Penelitian UGM Diharapkan Mengatasi Ketergantungan Impor Bahan Baku Sel Punca

Indra Bachtiar. - Ist.
26 November 2021 04:57 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Terapi berbasis stemcell atau sel punca semakin banyak digunakan di negara maju. Terapi jenis ini tidak hanya pada pengobatan pasien covid-19, namun bisa mengobati berbagai penyakit seperti penyakit jantung, diabetes dan perbaikan kondisi tulang. Akan tetapi pengobatan dengan cara menyuntikkan sel hidup lewat pembuluh intravena ini belum dikenal luas di tanah air karena mahalnya biaya untuk satu kali pengobatan sehingga belum banyak digunakan oleh para dokter dan belum dijamin oleh asuransi.

Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan PT. Tristem Medika Indonesia bersepakat untuk mengembangkan penelitian sel punca melalui penandatangan nota kesepahaman di sela-sela pembukaan kegiatan Forum Riset Industri UGM, Kamis (25/11/2021). Melalui kerja sama itu diharapkan menghasilkan produk riset sel punca yang sudah diuji klinis terhadap pasien. Pasalnya riset sel punca di berbagai perguruan tinggi Indonesia baru sebatas penelitian dasar, belum banyak mengarah pada riset terapan.

BACA JUGA : UGM dan RS Sardjito Obati Pasien Covid-19 Sakit Berat

“Kami ingin stemcell sebagai produk dalam negeri sehingga bisa mengurangi ketergantungan karena hampir 95 persen bahan bakunya masih impor. Ini dilema, tantangan bagi kita bagaimana bangsa ini bisa mandiri dengan obat-obatan baru,” kata Direktur PT. Tristem Medika Indonesia, Indra Bachtiar saat di UGM.

Indra mengatakan mahalnya biaya pengobatan stemcell menjadi kendala pengobatan sehingga jarang digunakan oleh dokter di rumah sakit. Ia berharap melalui kerja sama dengan UGM ada pengembangan bahan baku stemcell yang bisa diproduksi oleh bangsa Indonesia sendiri. Ia mencontohkan untuk satu tali pusar sepanjang 60 cm saja dari ibu yang sudah melahirkan bisa dikembangkan jadi 40 triliun sel stemcell untuk dimanfaatkan oleh ratusan juta orang.

“Sebab dosis satu kali terapi penyuntikan sel stemcell melalui intravena, menyesuaikan per kilogram berat badan. Dosis untuk sekali suntik itu, satu juta sel stemcell per kilogram berat badan. Minimal 70-80 dari total sel stemcell yang disuntik tersebut harus hidup semua, ” ujarnya.

Ia mengungkap dalam berbagai penelitian, stemcell mampu memperbaiki sel atau jaringan yang rusak. Kemudian memperbaiki membran lutut bagi yang tulang keropos, memperbaiki fungsi pankreas agar bisa bisa memproduksi insulin atau mengubah gula menjadi energi. Sedangkan pada penyakit jantung, terapi stemcell potensial mengurangi penyumbatan dengan menambah jumlah pembuluh darah. Sedangkan pada kasus stroke, stemcell lebih kepada perbaikan kemampuan motorik, belum mengarah pada perbaikan keseluruhan saraf yang rusak.

“Sumber bahan baku stemcell yang digunakan berasal dari sel sumsum tulang belakang, lemak dari darah tepi dan ali pusat. Dari ketiga sumber tersebut, tali pusat yang paling baik karena sel berusia muda, dibandingkan dari lemak yang kebanyakan selnya sudah berusia tua,” ungkap dia.