berharap pandemi segera usai. Dengan demikian harga-harga berbagai komoditas termasuk telur bisa segera normal dan perekonomian peternak bisa kembali normal.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPPKP Bantul Joko Waluyo tak menampik anjloknya harga telur tengah terjadi di tengah harga pakan yang terus naik. Menurutnya harga telur saat ini berada di bawah BEP yang merugikan peternak.

Berdasarkan catatan Joko, di Bantul setidaknya ada 800.000 ekor ayam petelur yang tersebar di daerah Pajangan. Dari jumlah itu produksi telur sekitar 70 persen dari populasi.

"Sifatnya tidak tahunan penurunan harganya. Sebenarnya harga itu sudah turun sejak lama, sudah dua tiga bulan yang lalu," ujarnya.

BACA JUGA: Ingin PTM Segera Dibuka, Siswa Antusias Ikut Vaksinasi Covid-19

Dalam waktu dekat, Joko akan bertemu dengan Bupati Bantul untuk membicarakan kondisi anjloknya harga telur yang merugikan para peternak. Di sisi lain pihaknya akan melihat apakah kemungkinan operasi pasar bisa dilakukan untuk mengatasi problem yang tengah terjadi.

"Kami hanya bisa membantu penyerapan produksi telur lewat PKH. Kami juga akan mengadakan operasi pasar, untuk mencoba melihat kondisi di pasar seperti apa," ucap dia.