Bed Kritikal untuk Pasien Covid-19 di DIY Tinggi, Ini Penyebabnya

Sunartono
Sunartono Selasa, 29 Maret 2022 17:57 WIB
Bed Kritikal untuk Pasien Covid-19 di DIY Tinggi, Ini Penyebabnya

Ilustrasi. /ANTARA FOTO-Novrian Arbi

Harianjogja.com, JOGJA--Keterisian bed Covid-19 di DIY untuk pasien kritikal lebih tinggi dibandingkan nonkritikal terjadi selama beberapa pekan terakhir, meski kasus Covid-19 mulai turun. Pemda DIY pun mengungkap penyebabnya.


Pada Senin (29/3/2022) misalnya BOR nonkritikal menurun di angka 17,60% dari total ketersediaan 1.733 bed di seluruh rumah sakit rujukan di DIY. Tetapi untuk BOR kritikal lebih tinggi di angka 23,98 persen dari total 196 bed yang tersedia.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan penyebab tingginya BOR kritikal dibandingkan nonkritikal karena banyak masyarakat memahami bahwa omicron memiliki karakter tingkat bahaya yang rendah. Sehingga sekedara batuk, flu atau gejala omicron, mereka tidak segera memeriksakan diri ke dokter, tetapi cukup meminum obat secara andiri. Tetapi kadang masyarakat lupa bahwa penderita positif tersebut memiliki komorbid.

“Karena kadang ada yang memiliki pemikiran minum obat nanti sembuh. Tetapi saturasi tidak dikontrol, tahu-tahu rendah. Ke rumah sakit telat, kebanyakan seperti ini,” katanya, Selasa (29/3/2022).

BACA JUGA: Nikah di Dalam Gua, Pasangan di Gunungkidul Ini Pakai Mahar Walang Goreng

Oleh karena jika merasa ada komorbid begitu ada gejala omicron diminta segera diperiksakan ke dokter agar didampingi pengobatan. Kondisi pasien telat dibawa ke rumah sakit ini terjadi di beberapa wilayah di DIY

“Tetapi yang terjadi rata-rata datang ke rumah sakit terlambat, sudah sangat parah maka masuknya kritikal. Sehingga BOR kritikal ini menjadi lebih tinggi dibandingkan nonkritikal,” ucapnya.

Soal penilaiannya evaluasi PPKM ditetapkam oleh Pemerintah Pusat, namun berdasarkan sejumlah indikator seperti positivity rate, BOR, kasus harian dan kasus aktif mengalami penurunan signifikan. “Mungkin bisa saja kita [DIY ini akan turun level, tetapi terlepas dari itu saya kira pelevelan yang sekarang tidak seperti awal dulu, kalau dulu harus ada penyekatan. Sekarang tidak memungkinkan lagi [untuk menyekat],” katanya.

Aji mengatakan perlua diantisipasi terkait kemungkinan adanya kerumunan karena pemerintah pusat sudah mengizinkan untuk salat tarawih saat ramadan dan salat Idul Fitri saat lebaran. Begitu juga saat mudik juga diizinkan sehingga memungkinkan orang berkerumun akan lebih banyak. Terkait edaran pelaksanaan ramadan, DIY masih menunggu aturan dari Pemerintah Pusat supaya tidak bertentangan dengan pusat.

“Karena mudik sudah diperbolehkan salat dibolehkan, mestinya tetap ada pengaturan prokes di Masjid saat tarawaih terus soal salat id. Lalu ada orang buka pasar tiban itu juga harus lebih hati hati. Aktivitas kita jalan terus tetapi prokesnya ditingkatkan,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online