Bau Menyengat Ganggu Warga Berbah, Produksi Pelet Diminta Pindah
Keluhan bau menyengat selama dua tahun di Tegaltirto, Berbah, Sleman, ditindaklanjuti pemerintah. Produksi pelet diminta dipindah dan ditutup.
Ilustrasi sapi/Pixabay
Harianjogja.com, SLEMAN--Kebutuhan hewan kurban di Kabupaten Sleman tahun ini yang masih tinggi berbanding terbalik dengan ketersediannya. Kondisi tersebut diperparah oleh terbatasnya jumlah hewan kurban akibat meluasnya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Berdasarkan data Dinas Pertanian Pangan dan Peternakan (DP3) Sleman, kebutuhan sapi kurban tahun ini mencapai 8.268 ekor sapi sementara ketersediaan ternak sapi hanya sekitar 4.260 ekor atau kurang 4.008 ekor. Adapun untuk domba dari kebutuhan sebanyak 7.082 ekor baru tersedia sebanyak 6.029 ekor atau kurang 1.053 ekor.
BACA JUGA: Mie Ayam Warna dari Mie Ayam Bakso Pojok Kimia Farma
Begitu juga dengan ketersediaan kambing kurban. DP3 Sleman mencatat kebutuhan kambing kurban mencapai 2.529 ekor tetapi yang tersedia saat ini sebanyak 2.156 ekor atau kurang sebanyak 373 ekor.
Hanya kerbau yang dinilai lebih, dari kebutuhan satu ekor saat ini tersedia dua ekor kerbau. "Dengan kondisi saat ini, artinya Sleman kekurangan stok hewan kurban," ujar Plt Kepala DP3 Sleman Suparmana, Rabu (8/6/2022).
Untuk memenuhi kebutuhan, lanjut Suparmono, Pemkab tetap membuka akses perdagangan ternak antardaerah namun dengan pengawasan ketat.
Hal itu sesuai dengan petunjuk Bupati dan Wakil Bupati Sleman sehingga pasar hewan di Sleman tidak ditutup. "Sebagai gantinya kami melakukan pengawasan ketat. Sebab penutupan pasar hewan tidak menyelesaikan masalah PMK," ungkapnya.
Setiap tahun, lanjut dia, stok hewan kurban selalu didatangkan dari luar daerah seperti dari Purworejo, Jawa Tengah, Bali maupun Jawa Timur.
BACA JUGA: Asyik! Status PPKM Turun ke Level 1, Atraksi Wisata di Sleman Akan Meriah
Alasannya, bila hanya mengandalkan jumlah ternak lokal maka stok hewan kurban tidak akan mencukupi. "Pada awal-awal ditemukan kasus PMK harga ternak sempat anjlok karena pemiliknya buru-buru menjual. Tetapi saat ini harganya mulai melonjak karena stoknya berkurang," ujarnya.
Dia menilai terjadi penurunan transaksi 30-40% di pasar hewan Ambarketawang, Gamping semenjak kasus PMK meluas. "Yang kami lakukan saat ini, setiap ternak yang suspek PMK langsung dikarantina, diobati sampai sembuh. Ini untuk mencegah terjadinya perluasan kasus sebab di DIY suspek ini sudah menyebar," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Keluhan bau menyengat selama dua tahun di Tegaltirto, Berbah, Sleman, ditindaklanjuti pemerintah. Produksi pelet diminta dipindah dan ditutup.
SIMAK RISKI dikembangkan Pemkot Jogja untuk mengintegrasikan manajemen risiko dengan SAKIP dan mencegah target kinerja terganggu.
Luhut menyebut 50 juta masyarakat miskin desil 1–5 akan menerima bansos digital. Penyaluran ditargetkan mulai 2027 secara cashless.
Kejati DIY menetapkan ABW sebagai tersangka dugaan korupsi kelonggaran tarik pinjaman senilai sekitar Rp1,66 miliar di Wonosari.
KPK memeriksa empat saksi kasus dugaan gratifikasi Rp20,7 miliar yang menjerat mantan Kepala Kanwil DJP Jakarta Khusus Muhammad Haniv.
Minyak jelantah dari MBG, KDMP, rumah tangga hingga restoran dijajaki Pertamina sebagai bahan baku bahan bakar pesawat ramah lingkungan.