Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Kondisi talud yang longsor merusak rumah warga di RT 4 RW 9 Gedang, Sambirejo, Prambanan, Kamis (11/11/2021)/Dok.BPBD Sleman
Harianjogja.com, SLEMAN—BPBD Sleman belum mendapat informasi dari BMKG mengenai fenomena La Nina Triple Dip. Meski demikian, sejumlah upaya mitigasi telah disiapkan untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi.
Kepala BPBD Sleman, Makwan, menjelaskan La Nina yang terjadi berturut-turut selama tiga tahun atau La Nina Triple Dip, selama tidak ekstrim masih bisa diatasi dengan daya dukung wilayah. “Tidak seperti Siklon Cempaka, saat itu kan ekstrem sekali. Kalau sekarang daya dukung wilayah masih mampu,” ujarnya, Kamis (20/10/2022).
Bencana hidrometeorologi pada akhir-akhir ini hanya terjadi dalam titik-titik kecil. Dampak terbanyak di Sleman adalah pohon tumbang atau longsor dalam skala kecil di wilayah tertentu.
“Sebenarnya longsor lebih banyak di tebing sungai, terasering di permukiman. Jadi karena masyarakat memanfaatkan sedikit kemiringan lahan, kemudian taludnya tidak kokoh, mungkin talud jaman dulu tidak dirawat, tiba-tiba ambruk, berdampak pada permukiman di bawahnya,” ungkapnya.
Adapun sejumlah upaya mitigasi yang disiapkan antara lain sumber daya manusia yang siaga ketika terjadi kondisi kedaruratan, sarana-prasarana, peralatan, dan logistik. “Kemudian peningkatan kapasitas untuk masyarakat melalui forum sukarelawan dan desa tanggap benvana,” kata dia.
Dia mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk memastikan drainase lancar tidak ada sumbatan. Kemudian revitalisasi sumur resapan untuk memastikan air hujan dapat masuk ke sumur resapan secara maksimal.
“Kemudian embung-embung yang di Kabupaten Sleman jumlahnya cukup banyak, itu dioptimalkan fungsinya. Jangan sampai ada pendangkalan. Paling tidak dikeruk sehingga kapasitas tampungnya kan semakin banyak,” katanya.
BACA JUGA: Mengenal La Nina Triple Dip, Penyebab DIY Hujan Berhari-hari
Berdasarkan catatan BPBD Sleman, tidak ada peningkatan signifikan kejadian bencana dari sebelum terjadinya La Nina Triple Dip, 2019, hingga 2022. Namun, pada 2020 dan 2021 tidak ada bencana kekeringan. Pada 2019 terjadi tiga kekeringan dan 2022 ada satu kekeringan.
Adapun total bencana yang meliputi angin kencang, banjir, banjir lahar, tanah longsor, petir dan kekeringan, pada 2019 sejumlah 126 kejadian, 2020 ada 147 kejadian, 2021 ada 101 kejadian dan 2022 ada 125 kejadian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Produksi mobil Indonesia mencapai 859.256 unit hingga Agustus 2026. BYD dan Jaecoo masuk 10 besar produsen dengan produksi terbesar.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 5 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
Bapanas memastikan stok beras premium dan medium di pasar tradisional tersedia. Harga beras premium tercatat Rp14.200 per kg.
John Herdman ingin memutus rekor buruk Timnas Indonesia atas Thailand sekaligus membawa Garuda juara FIFA ASEAN Cup 2026.
Kulit terasa kesat setelah cuci muka bukan tanda benar-benar bersih. Dokter menjelaskan cara cleansing yang efektif tanpa merusak kulit.