Atasi Masalah di Jogja, Peneliti Bikin Pemusnah Sampah hingga Sensor Kerusakan Jalan

Heroe Poerwadi (tengah) saat meninjau alat pengurai sampah hasil penelitian UNU di di Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Selasa (14/12). Harian Jogja - Sirojul Khafid
15 Desember 2021 10:27 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO – Sejumlah kampus di Jogja kembangkan alat untuk mengurai masalah di Kota Jogja. Dari sepuluh penelitian yang dilakukan beberapa kampus di Jogja, tiga di antaranya menghasilkan karya berupa alat pemusnah sampah dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, alat pengurai limbah jumputan dari Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, dan alat sensor kerusakan jalan dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja, Agus Tri Haryono mengatakan penelitian tematis pembangunan tahun 2021 ini dilaksanakan oleh para dosen. Sebelumnya, Tim Jaringan Penelitian Kota Jogja menyaring 100 proposal menjadi sepuluh tim.

“Harapannya alat tersebut dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada di Kota Jogja. Dalam pengembangannya, peneliti bisa bekerja sama dengan pemerintah,” kata Agus saat penyerahan alat hasil penelitian kepada masyarakat dan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja di Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Selasa (14/12). "Selain juga ada alat pembuatan pelet pakan ikan hias dari Universitas Janabadra yang pembiayaanya dari Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi.”

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan sinergitas antara kampus dengan pemerintah merupakan bagian dari program Gandeng Gendong. Dalam program ini, lima unsur seperti Pemkot Jogja, Korporasi, Kampus, Komunitas, dan kampung saling bersinergi.

"Kampus dapat mengambil peran dengan melakukan pelatihan dan pendampingan dalam berbagai hal, di antaranya menciptakan alat produksi, pemasaran, dan manajeman terhadap usaha mikro dan kecil, melakukan evaluasi dan monitoring dalam produksi, dan masih banyak lagi," kata Heroe.

Gandeng Gendong sebagai upaya menggandeng unsur yang memiliki sumber daya seimbang, serta menggendong unsur yang kekurangan sumber daya. Sebelumnya, program dari lima unsur tersebut berjalan terpisah-pisah dengan misinya masing-masing. Harapannya ke depan kegiatan bisa saling bersinergi.

“Kami coba jadikan satu dengan gerakan dari pemerintah dan masyarakat,” kata Heroe.

Salah satu peneliti dari UAD Yogyakarta, Wiska Aditya Rosyadi mengatakan apabila alat sensor kerusakan jalan bisa dimanfaatkan menggunakan kendaraan. Sembari kendaraan berjalan, alat ini bisa mendeteksi adanya lubang beserta kedalamannya.

“Saat kendaraannya melewati lubang jalan, ada indikator yang berbunyi, menganalisis lubang jalan mulai dari seberapa lebar, dalamnya seberapa, dan posisinya di mana,” kata Wiska.

Alat ini bisa dimanfaatkan untuk mempercepat deteksi lubang dan kebutuhan material untuk memperbaikinya. “Harapannya alat ini akan dimanfaatkan dinas terkait, dengan adanya penyempurnaan dalam penerapan di lapangan,” katanya.