Food Startup Potensial Dikembangkan di Indonesia

FoodStartup Indonesia (FSI) 2021 di Jogja. - ist.
10 Oktober 2021 10:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.cim, SLEMAN– Meski dalam masa pandemi Covid-19, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) sukses menggelar Demoday sebagai acara puncak FoodStartup Indonesia (FSI) 2021 di Jogja.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo menilai produk-produk kuliner yang dihasilkan finalis FoodStartup Indonesia 2021 memiliki potensi untuk dikembangkan. "Ragam kreasi produk kuliner yang dihadirkan menjadi bukti representasi perkembangan sub sektor andalan ini di berbagai kota di Indonesia," katanya, Sabtu (9/10/2021).

Dia menyebut, beberapa investor yang hadir dalam Demoday FSI kali ini berasal dari kategori Fintech, dan

Venture Capital. Selain investor, FSI 2021 juga menghadirkan berbagai narasumber dan mentor dalam sesi seminar serta coaching yang dilakukan secara online bagi masing-masing finalis.

"Kehadiran berbagai narasumber dan mentor dalam Demoday dapat mempertajam aspek soft skill dan hard skill peserta atas bisnis yang sedang dijalankan. Sehingga peserta Demoday semestinya mengoptimalkan kesempatan langka ini saat sesi seminar dan coaching," katanya.

Even tersebut melibatkan 91 finalis dari 30 kota. Dari jumlah tersebut 15 peserta terpilih melakukan pitching langsung di depan panelis dan investor. Mereka berasal dari 10 food manufacture dan 5 food service dari delapan provinsi. Dari sesi pitching menghasilkan tiga peserta terbaik masing-masing Hejo (Food Manufacture, Jawa Barat), Vilo Gelato (Food Manufacture, Jakarta) dan ketiga Grouu Baby Food (Food Service, Jakarta).

"Adapun penilaian yang diberikan berdasarkan kesiapan produk, keamanan, inovasi, kesiapan pasar, risiko investasi, partnership dan strategi investasi," katanya.

Selain kepada 3 pemenang terbaik, komitmen dukungan diberikan investor kepada banyak finalis lainnya yang memiliki potensi bisnis besar. "Berbagai potensi dukungan ini akan dilakukan langsung oleh masing-masing investor kepada masing-masing pelaku usaha terpilih," katanya.

Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf, Hanifah Makarim mengungkapkan dilihat jenis pendanaan yang dibutuhkan, panitia mengidentifikasi ke dalam lima sumber yaitu bank, equity, fintech, profit sharing dan lembaga pinjaman lainnya.

Dia mengatakan perlu adanya dukungan semua pihak dalam menjadikan pelaku usaha ekonomi kreatif subsektor kuliner terus berkembang dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. "Berbagai jenis pendanaan yang diajukan tersebut tentu saja harus disertai oleh profesionalisme dan akuntabilitas pelaku UMKM sektor kuliner yang mengikuti FSI," kata Hanifah.