Advertisement

Ini Penyebab Sejumlah Desa Wisata di sleman Mati Suri

Abdul Hamied Razak
Rabu, 24 November 2021 - 23:47 WIB
Bhekti Suryani
Ini Penyebab Sejumlah Desa Wisata di sleman Mati Suri Ilustrasi desa wisata - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman mencatat sebanyak delapan desa wisata di Sleman vakum. Pendataan tersebut merupakan hasil klasifikasi yang dilakukan Dispar pada 2020 lalu.

Kedelapan desa wisata tersebut masing-masing Desa Wisata Rejosari Cangkringan, Desa Wisata Wringin Pakem, Desa Wisata Tlatar Kandhangan Turi, Desa Wisata Palgading Ngaglik, Desa Wisata Malangan Moyudan, Desa Wisata Temon Sleman, Desa Wisata Parakan Kulon dan Desa Wisata Pulosegeni Minggir.

Advertisement

Sesepuh Desa Wisata Malangan Wiji Raharjo mengatakan desa wisata tersebut vakum sejak awal masa Pandemi Covid-19. Hingga saat ini, katanya, desa wisata yang berada di Sumberagung Kapanewon Moyudan tersebut tidak dibuka untuk umum. "Kami vakum sejak awal pandemi. Sampai saat ini masyarakat belum membuka destinasi," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (24/11/2021).

Dia mengatakan, belum bukanya destinasi tersebut selain mewaspadai potensi penularan Covid-19 warga juga masih menyimpan trauma. Sebab tahun lalu, ada sekitar 60 warga Malangan sempat terpapar Covid-19 di mana tiga warga meninggal dunia.

"Jadi dampak pandemi tidak hanya menghentikan aktivitas desa wisata, tetapi juga menyebabkan warga masih trauma. Kami sepakat akan membuka kembali destinasi setelah kebijakan PPKM selesai," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Wiji, warga masih memiliki semangat untuk kembali menghidupkan desa wisata. Pasalnya nama Desa Wisata Malangan tidak hanya dikenal secara nasional tetapi juga oleh turis mancanegara. "Semangat itu masih tersimpan dalam dada, hanya saja kami masih menunggu PPKM selesai. Selain Covid-19, persoalan yang muncul adalah regenerasi pengurus desa wisata," ujar Wiji.

Dijelaskan Wiji, persoalan SDM ini masih akan diselesaikan oleh para warga. Persoalan ini muncul saat 6-7 pengurus inti mendapatkan pekerjaan tetap di sejumlah instansi bahkan di luar daerah. Sayangnya, belum dilakukan regenerasi saat pengurus inti meninggalkan desa wisata tersebut. "Nah, saat ini kami mulai menghimpun kembali warga untuk dijadikan pengurus ini. Kami lagi berproses. Sebab usia saya sudah 70 tahun," katanya.

Tak jauh berbeda dengan Malangan, Desa Wisata Mangunan Berbah tercatat sebagai desa wisata yang vakum sejak 2016 lalu. Persoalan utamanya adalah SDM. "Regenerasinya tidak ada sehingga kami memulai kembali untuk mengembangkan desa wisata Mangunan," kata pengelola MOBAdvanture Desa Wisata Mangunan Guntur Eka Prasetya.

BACA JUGA: Dendam Ibunya Disakiti, Pemuda di Bantul Bacok Sepupu Sendiri

Advertisement

Mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Sleman ini mengatakan, MOBAdvanture akan menjadi cikal bakal kebangkitan Desa Wisata Mangunan yang beberapa tahun lalu berjaya. Menurutnya, warga mulai bersemangat lagi untuk membangun desa wisata Mangunan. "Dulu sebelum program desa wisata ada, Mangunan sudah menjadi desa wisata yang banyak didatangi turis asing," katanya.

Keberadaan dusun Mangunan yang masih asri dengan kekayaan budaya, tradisi dan sektor argaris menjadi modal utama pengembangan desa wisata tersebut. Tidak hanya itu, lokasinya yang berdekatan dengan rel kereta api juga menjadi pemandangan berbeda bagi wisatawan.

"Kalau kondisi cuaca baik, Gunung Merapi juga terlihat bagus dari sini. Untuk langkah awal, kami sediakan All Terrain Vehicle (ATV) sebagai atraksi wisata bagi penggemar petualangan. Untuk Sleman dengan suasana desa yang asri ini baru pertama kali ada," katanya.

Ia menyediakan 10 unit ATV dengan panjang total 1.000 meter trek yang disediakan. Trek tersebut berada di tengah-tengah area persawahan dan berdekatan dengan sungai. "Kami menawarkan trek menantang dan ke depan panjang trek dan unit ATV akan ditambah seiring dengan dibangunnya wahana bong pring di dekat kali," katanya.

Kepala Dispar Sleman Suparmono mengatakan dari delapan desa wisata yang dinyatakan vakum sebagian mulai menyiapkan diri untuk kembali bangkit. Salah satunya Desa Wisata Tlatar Kandhangan Turi. "Sekarang akan mulai bergerak lagi. Kami akan terus melakukan pendampingan karena fokus Pemkab saat ini adalah mengembangkan desa wisata," katanya.

Berdasarkan data Dispar, lanjut Suparmono, Desa wisata di Sleman yang masuk klasifikasi Mandiri terdapat 12 desa wisata. Klasifikasi Berkembang 10 desa wisata dan Tumbuh sebanyak 20 desa wisata. "Kegiatan klasifikasi ini kami laksanakan dua tahun sekali untuk melihat dan mengevaluasi kondisi desa wisata," katanya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement