Terbongkar! Kemenkumham Akui Ada Perpeloncoan di Lapas Narkotika dengan Dalih Ospek

Ilustrasi kekerasan. - Pixabay
04 November 2021 10:27 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Investigasi tindak lanjut kasus kekerasan di Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Pakem, terus berlanjut. Berdasarkan hasil pemeriksaan dari Kanwil Kemenkumham DIY, ditemukan adanya tindakan berlebihan oleh petugas lapas kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Kepala Kanwil Kemenkumham DIY, Budi Argap Situngkir, menjelaskan memang ditemukan ada tindakan berlebihan dari petugas lapas, namun tidak sesadis yang diceritakan pelapor. “Setelah kami teliti tidak semuanya benar. Tidaklah sesadis itu,” ujarnya, Rabu (3/11/2021).

Tindakan berlebihan yang dilakukan petugas lapas kata dia, memiliki tujuan tertentu misal untuk semacam ospek kepada WBP baru atau untuk mendisiplinkan WBP yang melakukan kesalahan. “Tindakan-tindakan petugas di dalam rangka tahanan yang baru datang atau napi yang baru ini untuk menekan semacam mengospek. Melakukan supaya mereka mengikuti peraturan,” katanya.

Meski demikian ia menegaskan tetap akan menindak tegas petugas yang memang terbukti melakukan tindakan berlebihan hingga menyimpang dari standar operasional prosedur (SOP). Beberapa tindakan berlebihan ini ia menyebutkan diantaranya menonjok dan menyuruh berguling.

“Kami melihat dari hasil melakukan interview kepada petugas. Jadi ada yang mengaku begini situasinya, 'kami melakukan penekanan supaya mereka disiplin, supaya ini bisa bersih'. Kalau mas lihat di dalam blok itu semua bersih sekali. Kita pegang lantainya aja ngga ada debu,” ungkapnya.

Kemudian untuk tindakan sadis petugas seperti memakan muntahan, pihaknya masih mendalami jika ada petugas yang melakukannya. “Kami sedang periksa karena kami belum dapat pengakuan itu. Petugas nggak mungkin lah kami sekeji itu. Makanya kami akan pelan-pelan tapi tindakan keras dari petugas juga kelihatan,” kata dia.

Investigasi

Ketua ORI DIY, Budhi Masthuri, mengatakan mulai Rabu (3/11), ORI DIY telah menurunkan tim investigasi ke Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, Pakem. Kalapas kata dia, menyambut baik dan kooperatif terhadap timnya.

“Kalapas wellcome dan sangat kooperatif utk bekerjasama dengan Tim Investigasi ORI DIY. Pengumpulan data, informasi dan keterangan lebih lanjut akan dilakukan secara maraton dan dijadwalkan mulai minggu depan,” katanya.

Pendamping eks WBP yang melapor ke ORI DIY, Anggara Adiyaksa, mengatakan sampai saat ini, sudah ada sekitar 40 eks WBP dengan status bebas maupun cuti bersyarat yang bergabung dalam pengaduan ini. Beberapa WBP tersebut dalam kondisi takut, trauma dan penuh bekas luka di tubuhnya.

Pihaknya saat ini telah berkomunikasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memastikan keamanan eks WBP yang melapor. “Kami ke Ombudsman melaporkan sesuai jalur konstitusional, tidak melanggar hukum apalagi saksinya banyak. Ditambah ada foto-foto dan fakta-fakta yang belum kami ungkap. Sebagai senjata kami kalau nanti mereka mengelak,” katanya.

Ia mengungkapkan sebenarnya sudah sejak September lalu melaporkan kekerasan yang dialami eks WBP ke kanwil Kemenkumham DIY dan Dirjen Pas, namun sayangnya tidak ada tindak lanjut konkrit dari keduanya, dan kekerasan masih terus terjadi.

“Terus kami melakukan laporan sekali lagi, tidak ada tanggapan, makanya kami melaporkan ke Ombudsman. Nah untuk bukti-bukti yang lain karena itu termasuk sebetulnya tidak bisa dipublikasi jadi bukti itu nanti akan kami serahkan ke Komnas HAM dan Ombudsman supaya mereka bisa bergerak dengan istilahnya, ini loh faktanya demikian,” ungkapnya.