Advertisement

Penelitian: Air Hujan di Kota Jogja Tercemar Mikroplastik, Paling Parah di Tugu

Sunartono
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 12:07 WIB
Budi Cahyana
Penelitian: Air Hujan di Kota Jogja Tercemar Mikroplastik, Paling Parah di Tugu Tugu Jogja, Oktober 2020. - Harian Jogja/Desi Suryanto

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Hasil penelitian mahasiswa dan dosen prodi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja menemukan adanya pencemaran mikroplastik pada kandungan air hujan di Kota Jogja. Pencemaran paling parah terjadi di kawasan Tugu Pal Putih Kota Jogja yang dipicu oleh banyaknya kendaraan bermotor.

Peneliti Biologi UAD Safa Aulia Zahra menjelaskan mikroplastik telah terdeteksi pada jalan raya di sepanjang garis imajiner atau Sumbu Filosofi yang membentang dari Bantul, Kota Jogja, hingga Sleman. Hasil penelitiannya menemukan kandungan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sampel air hujan yang jatuh di kawasan Monumen Tugu Jogja dengan angka sebesar 393 partikel/L.

BACA JUGA: Danais Baru Cair Separuh, Pembangunan Lumbung Pangan Mataraman Baru Capai 50%

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

"Kemudian sampel yang kami amati pada jalan raya di depan Pasar Bantul yaitu 350 partikel/L, dan di Jalan Kaliurang kilometer 14 sekitar 322 partikel/L," katanya melalui keterangan tertulis, Sabtu (13/8/2022).

Dosen Biologi UAD Inggita Utami menambahkan kandungan mikroplastik yang cukup mencengangkan itu salah satunya disebabkan padatnya kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya di pusat kota dan kabupaten di DIY. Di sisi lain, penelitian University of Hamburg, Jerman, menghasilkan sumber utama mikroplastik di atmosfer salah satunya berasal dari abrasi ban kendaraan bermotor.

Temuan itu sesuai dengan fakta karakteristik mikroplastik yang ditemukan pada sampel air hujan di Kota Jogja yang berbentuk fiber atau serat, berwarna hitam, dengan ukuran 101 hingga 500 mikrometer. Adapun jenis polimer polipropilena yang menjadi polimer sintetis untuk pembuatan ban kendaraan.

"Sumber mikroplastik fiber di atmosfer dapat berasal dari limbah tekstil yang terhempas melalui udara. Industri tekstil yang kini banyak menggunakan serat sintetis, dapat melepas partikel mikrofiber ke atmosfer bahkan terbang menuju ke kawasan dengan jarak puluhan hingga ratusan kilometer," kata alumnus Magister Sustainability Sains di Tokyo University ini.

Ia menjelaskan polimer sintetis fiber tersebut bisa tercampur air hujan memenuhi sumber air tawar di area DIY. Hasil riset tim peneliti Laboratorium Ekologi dan Sistematika UAD ini sudah membuktikan dominasi mikroplastik berbentuk fiber pada Sungai Progo yang melintasi Sleman dan Bantul.

BACA JUGA: Berburu Kuliner di Sumbermulyo, Bantul? Ganjuran Food Court Saja

Advertisement

Warga masyarakat khususnya yang menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari diminta lebih waspada. Sebab, partikel mikroplastik berukuran 1 hingga 5.000 mikrometer harus tersaring dengan filter mikroskopis.

"Pemerintah daerah khususnya dinas terkait yang menangani masalah pencemaran lingkungan sudah seharusnya merumuskan kebijakan dari hasil temuan mikroplastik di DIY ini. Hingga saat ini, mikroplastik belum menjadi parameter yang perlu diukur dalam baku mutu lingkungan. Padahal, mikroplastik yang terakumulasi di tubuh makhluk hidup menyebabkan iritasi saluran pencernaan hingga bersifat karsinogenik," katanya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Buron Tujuh Tahun, Pria Ini Tertangkap Saat Daftar Kerja di Kantor Polisi, Eh Gimana?

News
| Selasa, 04 Oktober 2022, 10:47 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement