Wayang Kulit Meriahkan Tukar Budaya Magelang-Karanganyar
Tukar budaya Magelang–Karanganyar meriah dengan wayang kulit dan peluncuran Gerakan Sanggar Seni Sekolah di Secang.
KPH Notonegoro dalam acara Talk Show Panggung Harjo bertajuk Kemesraan Kraton dengan Generasi Z yang digelar daring, Selasa (9/11/2021)./Ist
Harianjogja.com, JOGJA-Kraton Yogyakarta berupaya menjalin hubungan harmonis dengan generasi Z dengan menyediakan konten-konten yang bisa dipelajari di dunia maya.
Hal itu diungkapkan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridho Mardowo Kraton Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro dalam acara Talk Show Panggung Harjo bertajuk Kemesraan Kraton dengan Generasi Z yang digelar daring, Selasa (9/11/2021).
KPH Notonegoro mengungkapkan Generasi Z memiliki ciri salah satunya adalah berkarakter digital native. "Saya lahir sempat mengalami masa manual. Generasi Z semua sudah digital. Mereka sudah sangat terbiasa dengan piranti digital. Ciri kedua penuh dengan inovasi, berkreasi menciptakan yang baru," katanya.
Dengan kondisi ini, Generasi Z menghadapi tantangan yang berkaitan dengan mudahnya akses konten dari seluruh dunia melalui media digital. Saat ini, semua orang bisa punya akses Youtube dengan konten dari seluruh dunia.
Akibatnya, saat mereka tidak bisa menyaring konten yang disaksikan maka akan sangat mudah terjadi pembauran nilai-nilai. "Sebenarnya tidak ada masalah, tapi ada satu titik saat mereka lupa dan tidak memahami nilai-nilai leluhur. Misal orang Jawa tidak bisa berbahasa Jawa tapi malah bisa bahasa Korea. Tantangannya tidak bisa menyaring konten sedangkan konten kita juga terbatas," tuturnya.
Meski demikian, suami dari GKR Hayu ini mengaku optimistis anak muda sekarang ini mulai berubah. Jika tadinya mempelajari kebudayaan asing itu adalah sesuatu yang ekslusif, sekarang karena semua punya akses, maka menjadi tidak ekslusif lagi.
Karena tidak ekslusif maka ada keinginan dari mereka, muncul rasa ingin tahu terhadap budaya sendiri kita seperti apa, karena jenuh melihat budaya dari luar. KPH Notonegoro melihat keinginan ini sebagai demand. Ia dari Kraton Yogyakarta memiliki kewajiban menjawab demand tersebut dengan suplai dengan membuat konten yang menarik generasi Z.
"Kami memberi pengertian dan edukasi mengenai kebudayaan mereka sendiri. Karena jika mereka punya demand seperti ini, mencari google kemudian konten itu tidak ada mereka jadi frustasi jadi gak mau apresiasi budaya sendiri," ungkapnya.
Atas dasar itulah Kraton Yogyakarta berusaha agar konten-konten budaya itu tersedia dalam kemasan yang menarik bagi anak-anak muda. Kalau tidak disesuaikan dengan anak anak muda zaman sekarang, mereka akan frustasi. "Penyedia konten sekarang ini bersaing dengan konten seluruh dunia karena tidak ada batasan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tukar budaya Magelang–Karanganyar meriah dengan wayang kulit dan peluncuran Gerakan Sanggar Seni Sekolah di Secang.
KRI Sriwijaya-100 resmi dikukuhkan Panglima TNI Agus Subiyanto setelah Merah Putih berkibar di atas kapal induk di Tanjung Priok.
Sebanyak 500 peserta dari 30 tim mengikuti lomba tarik lokomotif 84 ton di Balai Yasa Jogja dalam rangka HUT ke-81 KAI.
Timnas Indonesia dinilai punya keuntungan di FIFA ASEAN Cup 2026 karena bisa menurunkan skuad penuh dan berstatus tuan rumah.
Warga Padukuhan Karang, Tuksono, Kulonprogo, kembali memprotes tambang pasir Sungai Progo. CV BKS menyebut seluruh perizinan telah lengkap.
Jenazah Sukarman, kru KM Arupadatu I, tiba di Soetta dari Bengkulu dan langsung dibawa ke rumah duka di Pandeglang.