Advertisement
Alat Deteksi Tanah Longsor di Gunungkidul Masih Minim, Segini Jumlahnya
Carik Mertelu Heri Cahyana saat menunjukkan EWS longsor yang dipasang di Balai Kalurahan Mertelu, Gedangsari. Foto diambil Jumat (28/10/2022). - Harian Jogja/David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Alat deteksi dini atau early warning sistem (EWS) tanah longsor di Gunungkidul dinilai masih sangat kurang. Salah satunya terlihat di Kalurahan Mertelu, Gedangsari yang hanya terdapat satu alat deteksi.
Padahal di kalurahan ini ada sembilan dusun. Dengan kontur geografis wilayah perbukitan, saat musim hujan, wilayah Mertelu sangat rawan longsor.
Advertisement
Carik Mertelu, Heri Cahyana mengatakan sekitar 90% wilayah di Mertelu masuk daerah rawan tanah longsor. Pasalnya, lokasi tempat tinggal warga berada di perbukitan.
“Ada sembilan dusun dan semuanya rawan tanah longsor. Hingga saat ini masih aman dan musim hujan tidak menjadi masalah bagi warga,” kata Heri kepada Harianjogja.com, Minggu (30/10/2022).
BACA JUGA: Pegadaian Bangun Rumah Digital di Kalurahan Mertelu Gunungkidul
Menurut dia, upaya antisipasi longsor sudah dilakukan. Selain membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FBRB) di kalurahan, juga ada pemasangan EWS dari Pemerintah DIY. “EWS masih berfungsi dengan baik. Sudah dicoba oleh tim ahlinya dan bunyi,” katanya.
Meski demikian, Heri mengakui sarana EWS yang dimiliki masih sangat kurang. Hal itu tak lepas dari jumlah lokasi rawan longsor di Kalurahan Mertelu yang merata di sembilan dusun.
Dia berharap kepada pemerintah ada penamabanan alat deteksi ini. Pasalnya, untuk pengadaan sendiri kalurahan tidak mampu dikarenakan kemampuan anggaran yang dimiliki masih sangat terbatas. “Baru satu di balai kalurahan. Sedangkan di dusun-dusun belum ada. Harapannya minimal ada satu EWS di setiap dusunnya,” katanya.
Subkoordinasi Pencegahan, BPBD Gunungkidul Agus Wibawa Arifianto mengatakan jumlah EWS di Gunungkidul ada sekitar 24 unit. Adapun sebarannya berada di sejumlah kapanewon seperti Patuk, Nglipar, Gedangsari hingga Purwosari. “Kalau jumlahnya memang masih sangat kurang,” kata Agus.
Menurut dia, upaya penamabahan terus dilakukan. Meski demikian, hingga sekarang belum ada penambahan karena kemampuan anggaran yang dimiliki Gunungkidul yang terbatas. “Kami terus mengusulkan untuk penambahan EWS sebagai sarana deteksi dini. Tapi, belum ada realisasinya,” katanya.
Agus mengungkapkan, pemasangan EWS malah ada bantuan dari Pemda DIY. Sebagai contoh, pada 2021 ada lima unit EWS longsor yang dipasang di Kalurahan Pengkok, Salam dan Nglengi di Kapanewon Patuk.
Adapaun dua EWS lainnya dipasang di Kalurahan Sampang dan Watugajah di Kapanewon Gedangsari. “Tahun ini belum ada penambahan EWS lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Gelangprojo Diperkuat, Kulonprogo-Purworejo Bidik KEK
- Omzet Pedagang Fasyen di Beringharjo Turun 50 Persen Saat Lebaran 2026
- Kunjungan Wisata Bantul Fluktuatif saat Libur Lebaran 2026
- Kunjungan Wisata Kraton Jogja Naik 20 Persen saat Libur Lebaran 2026
- Laka Laut di Pantai Selatan DIY Meningkat saat Lebaran, Korban Selamat
Advertisement
Advertisement







