Polda: Hampir Semua SMA di DIY Punya Geng Pelajar

Ilustrasi geng pelajar. - JIBI
10 November 2021 16:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Polda DIY menyebut hampir semua SMA di DIY punya geng pelajar.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yulianto, mengatakan polres di semua kabupaten dan kota di provinsi ini sudah memetakan keberadaan geng pelajar. “Polda menghimpun data dari polres dan polresta. Kami sudah punya datanya sekolahnya mana saja,” ujarnya, Rabu (10/11/2021).

BACA JUGA: Viral, Begini Perjanjian Lengkap Tawuran Maut Geng Stepiro dan Geng Sase di Bantul

Dari pemetaan tersebut, ia mengungkapkan ada banyak geng pelaja  yang terdapat di hampir setiap sekolah tingkat SMA. “Hampir semua sekolah tingkat atas di Jogja punya geng,” kata dia.

Menurutnya polisi berusaha mengatasi persoalan ini dengan penegakan hukum. Namun, butuh peran keluarga untuk mencegah munculnya geng pelajar.

“Polisi tidak mungkin mengawasi perilaku anak-anak itu. Yang paling dekat dengan anak-anak adaah  lingkungan keluarga. Mereka harus cermat terhadap anak-anak. Anak-anak tidak boleh dibiarkan keluyuran malam tanpa ada kejelasan mau ke mana,” ungkapnya.

Yulianto mengatakan patroli polisi juga terbatas dan tidak sebanding dengan arean jalanan di DIY. Menurut dia, butuh peran masyarakat untuk mencegah tawuran.

“Jika masyarakat melihat ada indikasi anak-anak konvoi tengah malam, kami sarankan segera menginformasikan ke polisi, bisa ke 001 atau kantor polisi terdekat, sehingga  tawuran atau kejahatan jalanan bisa dicegah,” kata Yulianto.

Tawuran antargeng pelajar terjadi pada 29 November, sekitar pukul 02.30 WIB di Ring Road Selatan, Dusun Plurungan, Kalurahan Tamantirto, Kasihan, Bantul. Tawuran Geng Stepiro dan Sase tersebut menyebabkan korban jiwa, yakni MKA, 18, warga Sewon, Bantul. Korban meninggal dunia di rumah sakit setelah menjalani perawatan selama 10 hari akibat luka sabetan senjata tajam di bagian dada dan punggung.

Satu korban lainnya adalah RAW, 17, warga Banguntapan, Bantu. Dia mengalami luka berat di bagian dada akibat sabetan senjata tajam. Sampai saat ini RAW masih dalam proses perawatan medis.

Kapolres Bantul, AKBP Ihsan, sebelumnya mengatakan kejadian tersebut bermula pada pada 28 September 2021. Korban MKA bersama teman-temannya yang tergabung dalam Geng Sase Bantul ngobrol di warung angkringan di sekitar Stadion Sultan Agung. Saat itu mereka membicarakan rencana tawuran melawan Feng Stepiro Jogja yang akan dilakukan pada Rabu, 29 September 2021 dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB di Ring Road Selatan Bantul.

Kemudian sekitar pukul 02.30 WIB, Geng Sase yang berjumlah 14 orang dan Geng Stepiro yang berjumlah 20 orang bertemu di Ring Road Selatan dengan mengendarai sepeda motor berboncengan dan masing-masing membawa senjata tajam. Terjadilah tawuran yang mengakibatkan MKA dan RAW dari Geng Sase mengalami luka berat. “Dua korban dua-duanya dari kelompok Sase,” ujar Ihsan.

BACA JUGA: Kronologi Tawuran Maut Stepiro Vs Sase di Bantul: Berhadapan Naik Motor & Bersenjata Tajam

Polisi yang mendapat laporan dari pihak korban kemudian melakukan penyelidikan. Dari hasil penyelidikan, polisi menangkap 11 orang semuanya dari Geng Stepiro. Mayoritas mereka berasal dari kelas III dan kelas II, yakni IS, 18; NWSU, 18; dan MNH, 18; MFR, 19;  keempatnya berperan menjadi fighter atau eksekutor.

Kemudian MYEP, 18; WKR, 18;  ATK, 18; RFS, 18; keempatnya berperan sebagai joki motor. Selanjutnya ada tiga anak yang masih di bawah umur yakni JA, 16; CA, 16; dan ZFN, 17; ketiganya berperan sebagai joki motor, “Jadi pada saat mereka tawuran ada sebagai joki membawa motor dan ada fighter-nya membawa senjata tajam. Model tawurannya saling berhadapan bawa motor,” papar Ihsan.

Kedua geng pelajar membuat kesepakatan bersama yang isinya tidak boleh melapor, tidak boleh visum, masing-masing geng harus menanggung risiko sendiri, tidak melibatkan alumni, dan geng yang tidak datang dianggap kalah.