Prediksi Swiss vs Kanada: Adu Tajam Demi Puncak Grup B Piala Dunia
Swiss vs Kanada jadi penentu juara Grup B Piala Dunia 2026. Kedua tim sama-sama berpeluang lolos ke fase gugur.
Gubernur DIY sekaligus Raja Ngayogyakarta saat menyaksikan aktivitas penambangan pasir yang merusak alam, Sabtu (11/9/2021). /Ist-Dok pribadi
Harianjogja.com, SLEMAN- Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta dinas terkait untuk menutup penambangan pasir ilegal di sekitar lereng Merapi. Selain merusak alam, penambangan pasir ilegal tersebut sudah berdampak kesulitan warga mencari akses air bersih.
"Ingsun kagungan kersa : Gunung bali gunung, kuwi opo sing bisa tak andhareke marang sliramu kabeh, muga-muga bisa kelaksanan [Saya punya keinginan: gunung kembali menjadi gunung. Itu apa yang bisa saya umumkan pada kalian semua, semoga bisa terlaksana]," ujar Raja Ngyogyakarta Hadiningrat tersebut di hadapan sejumlah warga dan kelompok tani saat beranjangsana di Aula Kalurahan Hargobinangun, Pakem, Sabtu (11/9/2021).
Pertemuan Sultan dengan warga di Aula Kalurahan Hargobinangun juga dihadiri Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dan Lurah Hargobinangun Amin Sarjito.
Baca juga: Kaliurang Tutup, Wisatawan Tetap Berdatangan karena TPR Tak Dijaga
Sultan menginginkan gunung harus dikembalikan sebagaimana mestinya gunung di mana bentang alam lereng Merapi yang awalnya gunung harus kembali menjadi gunung. Hal itu diucapkan Sultan selepas berkeliling meninjau dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir secara sembrono.
Dalam kunjungannya ke lereng Merapi, Sultan mengajak permaisurinya GKR Hemas dan putri keduanya GKR Condrokirono serta cucunya, RM Gusti Lantika Marrel Suryokusumo. Kunjungan yang dilakukan tanpa protokoler itu dimanfaatkan Sultan untuk berkeliling di sejumlah lokasi penambangan.
Mereka menggunakan mobil berpenggerak empat roda, menjelajahi kawasan lereng Merapi. Sultan menyaksikan sendiri lokasi-lokasi penambangan yang rusak yang selama ini tersembunyi. Di antara lokasi yang dikunjungi adalah, Kali Gendol, Kali Opak, Kali Kuning baik di Umbulharjo, Argomulyo, Glagaharjo, Kepuharjo, Cangkringan.
Baca juga: Uji Coba Pembukaan Wisata di DIY Diharapkan Berdampak ke Wisata Lain
Selama lebih dari empat jam berkeliling, Sultan menemui berbagai elemen masyarakat terdampak pertambangan. "Warga sudah lama mengalami kesulitan air akibat muka air tanah yang turun karena penggalian lokasi tambang. Apalagi yang ditambang ini statusnya adalah Sultan Ground, kami nyuwun dhawuh Ngarsa Dalem," ungkap seorang warga yang hadir.
Sejumlah perwakilan kelompok tani Hargobinangun memohon kepada Sultan untuk menutup penambangan, terutama yang ada di Kali Kuning. "Penambangan pasir dengan alat berat di lereng Merapi mohon segera dihentikan, Ngarso Dalem," pinta perwakilan Paguyuban Peduli Kali Kuning, Nur Ahmad, kepada Sultan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Swiss vs Kanada jadi penentu juara Grup B Piala Dunia 2026. Kedua tim sama-sama berpeluang lolos ke fase gugur.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 26 Juni 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Apindo menilai DSI dapat memperkuat pengawasan ekspor dan menekan praktik under invoicing tanpa menambah beban administratif pelaku usaha.
Wakil Gubernur DIY Paku Alam X mengusulkan seluruh jamaah haji DIY menggunakan e-paspor untuk mempercepat layanan imigrasi dan meningkatkan kenyamanan.
Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian pada kasus penyekapan di Bandung dan meminta proses hukum berjalan tegas sesuai aturan berlaku.
Sarjana di Job Fair Kulonprogo berbagi kisah sulit mencari kerja. Ratusan lamaran dikirim, tetapi pekerjaan layak masih sulit didapat.