Waduh..Anak Indekos dan Pelajar Dominasi Kasus Baru Covid-19 di Sleman

Ilustrasi. - Freepik
06 Desember 2021 22:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat anak kos dan pelajar mendominasi kasus baru Covid-19 di Sleman dalam sepekan terakhir. Dinkes mengingatkan agar mereka disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Berdasarkan catatan Harianjogja.com, sejak 1-6 Desember Dinkes melaporkan adanya penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 58 kasus. Kasus paling menonjol terjadi pada 3 Desember di mana tercatat 16 kasus dan 5 Desember sebanyak 18 kasus baru. Adapun kasus sembuh pada periode yang sama hanya tercatat 11 kasus dengan 1 kasus kematian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Novita Krisnaeni mengatakan untuk tanggal 3 Desember lalu kasus baru didominasi anak kos yang berlokasi di Kapanewon Depok. "Selain anak kos, juga ada penambahan jumlah pelajar hasil skrining sekolah," kata Senin (6/12/2021).

BACA JUGA: Alasan Novel Baswedan Akhirnya Terima Tawaran Jadi PNS Polri

Namun demikan, Novi belum bisa merinci jumlah anak kos dan pelajar yang terpapar Covid-19 selama Desember ini. "Proses tracing terus dilakukan, belum direkap. Untuk sekolah yang kedapatan siswanya positif Covid-19 kami minta kegiatan PTM dihentikan selama 14 hari," katanya.

Terpisah, Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama mengatakan pada 5 Desember untuk pelajar yang terpapar Covid-19 bertambah 12 kasus. Kasus tersebut ditemukan saat Dinkes melakukan tes swab acak pada Kamis (2/12) lalu. Pada 1 Desember sebelumnya, kata Cahya, terdapat tambahan 3 kasus positif Covid-19 juga dari kalangan pelajar. "Ya kasus baru masih lebih banyak dari skrining PTM sekolah SLTA sederajat," kata Cahya.

Menurut Cahya, banyaknya siswa SMA/SMK dan anak-anak kos lainnya yang terpapar Covid-19 tidak terlepas dari tingginya mobilitas mereka. Pasalnya dari sisi usia mereka dinilai sudah lebih mandiri sehingga aktivitas untuk berkumpul dan berkerumun juga tinggi. "Kondisi berbeda dengan siswa SD dan SMP yang mana mau ke sekolah harus diantar jemput. Jadi memantaunya lebih mudah," katanya.