Mendagri Dukung Usulan Sultan Agar Serangan Umum 1 Maret Jadi Hari Besar Nasional

Mendagri Tito Karnavian (kiri) bersama Gubernur DIY di Kompleks Keptihan, Senin (1/11/2021) - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
01 November 2021 19:27 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendukung usulan Gubernur DIY Sri Sultan HB X yang ingin menjadikan Peringatan Serangan Umum 1 menjadi hari besar nasional. Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan pertempuran besar-besaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap tentara Belanda di DIY yang saat itu DIY merupakan ibu kota Republik Indonesia.

“Dari Kemendagri prinsipnya kita sangat menghormati peristiwa itu dan kenapa tidak peristiwa ini [Serangan Umum 1 Maret 1949] kemudian menjadi hari besar nasional,” kata Tito seusai menggelar diskusi tentang Serangan Umum 1 Maret bersama Gubernur DIY di Gedung Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Senin (1/11/2021).

Namun, Tito mengatakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bukan pengambil keputusan utama karena harus ada rapat panitia antar kementerian. Hasil rapat nanti bangaimana bisa meyakinkan semua pihak. Setelah itu dinaikan kepada Presiden melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg).

Tito menilai Kemendagri sudah melakukan kajian terkait peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di DIY. Usulan peristiwa tersebut menjadi hari besar nasional dengan istilah Hari Penegakan Kedaulatan Negara sebenarnya sudah dilakukan oleh Gubernur DIY sejak 2018 lalu kepada Presiden. Kemudian Presiden menugaskan Mensesneg dan Mensesneg menugaskan Kemendagri untuk mengkajinya pada 2 Oktober 2018 saat Tito belum menjadi menteri.

BACA JUGA: Eks Napi Beberkan Penyiksaan Kejam oleh Sipir Lapas Narkotika Jogja 

Meski Kemendagri sebagai pemrakarsa dalam membahas peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Namun untuk menjadi hari besar nasional ditentukan melalui Keputusan Presiden. Sebelum itu perlu dibahas dalam panitia antar kementerian atau PAK, “Hasil rapat itu akan disampaikan usulan kepada bapak Presiden,” ujar Tito.

Lebih lanjut mantan Kapolri ini menyatakan Pemda DIY sudah melakukan berbagai tahapan usulan Serangan Umum 1 Maret menjadi hari besar nasional, seperti sosialisasi dan penyiapan naskah akademik (NA), bahkan ada 58 elemen masyarakat yang memberikan dukungan usulan Gubernur DIY tersebut.

Pihaknya akan membahasnya kembali melalui seminar pada 16 November nanti. Pembahasan tersebut hanya ingin menguatkan kembali bahwa peristiwa Serangan Umum 1 Maret bukan semata-mata peristiwa lokal, melainkan menjadi peristiwa nasional. Menurut dia, peristiwa itu tidak lepas dari peristiwa nasional saat mempertahankan kedaulatan negara bahwa Indonesia merdeka bukan karena pemberian seperti beberapa negara lain tapi karena perjuangan.

Perjuangan karena ada kepakuman setelah itu ada perang. Perang mempertahankan kemerdekaan. Dalam perang itu Center Of Grafity (COG) atau pusat perang itu pernah terjadi ketika ibu kota berpindah ke DIY. DIY pernah menjadi COG [pasukan Belanda], dalam ilmu strategis perang namnya COG. Dalam COG biasa kekuatan satu akan berusaha memperkuat sekuat kuatnya mempertahankan Center Of Grafity dari kemungkinan serangan lawan. Sebaliknya lawannya akan berusaha melemahkan dan menguasai COG itu.

“Pada Serangan Umum 1 Maret itu menunjukan ketika belanda all out mempertahankan Yogyakarta kita bisa menembus. Pasukan kita bisa menembus, seluruh anak bangsa bisa menembus dan mengusai Yogjakarta meksipun dalam hanya 6 jam. Itu memberikan simbol bahwa kita bisa mengalahkan Belanda di pusat syaraf perang mereka, COG mereka Yogjakarta. Ini jadi modal penting dalam upaya diplomasi di PBB maupun dalam pertemuan bilateral konferensi meja bundar. Nilai penting Serangan Umum 1 Maret ini sangat startegis dalam pengamblan keputusan di PBB,” papar Tito.

Mendagri menyatakan peristiwa Serangan Umum 1 Maret mirip dengan pendudukan Amerika Serikat (AS) atas Vietnam. Akhirnya tentara Vietnam mampu menyerang pusat syaraf pendudukan AS tersebut hingga AS mundur. Kejadian pada 1969 tersebut kemudian menjadi perhatian dunia. Meski kejadian Serangan Umum 1 Maret sudah ada di buku sejarah namun belum tentu generasi muda paham. Agar tidak lupa terhadap sejarah pelu dimasukkan dalam hari besar nasional.

Sultan HB X mengatakan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 selalu diperingati setiap tahun. Dalam perkembangannya tidak hanya panitia, tidak hanya pelaku, tapi juga masyarakat umum berharap bagaimana peritiwa Serangan Umum 1 maret itu bisa menjadi hari besar nasional. Aspirasi tersebut kemudian ditindaklanjutinya dengan diusulkan kep Presiden. (Ujang Hasanudin)