Nandur Srawung Ke-8, Ruang Penyaluran Energi Seni

Pengunjung sedang melihat karya di pameran Nandur Srawung di TBY, Jogja, Rabu (8/9/2021).-Harian Jogja - Sirojul Khafid
09 September 2021 08:27 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Pernah dengarkah Anda tentang Kappa? Seekor makhluk air dalam cerita rakyat Jepang? Dalam legendanya, Kappa berbentuk manusia dengan sisik di sekujuh tubuh, mirip dengan raptil. Besar tubuhnya seukuran anak-anak manusia. Beberapa warna yang sering tergambarkan berupa hijau, kuning, sampai biru.
Menariknya, daging Kappa dipercaya menjadi obat virus Corona, pandemi yang sedang meluas di seluruh penuju Bumi saat ini. Dalam film Mockumentary, sutradara Takuro Kotaka mengisahkan tentang seorang Indonesia yang belajar memburu Kappa. Ia bersama beberapa warga Jepang berburu Kappa di sungai. Salah satu tujuannya tentu untuk mendapat obat Covid-19, yang sampai saat ini belum ditemukan. Namun bukankah Kappa hanya hewan mitos rakyat Jepang?
Mungkin Takuro ingin memperlihatkan apabila saat ini seluruh orang sedang mencari obat Covid-19. Di sisi lain, kebohongan dan berita-berita yang tidak benar masih banyak berseliweran. Film karya Takuro menjadi satu dari 72 karya yang berpartisipasi dalam pameran Nandur Srawung Ke-8 bertema Ecosystem: Pranatamangsa. Sebanyak 72 karya ini berasal dari 167 seniman dari dalam dan luar negeri. Ada karya yang merupakan hasil kerja kreatif individu, adapula yang berkelompok. Pameran ini berlangsung selama 10-19 September 2021.
Menurut Kepala Kurator Nandur Srawung Ke-8, Rain Rosidi, tema kali ini berusaha memperlihatkan hubungan manusia dengan sesamanya dan juga alam semesta. Dalam hubungan dengan alam semesta misalnya, petani atau nelayan menggunakan tata bintang dalam melakukan pekerjaannya. “Konsep ekosistem merupakan konsep yang melihat bahwa manusia punya kebutuhan pada hal yang bersifat hidup, baik dengan manusia, lingkungan, maupun alam semasta,” kata Rain, Rabu (8/9).
Penyelenggaraan Nandur Srawung tahun ini merupakan tahun kedua di masa pandemi. Masa sulit ini juga tidak luput dalam sudut pandang seniman, tentang hubungan manusia yang berubah di masa pandemi.

Menemani dengan Seni
Sebelum pandemi karya yang masuk bisa 600-900, tetapi tahun ini sekitar 350. Meski secara jumlah menurun, Rain mengatakan kualitas karya tetap bagus. Bahkan untuk seniman-seniman muda, apresiasinya tergolong tinggi.
Tahun ini dominasi karya masih dari Jogja. Meski adapula dari daerah lain di Indonesia seperti Semarang. Untuk karya mancanegara berasal dari Jepang, Austria, Jerman, dan Swiss. Selain pameran, akan adapula pertunjukan, seni interaksi, diskusi, temu artis, pendampingan kurator muda, dan lainnya. “Bagi kami event seperti ini sangat dibutuhkan. Para seniman memiliki energi untuk berkarya, juga membutuhkan ruang presentasi,” kata Rain.
Tidak terbatas pada ruang pameran di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Nandur Srawung kali ini semakin mendekatkan diri pada masyarakat, termasuk para penderita Covid-19. Menurut kurator Nandur Srawung, Arsita Pinandita, ada empat tempat street art yang menjadi rangkaian acara. Keempat tempat ini berada di dekat RS Bethesda, RS Panti Rapih, Perempatan Ngampilan, dan Selter Covid-19 di Panggungharjo. “Kami undang beberapa seniman agar bisa memberi semangat pada masyarakat dan yang sedang terkena Covid-19,” kata Arsita.
Salah satu karya street art berupa dua gambar yang mengapit cermin. Seniman ini mengajak penikmat karya berefleksi. Perlu bersama-sama menghadapi pandemi ini, tidak hanya seorang diri. “Sebagai semangat, sama-sama berjuang dan beradaptasi. Bersama-sama menghadapi Covid-19, bahwa mereka tidak sendiri. Yang sedang terkena Covid-19, mari berjuang bersama,” kata Arsita.
Pandemi dan juga kebijakan PPKM Level 3 membuat penyelenggaran menyesuaikan sistem pameran. Ada dua cara pengunjung menikmati pameran di TBY, secara luring dan daring. Untuk luring, pengunjung harus mendaftar terlebih dahulu. Pengunjung di dalam ruang pameran terbatas untuk 20 orang dalam satu sesi. Waktu berkunjung dari pukul 10.00 sampai 17.00 WIB. Sebelum memasuki ruang, akan ada pemeriksaan surat vaksin. Dalam sehari ada tiga sesi dengan durasi maksimal kunjungan dua jam. Setiap sesi ada jeda satu jam. Dalam jeda ini, ada tiga alat sensor yang bisa membunuh bakteri atau virus di area pameran.
Bagi yang belum bisa datang ke area pameran, entah terkendala waktu atau lainnya, maka bisa memantau melalui sosial media dan juga website Nandursrawung.com.
“Bahkan dengan mengunjungi virtual, masyarakat bisa melihat karya sampai pada tataran konsepnya, bisa lebih detail,” kata Arsita.