WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Mahasiswa Papua Kota Studi Jogja menyatakan sikap penolakan pada operasi militer di Maybrat, di Asrama Papua Manokwari, Condongcatur, Depok, Sleman, Sabtu (11/9/2021)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Ribuan warga sipil Kabupaten Maybrat, Papua barat memilih mengungsi ke hutan sejak 3 September lalu akibat operasi militer. Mahasiswa Papua Kota Studi Jogja mendesak pemerintah untuk segera menarik militer dari wilayah tersebut.
Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Tarik Militer Dari Maybrat dan Seluruh Wilayah West Papua, di Asrama Manokwari, Condongcatur, Depok, Sleman, Sabtu (11/9/2021). Koordinator Mahasiswa Papua Kota Studi Jogja, Yoseph Fatem, menjelaskan akibat operasi militer tersebut, sebanyak 7.000 warga sipil dari lima distrik dan 50 kampung yang harus mengungsi.
“Saat ini para pengungsi sedang tersebar di beberapa kampung tetangga. Ada yang masih bertahan di hutan sejak mereka mengungsi, dengan bahan makanan seadanya. Aktivitas belajar-mengajar pun lumpuh, aktivitas ibadah tidak berjalan, peternakan dan perkebunan milik warga tidak terurus, rumah dan harta benda semua ditinggalkan,” ujarnya.
Ia menceritakan operasi militer tersebut berawal dari penyerangan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) terhadap Porsamil di Kampung Kisor pada 2 September lalu, yang menewaskan empat anggota TNI AD. Insiden ini direspon dengan operasi militer yang hingga kini diperkirakan telah melibatkan lebih dari personel.
Dalam operasi militer ini, pos-pos militer didirikan sepanjang jalan-jalan umum. Warga yang melintas disita identitasnya, barang bawaan disita dan alat perkebunan seperti parang, kampak serta tombak juga diambili. Pada hari pertama, TNI dan Polri menangkap setidaknya dua warga sipil, yakni Simon Waimbewer dan Maikel Yaam. Hingga hari kesepuluh, penangkapan warga sipil terus bertambah.
“Kami menyatakan sikap tegas. Tarik militer dari Kabupaten Maybrat,-Aifat, Nduga, Intan Jaya, Puncak Papua dan seluruh tanah Papua. Hentikan operasi militer yang sedang berlangsung hari ini. Bebaskan warga sipil yang ditangkap tanpa syarat. Mereka bukan pelaku. Buka akses jurnalis asing dan independen ke Maybrat dan seluruh tanah Papua,” katanya.
Anggota Mahasiswa Papua Kota Studi Jogja, Maximus Sedik, menuturkan pendekatan militeristik yang selama ini terjadi di Papua mengakibatkan trauma yang membekas di kepala masyarakat. Maka ia mengecam segala bentuk pendekatan militeristik yang dilakukan Pemerintah Indonesia.
“Pemerintah harus menarik militer dari seluruh tanah Papua, untuk keselamatan rakyat Papua sebagai pemilik tanah, yang lahir, hidup dan besar di tanah itu. Mereka berhak untuk kembali beraktivitas,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Primbon Jawa menyebut Jumat Legi dan Jumat Pahing sebagai weton yang memiliki hari naas pada Senin Wage, 1 Juni 2026. Simak penjelasan lengkapnya di sini.
Selain Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026 juga diperingati sebagai Hari Susu Sedunia dan Hari Orang Tua Sedunia. Simak sejarah dan makna ketiga peringatan terseb
Ramalan zodiak Senin 1 Juni 2026 untuk Aries hingga Pisces. Leo diprediksi bersinar, Virgo memperbaiki hubungan, Gemini menemukan peluang karier baru, sementara
Panduan lengkap agenda wisata dan hiburan Jogja Juni 2026. Info jadwal perhelatan Keroncong Plesiran Prambanan, ARTJOG, konser Nadin Amizah, hingga Jogja Marath
Jadwal penutupan pelayanan SIM Ditlantas Polda DIY pada Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Simak aturan ketat dispensasi satu hari bagi SIM yang kedaluwarsa.