Advertisement

Baru Pulih dari Pandemi, Wisata Bantul Tak Berdaya Dihajar Mahalnya Harga BBM

Ujang Hasanudin
Rabu, 21 September 2022 - 22:17 WIB
Arief Junianto
Baru Pulih dari Pandemi, Wisata Bantul Tak Berdaya Dihajar Mahalnya Harga BBM Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono (kiri) menyerahkan bendera PHRI kepada Ketua BPC PHRI Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo di Hotel Ros In, Sewon, Bantul, Rabu (21/9/2022). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah berlalu sejak tiga pekan lalu, tetapi dampaknya masih dirasakan oleh para pelaku jasa usaha pariwisata atau UJP di Bantul.

Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Bantul, Yohanes Hendra Dwi Utomo mengatakan kenaikan BBM dampaknya cukup menganggu bagi pelaku jasa usaha pariwisata seperti hotel, restoran, dan juga destinasi wisata karena tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan bagi para tenaga kerjanya.

Menurutnya saat ini, kondisi usaha jasa pariwsata atau UJP baru pulih pascapandemi Covid-19, kemudian ditambah lagi dengan adanya kenaikan harga BBM.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

“Otomatis anggota kami mengeluh karena para pekerja tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan,” kata Hendra, sapaan akrab Yohanes Hendra Dwi Utomo, sesuai menggelar Musyawarah Cabang BPC Bantul di Hotel Ros In, Sewon, Bantul, Rabu (21/9/2022).

BACA JUGA: Cekcok soal Parkir, Bakul Angkringan Dibacok Penjual Burjo

Dalam Musyawarah Cabang tersebut Hendra terpilih sebagai ketua BPC PHRI Bantul untuk periode 2023 sampai 2028 mendatang. Hendra mengatakan kenaikan harga BBM sudah tidak bisa dihindarkan karena itu merupakan kebijakan dari Pemerintah Pusat.

Saat ini pihaknya meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul untuk sama-sama memperhatikan kondisi kesejahteraan pada pekerja di bidang UJP.

Selain berdampak pada kondisi pekerja, kata Hendra, kenaikan harga BBM juga berdampak pada kunjungan wisatawan di destinasi wisata dan restoran. Food And Beverage Manager Little Tokyo (Litto) ini mencontohkan kunjungan ke restoran dan destinasi wisata Litto yang biasanya dalam sehari bisa mencapai 600 orang, saat ini hanya setengahnya.

Menurutnya banyak wisatawan yang mengeluhkan kunjungan ke Jogja saat ini membutuhkan biaya mahal karena biaya transportasi sudah naik.

Advertisement

“Untuk sewa bus berukuran sedang dari yang biasanya Rp1,4 juta dalam sehari saat ini sudah mencapai Rp1,8 juta dalam sehari. Kuota sama, harga yang naik, ini juga salah satu faktornya kunjungan wisatawan menurun,” katanya.

Sementara untuk okupansi atau tingkat keterisian hotel diakuinya sempat terganggu di awal-awal kenaikan harga BBM, tetapi saat ini sudah meningkat kembali terutama di akhir pekan dan hari libur. Sementara untuk hari biasa masih dibawah 50% keterisiannya.

Untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Jogja perlu usaha keras dalam mempromosikannya. “Tetapi promosi bersama bukan jadi kunci. Sebenarnya kunci utama Pemerintah Pusat tidak memberatkan dulu karena sektor pariwisata baru mulai bangkit,” ucap Hendra.

Advertisement

Lebih lanjut Hendra mengatakan saat ini pihaknya terus bekerja sama dengan sejumlah stakeholder terutama Pemkab Bantul untuk bersama-sama membantu kebangkitan pelaku usaha jasa pariwsiata.  

BACA JUGA: Kecelakaan Karambol di Selatan PG Madukismo, Pengemudi Brio Resmi Jadi Tersangka

Pegurus Badan Promosi Parwisata Daerah (BPPD) Bantul, Malia Sayuti mengakui dampak kenaikan harga BBM sangat terasa bagi industri pariwisata mulai dari destinasi wsiata, hotel, restoran, dan juga travel agent.

“Bulan ini mulai kelihatan sepi jika dibandingkan Agustus lalu. Padahal saat ini sudah ada kebebasan tamu dari luar untuk datang ke DIY, termasuk Bantul,” katanya.

Advertisement

Untuk menggaet wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara pihaknya selalu berupaya untuk terus memasarkannya, di antaranya dengan menggelar Jogja Travel Mart yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY, kemudian kemping atau bermalam di destinasi wsiata.

Selain itu, pada 20 Oktober mendatang akan ada pertemuan semua travel agent dan pengelola destinasi wsiata. "Pada 21-25 Oktober juga ada pameran destinasi wisata di JCM, pengelola wisata bisa menjual langsung kepada customer. Jadi sebenarnya kita terus berjualan,” ucap Malia.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kejari Purwokerto Tangkap Buronan Kejati Maluku Utara

News
| Kamis, 29 September 2022, 03:37 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement