Minim Proyek, Batu Bata Produksi Bantul Tak Laku

Jumanah menjemur batu bata di Jambidan, Banguntapan, Minggu (31/10/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
01 November 2021 07:17 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pandemi Covid-19 membuat pembangunan fisik jauh berkurang. Dampaknya dirasakan oleh para perajin batu bata di Kalurahan Jambidan, Banguntapan, yang kesulitan menjual hasil produksinya.

Salah satu perajin batu bata, Jumanah, mengaku dampak pandemi cukup terasa dalam penjualan batu bata. Dia menuturkan kini kesulitan menjual batu bata siap pakai.

“Kalau sebelum pandemi bisa laku 1.000 batu bata per bulan, kini tidak bisa," tuturnya, Minggu (31/10/2021).

Menurutnya, dalam sebulan dia belum tentu bisa menjual hasil produksinya. "Kadang sebulan tak laku sama sekali," katanya.

Lantaran permintaan terus berkurang, Jumanah mengaku terpaksa mengurangi jumlah produksi. Di kondisi normal, Jumanah bisa mencetak 500 batu bata mentah setiap harinya.

Kini permintaan batu bata terus berkurang, bahkan terkadang sampai tiga bulan belum laku. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia terpaksa mengandalkan bantuan dari anak-anaknya.

Perajin batu bata lainnya, Tumijan, mengalami nasib serupa. Rata-rata batu bata produksi Tumijan baru laku dua bulan sekali. Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga salah satu bahan untuk pembuatan batu bata.

 "Sekarang penjualan menurun. Kondisi kian sulit karena saat ini memasuki musim hujan. Batu bata yang baru dicetak sulit kering. Harga sekam untuk membakar batu-bata juga kian mahal," katanya.