WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Truk terjebak lahar hujan di sungai Boyong, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kamis (3/2/2022)/Ist BPBD Sleman
Harianjogja.com, SLEMAN—Hujan deras yang mengguyur kawasan Pakem, Sleman menyebabkan puluhan truk terjebak. Hujan tumpah saat tengah terjadi antrean truk.
Sebanyak 24 truk penambang pasir terjebak di Sungai Boyong, di lereng Turgo, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, setelah terjadi hujan deras di sekitar Gunung Merapi yang mengakibatkan meluapnya aliran sungai, Kamis (3/2/2022) siang.
Kabid Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan hujan dengan intensitas tinggi di lereng atas Merapi arah aliran sungai boyong ini menyebabkan aliran lahar hujan sekira pukul 12.30 WIB.
Di waktu bersamaan, jalur truk penambang pasir yang hanya satu sedang terjadi antrean panjang lantaran ada truk yang mengalami kerusakan as. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, lantaran para awak truk langsung lari menyelamatkan diri. “Tidak ada korban. Mereka sudah lari semua meninggalkan truknya,” ujarnya.
BACA JUGA:5 Desa Wisata di Lereng Merapi, Adem, Mainannya Edukatif
TRC dan Sarlinmas langsung mendatangi lokasi dan melakukan evakuasi manual tak lama setelah kejadian. Evakuasi dilakukan setelah aliran air mulai berkurang. Truk kata dia, rata-rata terjebak lahar hujan di kedalaman sekitar satu meter.
“Kalau butuh alat berat nanti yang punya alat berat siapa, nanti komunikasi dengan PU [Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman]], mungkin yang punya alat berat untuk membantu evakuasi atau mungkin dengan rekan-rekan yang punya crane,” katanya.
Ia mengimbau para penambang untuk lebih waspada terutama dalam kondisi Gunung Merapi sedang erupsi dan cuaca ekstrem seperti saat ini. “Kalau mau mengais rezeki lewat Merapi ya dengan situasi seperti ini harus waspada betul. Kalau yang ditamoni lagi enggak mau ditamoni baru mengeluarkan awan panas, baru gede-gede luncuran lava, hujan deras di atas, itu mbok nyingkir dulu,” ujarnya.
Ia juga berharap dioptimalkannya fungsi paguyuban penambang yang dikoordinir oleh masyarakat setempat. Melalui radio komunikasi, harus ada yang memantau kondisi di atas. Hal ini kata dia, sudah disampaikan Pemkab SLeman kepada para penambang.
“Kemudian hujan deras ya nyingkir dulu, naik dulu semua. Tidak serta merta ngeyel \'udane biasa\', nggak boleh. Kita kan nggak tau seperti apa di atas, kita harus lihat situasi dulu. Jangan memaksakan kehendak,” ungkapnya .
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
PSGS mengingatkan Indonesia perlu memperkuat mitigasi gempa setelah fenomena gempa kembar di Venezuela memicu kekhawatiran risiko serupa
SMPN 1 Sanden menetapkan SOP layanan publik dan mengevaluasinya bersama masyarakat untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekolah.
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.990-Rp18.050 per dolar AS pada Jumat, dipengaruhi sentimen global dan domestik.
Suara Ibu Yogyakarta menggelar aksi damai di Bundaran UGM dengan tujuh tuntutan, mulai ekonomi, harga pangan, hingga kriminalisasi aktivis.
Harga emas Antam hari ini, Jumat 3 Juli 2026, naik Rp11.000 menjadi Rp2.651.000 per gram. Simak daftar harga emas semua pecahan.