Ahmad Luthfi Ingatkan Pentingnya Clean and Good Government
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi prihatin atas kabar OTT KPK yang diduga melibatkan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo. Ia masih menunggu konfirmasi resmi KPK
Anggota DPRD DIY, Boedi Dewantoro (berdiri) saat menyampaikan materi dalam acara Sosialisasi Ketahanan Keluarga di Pendopo Kalurahan Ringinharjo, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Selasa (7/6/2022). - Harian Jogja / Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL — Kasus stunting yang masih tinggi di DIY dan juga kasus kekerasan jalanan pada remaja yang marak akhir-akhir ini menjadi pembahasan dalam Sosialisasi Ketahanan Keluarga yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY di Pendopo Kalurahan Ringinharjo, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Selasa (7/6/2022).
Berdasarkan data DP2AP3 DIY sesuai instruksi Presiden RI target angka stunting tahun 2024 sebesar 14%. Sementara pada 2019 angka stunting di DIY masih di angka 21%. Sementara pada 2021 stunting di DIY 17,3%. Tidak hanya DIY, Bantul juga masih tinggi, 8,34% pada 2021 dari total bayi di bawah lima tahun (Balita) sebanyak sekitar 41.000. Sementara pada 2022 angka tersebut telah turun menjadi 6,7%.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak. Kondisi ini berefek jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia.
Anggota Komisi B DPRD Bantul, Boedi Dewantoro mengapresiasi dinas terkait yang mengangkat tema stunting dan kekerasan jalanan dalam Sosialsasi Ketahanan Keluarga ini. Menurutnya, angka stunting di DIY masih mengkhawatirkan.
“Anak lahir 1000 hari pertama tapi gizi kurang, data itu makanya harus diupayakan jangan sampai berlarut jadi masalah besar. Sosialisasi stunting ini minta tokoh perempuan, ibu-ibu PKK bagaimana siapkan keluarga, tidak hanya aspek rohani persiapan mental tapi juga aspek pemenuhan gizi,” kata Boedi.
Tidak hanya kasus stunting, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menyoroti soal kekerasan jalanan yang marak akhir-akhir ini di DIY. Ia menyadari polisi maupun Pemda DIY dan kabupaten kota sudah berupaya menekan kekerasan jalanan, namun faktanya masih terus terjadi sehingga dibutuhkan peran keluarga untuk mengatasi persoalan tersebut.
Ia berpendapat kekerasan jalanan berawal dari ketahanan keluarga, anak-anak tidak nyaman atau tidak mendapatkan tempat bagus atau komunikasi yang baik di rumah, sementara di luar diterima kelompoknya. Persoalannya ketika sudah bergabung dengan kelompok remaja di luar bukan positif yang didapatkan namun malah kegiatan yang negatif.
“Teman saya lakukan survei kecil-kecilan. Hasilnya kalau anak mau jadi masuk anggota geng itu ternyata dilatih terlebih dahulu, misalnya berani minuman ini habiskan atau itu digebuk. Ini yang terjadi, anak anak yang tak dapatkan kenyamanan di keluarga akhirnya mereka menemukan kenyamanan di luar dan terpengauh tindakan negatif,” ucap Boedi.
Lebih lanjut Boedi juga menyoroti soal pengaruh globalisasi. Saat ini dengan adanya teknologi informasi berbagai informasi masuk tanpa jarak dan waktu. Jika tidak disikapi dengan benar bisa masuk pada ruang-ruang privat akhirnya mempengaruhi tingkah laku dari budaya luar. Bahkan budaya-budaya luar yang tidak cocok dengan budaya ketimuran dan agama seperti di Indonesia
“Kalau tidak dicermati seksama dengan edukasi ketahanan keluarga tak menutup kemungkinan bisa jebol. Maka ketahanan keluarga sangat penting. Keluarga adalah benteng utama pendidikan anak-anak karena berpengaruh terhadap lingkungan,” tandas Boedi.
Selain Boedi Dewantoro, narasumber dalam Sosialisasi Ketahanan Keluarga di Ringinharjo tersebut adalah Yekti Utami dari Satgas PPA DIY; Ninik Istitarini dari Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Pendudik dan KB (DP3AP2KB) Bantul; Lurah Ringinharjo Sulistiya Atmaji; dan Sub Koordinasi Seksi Advokasi, Komunikasi, dan Edukasi, DP3AP2 DIY, Heru Triyono.
Heru Triyono mengatakan kegiatan Sosialisasi Ketahanan Keluarga yang digelar di Kalurahan Ringinharjo merupakan ke-25 kali dari target 32 kali dalam tahun ini yang diselenggarakan di kabupaten dan kota di DIY. Selama Juni ini kegiatan sosialisasi lebih difokuskan pada penanganan stunting dan dan kekerasan jalanan.
“Harapannya sosialisasi ini bisa memberikan edukasi pada masyarakat betapa pentingnya penanganan stunting. Jadi pondasi dalam mengembangkan sumber daya manusia. Kalau bisa menangani angka stunting, gizi bagus, pertumbuhan bagus, kualitas SDM bagus akhirnya,” kata Heru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi prihatin atas kabar OTT KPK yang diduga melibatkan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo. Ia masih menunggu konfirmasi resmi KPK
PSIM Jogja tertahan di peringkat ke-16 dengan satu poin. Java United naik ke posisi ke-12, sedangkan Persijap terpuruk di dasar klasemen.
Wabup Gunungkidul Joko Parwoto menjelaskan ketidakhadirannya dalam sejumlah agenda Hari Jadi ke-196 karena sakit gigi dan perlu penanganan dokter.
Pertamina memastikan stok Pertalite di DIY aman. Namun, tambahan kuota belum disetujui di tengah kenaikan konsumsi dan antrean SPBU.
Luthfi Habibi/Dian Ramadhani Mukti lolos ke final BWF World Junior Championships 2026 setelah bangkit dan mengalahkan pasangan Chinese Taipei.
Jerman, Kanada, Australia, Selandia Baru, UEA, Belanda, dan Spanyol menawarkan jalur kerja bagi warga asing. Cek persyaratan visa sebelum mendaftar.