Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Kondisi talud yang longsor merusak rumah warga di RT 4 RW 9 Gedang, Sambirejo, Prambanan, Kamis (11/11/2021)/Dok.BPBD Sleman
Harianjogja.com, SLEMAN—BPBD Sleman belum mendapat informasi dari BMKG mengenai fenomena La Nina Triple Dip. Meski demikian, sejumlah upaya mitigasi telah disiapkan untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi.
Kepala BPBD Sleman, Makwan, menjelaskan La Nina yang terjadi berturut-turut selama tiga tahun atau La Nina Triple Dip, selama tidak ekstrim masih bisa diatasi dengan daya dukung wilayah. “Tidak seperti Siklon Cempaka, saat itu kan ekstrem sekali. Kalau sekarang daya dukung wilayah masih mampu,” ujarnya, Kamis (20/10/2022).
Bencana hidrometeorologi pada akhir-akhir ini hanya terjadi dalam titik-titik kecil. Dampak terbanyak di Sleman adalah pohon tumbang atau longsor dalam skala kecil di wilayah tertentu.
“Sebenarnya longsor lebih banyak di tebing sungai, terasering di permukiman. Jadi karena masyarakat memanfaatkan sedikit kemiringan lahan, kemudian taludnya tidak kokoh, mungkin talud jaman dulu tidak dirawat, tiba-tiba ambruk, berdampak pada permukiman di bawahnya,” ungkapnya.
Adapun sejumlah upaya mitigasi yang disiapkan antara lain sumber daya manusia yang siaga ketika terjadi kondisi kedaruratan, sarana-prasarana, peralatan, dan logistik. “Kemudian peningkatan kapasitas untuk masyarakat melalui forum sukarelawan dan desa tanggap benvana,” kata dia.
Dia mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk memastikan drainase lancar tidak ada sumbatan. Kemudian revitalisasi sumur resapan untuk memastikan air hujan dapat masuk ke sumur resapan secara maksimal.
“Kemudian embung-embung yang di Kabupaten Sleman jumlahnya cukup banyak, itu dioptimalkan fungsinya. Jangan sampai ada pendangkalan. Paling tidak dikeruk sehingga kapasitas tampungnya kan semakin banyak,” katanya.
BACA JUGA: Mengenal La Nina Triple Dip, Penyebab DIY Hujan Berhari-hari
Berdasarkan catatan BPBD Sleman, tidak ada peningkatan signifikan kejadian bencana dari sebelum terjadinya La Nina Triple Dip, 2019, hingga 2022. Namun, pada 2020 dan 2021 tidak ada bencana kekeringan. Pada 2019 terjadi tiga kekeringan dan 2022 ada satu kekeringan.
Adapun total bencana yang meliputi angin kencang, banjir, banjir lahar, tanah longsor, petir dan kekeringan, pada 2019 sejumlah 126 kejadian, 2020 ada 147 kejadian, 2021 ada 101 kejadian dan 2022 ada 125 kejadian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Prabowo meminta warga Jakarta, Banten, dan Lampung waspada erupsi Anak Krakatau, mematuhi zona bahaya, serta menggunakan masker.
Gree meluncurkan empat produk AC baru untuk segmen hunian hingga komersial, termasuk AC inverter dan sistem VRF modular GMV9 FLEX.
PLN menegaskan rencana pengeboran PLTP Gunung Ungaran tidak berada di kawasan Candi Gedong Songo dan masih dalam tahap studi kelayakan
Sebanyak 192 ASN Gunungkidul menunggak iuran BPJS Kesehatan. Sebanyak 96 pegawai sudah melunasi, sementara lainnya mencicil tunggakan.
Penerbangan terganggu erupsi Anak Krakatau, Persebaya memilih perjalanan darat dan laut dari Lampung ke Surabaya melalui Bakauheni-Merak.