Kraton Yogyakarta Sediakan Konten Budaya untuk Generasi Z

KPH Notonegoro dalam acara Talk Show Panggung Harjo bertajuk Kemesraan Kraton dengan Generasi Z yang digelar daring, Selasa (9/11/2021). - Ist
10 November 2021 03:27 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Kraton Yogyakarta berupaya menjalin hubungan harmonis dengan generasi Z dengan menyediakan konten-konten yang bisa dipelajari di dunia maya.

Hal itu diungkapkan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridho Mardowo Kraton Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro dalam acara Talk Show Panggung Harjo bertajuk Kemesraan Kraton dengan Generasi Z yang digelar daring, Selasa (9/11/2021).

KPH Notonegoro mengungkapkan Generasi Z memiliki ciri salah satunya adalah berkarakter digital native. "Saya lahir sempat mengalami masa manual. Generasi Z semua sudah digital. Mereka sudah sangat terbiasa dengan piranti digital. Ciri kedua penuh dengan inovasi, berkreasi menciptakan yang baru," katanya.

Dengan kondisi ini, Generasi Z menghadapi tantangan yang berkaitan dengan mudahnya akses konten dari seluruh dunia melalui media digital. Saat ini, semua orang bisa punya akses Youtube dengan konten dari seluruh dunia.

Akibatnya, saat mereka tidak bisa menyaring konten yang disaksikan maka akan sangat mudah terjadi pembauran nilai-nilai. "Sebenarnya tidak ada masalah, tapi ada satu titik saat mereka lupa dan tidak memahami nilai-nilai leluhur. Misal orang Jawa tidak bisa berbahasa Jawa tapi malah bisa bahasa Korea. Tantangannya tidak bisa menyaring konten sedangkan konten kita juga terbatas," tuturnya.

Meski demikian, suami dari GKR Hayu ini mengaku optimistis anak muda sekarang ini mulai berubah. Jika tadinya mempelajari kebudayaan asing itu adalah sesuatu yang ekslusif, sekarang karena semua punya akses, maka menjadi tidak ekslusif lagi.

Karena tidak ekslusif maka ada keinginan dari mereka, muncul rasa ingin tahu terhadap budaya sendiri kita seperti apa, karena jenuh melihat budaya dari luar. KPH Notonegoro melihat keinginan ini sebagai demand. Ia dari Kraton Yogyakarta memiliki kewajiban menjawab demand tersebut dengan suplai dengan membuat konten yang menarik generasi Z.

"Kami memberi pengertian dan edukasi mengenai kebudayaan mereka sendiri. Karena jika mereka punya demand seperti ini, mencari google kemudian konten itu tidak ada mereka jadi frustasi jadi gak mau apresiasi budaya sendiri," ungkapnya.

Atas dasar itulah Kraton Yogyakarta berusaha agar konten-konten budaya itu tersedia dalam kemasan yang menarik bagi anak-anak muda. Kalau tidak disesuaikan dengan anak anak muda zaman sekarang, mereka akan frustasi. "Penyedia konten sekarang ini bersaing dengan konten seluruh dunia karena tidak ada batasan," katanya.