Klaster Takziah Sedayu Bantul Terus Bertambah di Sleman

Ilustrasi - Antara/Raisan Al Farisi
09 November 2021 19:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman kembali mencatat penambahan jumlah warga yang terkena Covid-19 dari Klaster Takziah Sedayu, Bantul. Hingga kini, 75 warga Sleman masuk klaster ini.

Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama mengatakan warga Sleman yang masuk Klaster Takziah Sedayu bertambah dari sebelumnya 69 menjadi 75. Penambahan enam kasus tersebut merupakan hasil dari tracing yang puskesmas kepada kontak erat masing-masing pasien.

BACA JUGA: Update Covid-19 DIY: Tambah 15 Kasus, 11 dari Sleman

Ada yang masih beralamat di Sleman tetapi tinggal di Sedayu Bantul. Selain itu, ada satu warga yang positif tercatat di Gamping namun sebenarnya tinggal di Seyegan.

"Ada juga yang KTP-nya beralamat di Ngaglik, tetapi tinggal di Sedayu. Jadi di Ngaglik kosong,” kata dia, Selasa (9/11/2021).

Dengan demikian, 75 pasien yang positif Covid-19 tersebut tersebar di enam kecamatan (kapanewon), yakni Gamping dengan 17 kasus, Godean 32 kasus, Minggir 6 kasus, Moyudan 12 kasus, Seyegan 7 kasus dan Depok 1 kasus.  

Covid-19 dari Klaster Takziah di Sedayu, Bantul, menulari puluhan orang sejak akhir Oktober lalu. Selain di Bantul, kasus ini juga ditemukan di Sleman dan Kulonprogo.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, mengatakan warga Sleman yang positif Covid-19 dari Klaster Takziah Sedayu ada;ah siswa SMK dan orang tua siswa. Statusnya kebanyakan orang tanpa gejala (OTG). "Sudah di-tracing semua. Yang positif sudah dikirim ke isoter baik di Asrama Haji maupun Gemawang, langsung ditangani," kata dia.

Dia pun mengimbau masyarakat untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Apalagi, penerapan protokol kesehatan di masyarakat saat ini sudah mulai kendor saat status PPKM turun menjadi level 2. "Saya mengimbau masyarakat jangan kendor, jangan abai," kata Kustini.

BACA JUGA: Klaster Covid-19 Bermunculan di Bantul, Selter dan Isoter Mulai Disiapkan

Pemkab, katanya, sudah meminta kepada para panewu dan lurah untuk memantau setiap kegiatan sosial masyarakat di wilayahnya. Kegiatan-kegiatan yang mengundang kerumunan harus diawasi lebih ketat lagi.  

"Sudah ada sejumlah pelonggaran aturan, tetapi prokes tetap perlu dilaksanakan. Kasus penularan Covid-19 berpotensi di situ [kegiatan sosial]. Misal seperti takziah, bahkan hingga peribadatan di tempat-tempat ibadah,” kata dia.