Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Gudeg Manggar Punya Citarasa hingga Manfaat untuk Kecantikan

Gudeg manggar. - Harian Jogja/Nina Atmasari
05 November 2021 07:17 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sebanyak 26 Warisan Budaya Tak Benda DIY ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021, oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Jumat (29/10/2021) lalu.

Salah satu dari 26 Warisan Budaya Tak Benda DIY itu adalah gudeg manggar. Apa itu gudeg manggar?

Kebanyakan orang mengetahui gudeg adalah makanan yang terbuat dari bahan nangka muda atau dalam bahasa jawa disebut gori. Namun, ada salah satu varian gudeg yakni gudeng manggar.

Nama gudeg manggar tentu diambil dari bahan yang digunakan, yaitu manggar. Manggar adalah bunga kelapa. Gudeg manggar terbuat dari bunga kelapa. Cara masaknya serupa dengan gudeg gori.

Baca juga: 26 Warisan DIY Jadi Warisan Budaya Indonesia, Ini Daftar Lengkapnya: Lemper Hingga Wiwitan Pari

Menurut wikipedia, selain memiliki bahan dasar yang unik, gudeg manggar juga memiliki cita rasa yang khas. Berbeda dengan gudeg pada umumnya yang memiliki rasa manis, gudeg manggar memiliki rasa yang gurih.

Dikutip dari encyclopedia.jakarta-tourism.go.id, gudeg manggar adalah salah satu varian gudeg yang berasal dari Dusun Mangir, Bantul, Yogyakarta. Hidangan ini memiliki nilai filosofi tinggi, bahkan Keraton Ngayogyakarta menjadikan Gudeg Manggar sebagai kuliner dengan kedudukan istimewa yang tidak bisa sembarangan dimasak dan hanya disajikan ketika ada peristiwa penting atau tamu khusus saja.

Salah satunya adalah dalam pesta pernikahan puteri-puteri Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan saat menjamu Prabowo Subianto dalam kunjungannya di tahun 2014.

Di lingkungan masyarakat pun Gudeg Manggar dahulu hanya disajikan dalam acara-acara tertentu saja, seperti pernikahan dan Lebaran.

BACA JUGA: 2 Jembatan Dibangun di Maguwoharjo dan Kalitirto, Salah Satunya Jembatan Gantung

Bagi Anda yang menginginkan gudeg manggar, hanya tempat tertentu yang menyediakannya, yakni di wilayah Bantul. Penyebabnya adalah bunga kelapa (manggar) yang menjadi bahan utamanya tidak sebanyak buah nangka muda. Bunga kelapa berbentuk seperti padi, ada bagian batang atau tangkai, dan bagian yang mirip biji-bijian.

Salah satu versi sejarah gudeg manggar adalah berawal dari ketertarikan puteri Panembahan Senopati, Gusti Kanjeng Ratu Pambayun ketika melihat banyaknya manggar yang tersembul di atas pohon kelapa. GKR Pambayun kemudian memanfaatkan manggar-manggar tersebut dan meraciknya menjadi makanan, yang menurut Mooryati Sudibyo memiliki manfaat untuk kecantikan luar dan dalam.

Manggar yang tidak lain adalah putik bunga kelapa merupakan embrio dari minyak dengan kandungan minyak rendah, sehingga tidak terlalu berbahaya bagi kesehatan tubuh. Jika mengkonsumsi manggar, wajah akan menjadi lebih “kinclong”.

Cara membuat gudeg manggar sama dengan gudeg nangka, namun membutuhkan waktu lebih lama guna membuat manggar menjadi empuk. Selain bumbu, bahan wajib untuk memberi citarasa pada gudeg manggar adalah santan. Dalam penyajiannya, gudeg manggar juga dilengkapi lauk pauk seperti sambal goreng krecek, telur, dan opor ayam.