Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019)./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sedikitnya 12 warga di Kapanewon Gedangsari dan Ponjong dinyatakan positif antraks. Meski demikian, Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan kondisi warga terpapar dalam keadaan baik.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, sudah menerima hasil laboratorium berkaitan dengan uji sampel antraks yang diduga menular ke manusia. Total ada 26 warga yang dites dan hasilnya ada 12 orang yang dinyatakan positif antraks, sedangkan 14 warga lainnya negatif.
“Sudah keluar hasilnya dan memang ada belasan warga yang dinyatakan positif terkena antraks,” katanya, Rabu (9/2/2022).
Dewi pun memastikan, seluruh warga yang terpapar dalam keadaan baik serta berada di rumah masing-masing. Upaya pengawasan juga terus dilakukan untuk memantau kondisi para warga ini. “Akan terus dipantau kesehatannya,” katanya.
BACA JUGA: Temui Warga Wadas, Ganjar Pranowo Bicara soal Ganti Rugi Tambang Material untuk Proyek Bendungan
Dewi menambahkan, antraks merupakan jenis penyakit zoonosis, yakni hanya menular dari hewan ke manusia, tidak antar manusia. Oleh karenanya, masyarakat diminta untuk tidak panik karena upaya penangulangan terus dilakukan.
“Upaya pencegahan juga butuh partisipasi dari masyarakat. Salah satunya selektif memilih daging yang segar dan pastikan dari hewan yang sehat,” imbuh dia.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan, upaya pencegahan penularan antar hewan terus dilakukan. Salah satunya memperluas angkauan penyuntikan anti biotik untuk ternak warga.
Dia mencontohkan, kasus penularan di Gedangsari terjadi di Dusun Jetis. Meski demikian, upaya penyuntikan dilakukan di sejumlah dusun mulai dari Jatibungkus, Ngasinan, Pace A dan Pace B. “Akan kami optimalkan agar penularan bisa ditekan,” katanya.
Ia berharap, hewan ternak seperti sapi dan kambing dalam kondisi mati langsung dikuburkan. Hal ini dikarenakan risiko penularan antraks paling tinggi terjadi saat ternak sakit lalu disembelih. Kondisi tersebut menyebabkan bakteri antraks yang berdiam di darah akan kontak dengan udara dapat membentuk proteksi, sehingga lebih mudah menular.
“Janga dibrandu dan lebih baik dikubur. Memang dengan brandu bisa meringankan pemilik karena uang yang diberikan, tapi risikonya berahaya karena bisa menyebabkan penularan antraks,” katanya.
Kelik menambahkan, saat sekarang sedang mempersiapkan kebijakan memberikan santunan ternak yang mati akibat antraks. “Masih dikaji dan mudah-mudahan segera ada payung hukumnya untuk pelaksanaan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Harga emas Pegadaian hari ini naik. Emas Antam tembus Rp2,887 juta per gram, UBS Rp2,845 juta, dan Galeri24 Rp2,782 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Global Sumud Flotilla menyebut seluruh kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza dicegat pasukan Zionis Israel di perairan internasional.
Jadwal SIM Kulonprogo Mei 2026, tersedia layanan di Mal Pelayanan Publik Kulonprogo.
Jadwal pemadaman listrik DIY hari ini Rabu 20 Mei 2026 terjadi di Sleman dan Bantul. Simak wilayah terdampak dan jam pemeliharaan PLN.