Advertisement

Curhat soal Arisan di Kampung, Mbak-mbak Ini Malah Kena Semprot

Bernadheta Dian Saraswati
Kamis, 22 September 2022 - 12:07 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Curhat soal Arisan di Kampung, Mbak-mbak Ini Malah Kena Semprot Ilustrasi uang. - Bisnis/ Paulus Tandi Bone

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA-Sebuah akun di Facebook bernama Sity Ajeng belum lama ini terkena semprot warganet setelah dirinya mengunggah cerita soal arisan. Niat hati mencurahkan hati, ia malah mendapat komentar pedas.

Dipantau di Info Cegatan Jogja belum lama ini, unggahan Sity Ajeng itu sudah mendapat ribuan komentar. Banyak komentar yang menilai ia termasuk warga yang tidak kenal srawung atau sosialisasi.

Mengawali ceritanya, ia pertama-tama mengucapkan permintaan maaf karena merasa sebagai orang baru di tempat tinggalnya. Ia meminta maaf jika ada yang tidak berkenan dengan isi postingannya.

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Dalam paragraf kedua, tujuan ia memposting pengalamannya itu hanya untuk meminta solusi untuk keluar dari sebuah grup arisan yang ia ikuti. Menurutnya arisan itu tidak hanya membuang waktu dan tenaga tetapi juga uang.

Dari pengalaman di tempat tinggalnya yang baru itu, arisannya dirasa aneh karena peserta yang ketempatan arisan harus rela mengeluarkan Rp400.000 untuk konsumsi seluruh peserta arisan. Hal itu ia rasa memberatkan karena iuran arisan saja hanya Rp300.000.

Baca juga: Tahun Depan, Setiap Kelurahan di Jogja Dapat Rp15 Juta Untuk Kelola Sampah Organik

"Jadi di kampung yg baru saya tempati ada beberapa acara/arisan tapi arisan nya aneh , jadi misal kita dapat giliran dapat arisan kita juga yang sediain snack senilai 400rb(sudah di tentukan) padahal arisan nya cuma dapat 300rb," tulisnya dikutip Harianjogja.com, Kamis (22/9/2022).

Ia mengaku tidak berani menyampaikan keluh kesahnya itu kepada orang di kampungnya dan memilih untuk menceritakannya di media sosial. "Saya org baru jadi ga berani ngomong langsung ke orang kampung , itu hanya salah 1 acara aneh masi bnayak lagi acara aneh lain nya," lanjut dia.

Bukannya dibela, akun ini justru mendapat kritik. Warganet justru menilai Sity Ajeng tidak terbiasa bersosialisasi sehingga terheran-heran dengan kebiasaan warga di grup-grup arisan. Menurut mereka, menanggung uang konsumsi saat ketempatan arisan adalah hal wajar, apalagi di kampung-kampung.

Advertisement

Berikut ini sederet komentar pedas warganet:

"Dinggo wargo kok repot to piye kwi yo jenenge kanggonan tombok ki biasa dimana2 sama untuk kerukunan warga apalagi sampean wong anyar yen ra ngikuti yo pindah wae no hutan ben ra dikon melu arisan kan penak rasah ngeluh hadeeeh kwi tondo2 wong cetil" [Untuk warga kok repot, yang namanya ketempatan harus rugi itu biasa dimana-mana sama untuk kerukanan warga apalagi kamu orang baru kalau tidak mengikuti ya pindah saja ke hutan biar tidak disuruh ikut arisan kan enak tidak perlu ngeluh haduh itu tanda-tanda orang pelit].

"Setauku di kampung mana aja sama. Memang hasil gak seberapa di banding ketempatan /nyuguh nyediani snak . Tapi itu juga di tanggung satu kelompok juga dan ada uang subsidi dari dana rt".

Advertisement

"Nek mikir untung ro rugi yo bakulan wae.. Lurr. Mosok nompo dayoh kok yo dietung le nyuguh.. Jenenge wong sosial neng masyarakat je" [Kalau mikir untung dan rugi ya jualan saja Lur. Masa menerima tamu kok dihitung sajiannya. Namanya orang sosial di masyarakat].

"Gonku yo.Duit arisan dewe, duit snack ono dewe, tp yo nyepaki snack piye2 tep tombok, itung2 nyuguh tamu seng enak" [Di tempatku juga. uang arisan sendiri, uang snack ada sendiri, tapi menyiapkan snack bagaimanapun tetap rugi, hitung-hitung menyajikan untuk tamu yang enak.

"Arisan itu buat kerukunan antar warga. Keliatan nggak pernah kumpul tetanga ini... Jika merasa keberatan langsung bilang saja sama pengurus rt setempat..."

Namun ada pula yang berpendapat lain. Salah satu akun menilai bahwa tidak semua orang suka kumpul-kumpul bersama tetangga. "Ngeri ngeri ya komene podo nyalahin si mbak. Padahal ga semua orang suka serawung, ga semua orang suka kumpul2. Kalo saya sendiri jadi mbaknya ya cuek aja, ga ikut arisan mana2. Baik sama orang gapapa, tapi kalo disuruh serawung kumpul2 ghibah ngobrol ngalor ngidul ga dulu. Gapapa dibilang sombong, ga semua orang kudu manut melu melu pergaulan ," tulis salah satu akun. 

Advertisement

Saat Harianjogja.com mengecek foto profil Sity Ajeng, terlihat pengguna akun tersebut adalah seorang perempuan yang masih muda. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pemerintah Mau Bentuk Badan Usaha Milik Otorita IKN, Apa Kegunaannya?

News
| Selasa, 04 Oktober 2022, 22:27 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement