Advertisement

KNKT: Ada Kesamaan Kecelakaan Bukit Bego Bantul & Balikpapan, Ini Penjelasannya

Bayu Jatmiko Adi
Rabu, 09 Februari 2022 - 19:07 WIB
Budi Cahyana
KNKT: Ada Kesamaan Kecelakaan Bukit Bego Bantul & Balikpapan, Ini Penjelasannya Bus pariwisata yang menabrak Bukit Bego, Bantul, Minggu (6/2/2022). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin

Advertisement

Harianjogja.com, SOLO—Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menyebut ada kesamaan dalam kecelakaan bus pariwisata di Bukit Bego Bantul dengan kecelakaan truk di Balikpapan.

KNKT menduga ada kesalahan dalam perpindahan gigi saat bus melaju cepat di jalan menurun dan menikung di Bukit Bego pada Minggu (6/2/2022).

BACA JUGA: Ini Kata-Kata Terakhir Sopir Bus Wisata Sebelum Kecelakaan Maut di Bukit Bego Bantul

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Menurut data KNKT, lebih dari 80% kecelakaan bus dan truk di jalan menurun disebabkan karena penggunaan gigi tinggi. Plt. Kepala Sub Komite Moda Investigasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT, Ahmad Wildan, saat ditemui di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Solo, Selasa (8/2/2022), mengatakan penyebab kecelakaan seperti di Bukit Bego Bantul kebanyakan bukan karena malfungsi kendaraan, tetapi penggunaan gigi tinggi di jalan menurun.

Dia menjelaskan berdasarkan investigasi yang dilakukan KNKT beberapa hari terakhir, melalui keterangan saksi, pengemudi bus sempat kesulitan mengerem, kemudian memindahkan perseneling dari gigi 3 ke gigi 2.

“Itu tidak mungkin terjadi. Sebab pasti akan masuk gigi netral. Karena tidak ada otomotif mana pun saat kecepatan tinggi bisa berpindah gigi. Tidak bisa memindahkan gigi dari 3 ke 2, 4 ke 3,  dan sebagainya, pasti akan masuk netral. Kalau mau menurunkan gigi seharusnya sebelum turunan. Pada saat turun tidak mungkin gigi bisa dipindah," kata dia.

Dalam posisi gigi netral, laju kendaraan akan lebih cepat. Sebab, kendaraan yang meluncur di jalan menurun bukan didorong putaran mesin tapi oleh gaya grafitasi. Tanpa digas pun, kendaraan akan melaju dengan kecepatan tinggi di jalan menurun.

Menurut penyelidikan KNKT dalam kecelakaan di Bukit Bego Bantul, saat kecelakaan terjadi, pengemudi belum sempat menarik hand brake atau rem tangan. “Kenapa tidak ditarik, mungkin panik. Saya tidak bisa tanya karena pengemudi sudah meninggal. Faktanya hand brake belum tertarik,” ujar dia.

Menurutnya pada kecelakaan di Bantul, sistem rem bus yang menabrak tebing Bukit Bego bermasalah, tapi bukan dadi sisi teknik. Namun, masalahnya ada pada tekanan angin yang tekor. Tekornya bukan karena rem tidak berfungsi, melainkan karena penggunaan. Dia pun menyarankan kepada para pengemudi truk maupun bus agar saat berada di jalan menurun tidak menggunakan pedal rem untuk mengurangi kecepatan. Di jalan menurun, sopir lebih disarankan menggunakan tuas engine brake dan exhaust brake.

Advertisement

BACA JUGA: Tak Hanya di Jalur Mangunan Bantul, Ini Deretan Kecelakaan Maut di Jalur Wisata

Selain itu, sopir tidak boleh menggunakan gigi tinggi di jalanan menurun.

“Semakin tinggi tempat, semakin besar gaya dorong. Meskipun pakai gigi tiga, kecepatan bisa mencapai 80 [km/jam]. Saya sudah mencoba sendiri. Saya pakai kendaraan, saat ada kecelakaan di Sumedang. Saya dari atas ke bawah, pakai gigi 2, tanpa menginjak gas, kecepatan sampai 70 [km/jam]. Jalur di Sumedang dengan di sini [Bantul], tinggi yang di Bantul,” kata dia.

Advertisement

Cara Kerja Rem

Wildan kemudian menjelaskan mengenai sistem kerja rem dan bagaimana pengaruhnya terhadap kecelakaan di Bukit Bego maupun di Balikpapan.

“Saat mengegas, rem mengisi angin. Saat mengerem, rem membuang angin. Jadi saat kendaraan berjalan menurun, tidak punya kesempatan mengisi angin karena tidak mungkin mengegas,” jelas dia.

BACA JUGA: 4 Tahun Lalu, Kecelakaan Maut Bus Wisata juga Terjadi di Bukit Bego Jalan Imogiri Mangunan Bantul

Ketika kendaraan berjalan di jalan menurun dan pengemudi terus mengerem, angin akan terus dibuang. Dia mengatakan ambang batas tekanan angin pada rem adalah 6 bar.

Advertisement

“Ketika di posisi di bawah ambang batas, pengemudi tidak akan bisa mengerem. Kasus ini sama persis seperti di simpang Rapak Balikpapan. Sopir di Balikpapan mengatakan tekanan anginnya pada 5 bar dan dia tidak bisa ngerem lagi," lanjut Wildan.

Kecelakaan di Balikpapan terjadi pada Jumat pagi, 21 Januari 2022. Truk tronton yang memuat 20 ton kapur pembersih menabrak enam mobil dan 14 sepeda motor di perempatan Muara Rapak. Empat orang tewas dalam kejadian tersebut.

Menurutnya pada kecelakaan tersebut, sistem rem bus yang menabrak tebing Bukit Begi bukan tidak ada masalah. Namun, masalahnya ada pada tekanan angin yang tekor. Tekornya bukan karena rem tidak berfungsi, melainkan karena penggunaan. Dia pun menyarankan kepada para pengemudi truk maupun bus agar saat berada di jalan menurun tidak menggunakan pedal rem untuk mengurangi kecepatan. Di jalan menurun, sopir lebih disarankan menggunakan tuas engine brake dan exhaust brake.

Advertisement

BACA JUGA: Pria Ini Kehilangan Ayah, Ibu, Anak, dan Neneknya akibat Kecelakaan Maut di Bukit Bego Bantul

Selain itu, sopir tidak boleh menggunakan gigi tinggi di jalanan menurun.

“Semakin tinggi tempat, semakin besar gaya dorong. Meskipun pakai gigi tiga, kecepatan bisa mencapai 80 [km/jam]. Saya sudah mencoba sendiri. Saya pakai kendaraan, saat ada kecelakaan di Sumedang. Saya dari atas ke bawah, pakai gigi 2, tanpa menginjak gas, kecepatan sampai 70 [km/jam]. Jalur di Sumedang dengan di sini [Bantul], tinggi yang di Bantul,” kata dia.

 

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kapolres Malang Dicopot dari Jabatannya, Buntut Tragedi Kanjuruhan

News
| Senin, 03 Oktober 2022, 19:27 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement