Buntut Serangan Ransomware, Jokowi Minta BPKP Audit Tata Kelola Pusat Data Nasional
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Chandra menunjukkan salah satu tahapan proses pengolahan sampah di Rumah Inovasi Daur Ulang PIAT UGM, Senin (5/9/2022) lalu./Harian Jogja-Lajeng Padmaratri
Harianjogja.com, SLEMAN - Permasalahan sampah di Kota Jogja terus jadi perhatian banyak kalangan, salah satunya Chandra Wahyu Purnomo. Dosen Teknik Kimia UGM ini berupaya ikut membangun kesadaran masyarakat dan pemerintah mengenai pentingnya penanganan limbah.
Persoalan sampah kota tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat yang tidak bertanggung jawab seperti membuang sampah sembarangan ke sungai.
Lebih dari itu, pengolahan limbah yang sudah masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) pun perlu dipikirkan cara pengolahannya.
Sayangnya, hingga kini belum banyak pemerintah daerah yang memprioritaskan pengolahan sampah di TPA. Akibatnya, sampah organik dan anorganik yang dihasilkan masyarakat terus menumpuk di lahan TPA.
Problem itu kian mengkhawatirkan ketika pandemi melanda sejak 2020 lalu. Kebijakan penggunaan masker untuk semua orang demi pencegahan virus membuat limbah masker menggunung.
Pada 2021, Chandra menjadi salah satu inisator drop box used mask (Dumask). Inisiasi ini dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat mengakses pembuangan masker dan sarung tangan bekas yang aman dan ramah lingkungan.
BACA JUGA: PIP Kerjasama dengan UGM, Sosialisasikan Pinjaman UMi Lewat Mahasiswa KKN
Untuk itu, dia menempatkan sejumlah drop box Dumask di beberapa titik di Kota Jogja agar masyarakat bisa membuang maskernya ke sana. Kemudian, masker yang terkumpul itu dihancurkan dengan metode pirolisis. Dalam perkembangannya, timnya juga tengah meneliti pengolahan limbah masker untuk dijadikan batako hingga dudukan kursi.
Sayangnya, beberapa drop box awal yang ia tempatkan di sejumlah titik harus ia tarik kembali ke Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, lembaga tempatnya banyak melakukan riset soal pemanfaatan limbah.
Dia menduga pemerintah kurang menaruh perhatian terhadap inovasinya, bahkan soal penanganan sampah secara umum.
"UU soal sampah itu udah banyak, tetapi penegakan hukumnya itu yang masih jadi pekerjaan rumah, jadi seperti tidak pernah selesai. Dari hulunya masalah, di hilirnya pemerintah juga nggak siap dengan teknologi [pengolahan sampah]. Kita ketinggalan jauh dari negara lain," kata Sekretaris PIAT UGM ini ketika ditemui Harianjogja.com di kantor PIAT, Senin (5/9/2022) lalu.
Dosen yang menekuni bidang pemanfaatan limbah ini memperoleh Doctor of Engineering dari Department of International Development Engineering, Tokyo Institute of Technology, Jepang.
Tak heran, dia menjadikan cara negara-negara lain dalam penanganan limbah sebagai acuan. Sebut saja persoalan sampah di Jogja. Setiap harinya sekitar 600 ton sampah masuk ke TPST Piyungan di Bantul. Dengan jumlah ini, sampah tak lagi bisa diatasi hanya dengan ditumpuk, tetapi harus diatasi teknologi berskala industri besar.
Di PIAT, Chandra menjalankan sejumlah model teknologi pengolahan sampah yang ada di Rumah Inovasi Daur Ulang (Rindu).
Sekarang, kapasitas pengolahan sampah di sana mencapai 2-3 ton sampah per hari yang bersumber dari kampus UGM. Di sana, pengolahan sampah yang diprioritaskan ialah pengolahan sampah organik.
"Main process-nya di kompos. Tetapi, karena sampah dari UGM juga belum terpilah, masih banyak [sampah anorganik] ikutannya, jadi kami juga punya mesin pengolahan lain seperti incinerator," ujarnya.

Dengan begitu, setidaknya sebagian sampah dari kampus itu bisa diolah di sana dan tidak membebani TPA.
Sampah organik dijadikan kompos untuk dijual, sementara sampah anorganik ada yang diolah jadi bahan bakar, batako, dan berbagai material lain untuk kepentingan penelitian.
Teknologi
Selain aktif di PIAT, Chandra juga menjadi koordinator Indonesian Solid Waste Forum (ISWF). Di sana, dia banyak membangun diskusi dengan akademisi, kementerian terkait hingga LSM tentang penanganan sampah di daerah.
Menurut Chandra, masyarakat masih memandang sampah sebagai masalah dan beban. Sehingga mereka hanya ingin sampah itu hilang begitu saja, seperti dengan disetor ke TPA melalui iuran sampah warga di kampung.
Namun, cara yang lebih buruk juga masih terjadi, seperti sampah yang dibuang ke tempat ilegal hingga dibakar.
Sampah organik yang dihasilkan bisa dijadikan kompos di halaman rumah. Sementara, sampah anorganik bisa disetor ke tukang rongsok maupun bank sampah. Di Jogja, layanan ini sudah cukup banyak dan dikemas dengan cara modern.
Meski demikian, Chandra menganggap hal itu saja tidak cukup jika pengolahan sampah hanya dilakukan masyarakat. Sebab, pemerintah daerah harus menyediakan teknologi pengolahan sampah yang tidak bisa diolah warga.
"Misalnya sampah anorganik seperti sterofoam, batu baterai, dan sebagainya. Tidak mungkin kalau limbah itu yang mengolah masyarakat, jadi butuh teknologi skala besar yang bisa disediakan pemerintah," kata dia.
Lewat berbagai forum, Chandra berupaya membangun kesadaran pemerintah mengenai pengelolaan sampah kota. Baginya, Indonesia sudah cukup maju untuk dalam membuat infrastruktur seperti bandara, jembatan, dan banyak sarana lainnya.
Ia berharap pemerintah bisa mulai berinvestasi sejak sekarang untuk pengolahan sampah. Jika belum ada teknologi di level rumah tangga hingga TPA, maka penumpukan sampah akan terus jadi masalah hingga pada akhirnya nanti jadi bom waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
KPK mengawasi program Makan Bergizi Gratis agar bebas korupsi. Anggaran MBG 2026 mencapai Rp268 triliun dan jadi sorotan.
Kemeriahan Laki Code kemudian ditutup dengan special performance dari DJ Paws dan Los Pakualamos yang memukau dari panggung utama
UII mengecam penangkapan relawan dan jurnalis dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza, termasuk alumnus UII asal Indonesia.
Jadwal KA Bandara YIA menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dan sebaliknya pada 20 Mei 2026, lengkap dari pagi hingga malam hari.
Lamine Yamal menargetkan rekor sebagai pemain Spanyol termuda yang mencetak hat-trick di Piala Dunia 2026 bersama La Roja.