Bupati Kustini: Sudah Vaksin tapi Prokesnya Kendur Hanya Akan Jadi Sia-sia

Ilustrasi. - Freepik
13 November 2021 14:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Sleman menunjukkan kenaikan sejak beberapa pekan terakhir.

Setelah 75 orang dinyatakan positif Covid-19 akibat klaster takziah dari Kabupaten Bantul, kali ini klaster baru muncul dari sebuah home industri tahu di Somodaran, Banyuraden, Kapanewon Gamping.

Dari informasi yang disampaikan Dinas Kesehatan, sebanyak 10 karyawan yang bekerja di tempat tersebut dinyatakan positif Covid-19. Sementara enam orang di antaranya mengalami gejala.

Menanggapi fenomena tersebut, Bupati Sleman Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo menyampaikan keprihatinannya. Sebab, Pemkab Sleman saat ini tengah berupaya menurunkan penyebaran virus Covid-19 dengan berbagai cara.

"Tentu ini jadi keprihatinan bersama. Di saat kita sudah berhasil menurunkan level [PPKM], tetapi justru mulai muncul klaster-klaster baru yang tidak kita inginkan," ungkap Kustini saat dikonfirmasi, Jumat (12/11/2021).

Apalagi dari informasi yang diterimanya, 10 warga yang terpapar Covid-19 sudah mendapatkan suntikan dosis vaksin. Hal ini tentu bisa terjadi dikarenakan mulai kendornya penerapan protokol kesehatan (prokes) di masyarakat.

"Meskipun udah divaksin, tapi kalau prokesnya kendor hanya akan jadi sia-sia. Makanya selalu sampaikan patuhi prokes, prokes prokes di setiap kesempatan bertemu masyarakat," terangnya.

Ditegaskan Kustini, meskipun Kabupaten Sleman telah turun di level 2, masyarakat diminta agar jangan kendor menerapkan protokol kesehatan.

Dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, penularan covid-19 di masyarakat dapat semakin ditekan dan tidak terjadi peningkatan kasus karena pandemi masih belum berakhir.

"Sedari awal saya sampaikan, jangan euforia. Sekali kita lengah, Virus covid-19 ini akan kembali menular dan bisa menyebabkan dampak yang sangat luas. Tidak hanya pada aspek kesehatan saja, tetapi sampai ke kegiatan sosial perekonomian dan," tegas Kustini.