Kemenparekraf Kampanye CHSE untuk Membangkitkan Event di DIY

Grup band Pigscamel tampil dalam Pre-event Jogjarockarta Festival 4, di Silol Cafe & Eatery, Rabu (12/2/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
21 Oktober 2021 19:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kemenparekraf mensosialisasikan kampanye Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE) untuk penyelenggaraan acara (event) di Jogja, Kamis (21/10/2021). Kampanye tersebut bertujuan untuk membangkitkan semangat pelaku event di Indonesia agar tetap berkreasi di tengah pandemi.

Kepala Subdirektortat Promosi Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf Hafiz Agung Rifai mengatakan pandemi Covid-19 telah membawa dampak buruk bagi pelaku event seni dan budaya. Banyak kegiatan yang batal digelar. "Karena itu, kami menyusun panduan penyelenggaraan even di masa pandemi Covid-19," katanya dalam kegiatan kampanye (CHSE) Event Protocol Story (CERPEN) di Kajawa Resto Sleman, Kamis (21/10/2021).

Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendorong pariwisata dan industri kreatif, sekaligus meningkatkan optimisme dalam penyelenggaraan event di tengah pandemi Covid-19. Kemenparekraf, lanjut dia, perlu membangun kembali kepercayaan masyarakat melalui konten yang relevan untuk menghidupkan kembali bisnis event, pekerja kreatif, dan ekosistem terkait lainnya yang terkena dampak pandemi.

Setelah level PPKM turun, kata Hafiz sejumlah penyelenggara even mangajukan ijin rekomendasi kepada Kemenparekraf. Termasuk di DIY. Rekomendasi tersebut menjadi lampiran untuk mendapatkan ijin keramain dari pihak kepolisian. Rekomendasi diberikan jika penyelenggara even melaksanakan protokol CHSE.

"Termasuk kesiapan mitigasi, jika nantinya terdapat calon peserta atau penonton saat di test Swab Antigen, dinyatakan positif Covid-19.
Penyelenggaraan event juga harus menerapkan pengecekan peserta atau penontot telah divaksin atau tidak melalui Peduli Lindungi," katanya.

Ia optimistis, kegiatan sosialisasi CHSE tersebut dapat dilakukan bersama-sama oleh semua penyelenggaraan event musik, wedding, pameran, dan lainnya. Kemenparekraf juga optimistis dengan penerapan CHSE dalam setiap event pada akhirnya bisa mendorong bergeraknya kembali sektor pariwisata.

BACA JUGA: 7 Tahun Jokowi Jadi Presiden: BEM SI Nilai Jokowi Mengkhianati Rakyat

"Sebelum PPKM darurat, teman-teman EO sudah merepresentasikan kegiatan dengan menerapkan CHSE. Seperti ArtJog dan Prambanan Jazz ini, kegiatannya bisa berjalan sesuai protokol kesehatan yang baik," katanya.

CEO Prambanan Jazz Festival Anas Syahrul Almi bersyukur DIY saat ini sudah termasuk daerah yang menerapkan PPKM level 2. Dengan begitu, hampir semua even bisa berjalan termasuk Prambanan Jazz. Sistem infrastruktur penyelenggara event seperti konser musik di DIY sudah siap. Ia mengaku saat ini menyiapkan pagelaran tersebut pada akhir tahun ini.

"Kegiatan konser di luar negeri sudah berjalan. Di dalam negeri kurang apa sih, bedanya apa? Padahal sistem dan insfrastruktur penyelenggaraan event sudah siap. Oleh karenanya, kami akan menggelar Prambanan Jazz yang berbeda dengan sebelumnya," katanya.

Prambanan Jazz di era pandemi Covid-19, kata Anas diharapkan juga tidak memicu munculnya gelombang ketiga Covid-19. Selain dengan menerapkan CHSE, katanya, setiap event digelar menggunakan Aplikasi Peduli Lindungi untuk skrining awal. "Kami akan mengikuti ketentuan dam panduan dari Kemenparekraf. Penonton event harus memenuhi kriteria untuk masuk ke lokasi event," kata Anas.

Hal senada disampaikan Direktur Program ArtJog Gading Narendrapaksi. Akan banyak event yang akan digelar pada akhir tahun nanti. Selain JogjaRockarta Festival dan Prambanan Jazz, juga akan digelar Festival Film Dokumenter. "Kami juga akan melakukan persiapan penyelenggaraan ArtJog pada 2022 nanti," katanya.