Advertisement

Duh, Ratusan Anak di Bantul Terpapar TBC

Ujang Hasanudin
Rabu, 21 Desember 2022 - 16:27 WIB
Arief Junianto
Duh, Ratusan Anak di Bantul Terpapar TBC Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharja (kiri) saat menyampaikan kondisi kasus Tuberkulosis atau TBC di Bantul, di Hotel Ros In, Sewon, Bantul, Rabu (21/12/2022). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat selama Januari sampai akhir November 2022 terdapat 1.216 kasus tuberkulosis atau TBC yang ditemukan di seluruh fasilitas kesehatan di Bantul.

“Dari jumlah tersebut 619 di antaranya adalah kasus TBC anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharja dalam Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Kalaborasi Penaggulangan Tuberkulosis dari Dinas Kesehatan dan SSR Sinergi Sehat Indonesia di Hotel Ros In, Sewon, Bantul, Rabu (21/12/2022).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Selain itu, 12 kasus TBC juga merupakan resisten terhadap obat. Menurut Agus, jumlah 1.216 kasus TBC di Bantul tersebut masih sekitar 50% dari estimasi atau dugaan kasus TBC yang dimungkinkan berjumlah 2.431 kasus di Bumi Projotamansari. “Artinya masih banyak TBC yang masih belum ditemukan dan diobati,” katanya.

Selain masih banyaknya estimasi orang dengan TBC yang belum ditemukan, angka pasien yang putus berobat TBC di Bantul juga cukup tinggi yaitu sebesar 3,93% dari jumlah pasien yang diobati tahun 2021. Agus berujar pasien yang tidak menjalani pengobatan sampai tuntas dikhawatirkan akan membuat pasien terkena TBC resisten obat dan sulit disembuhkan kemudian menularkan kepada orang di sekitarnya.

Oleh karena itu pendampingan bagi pasien TBC agar dapat menjalani pengobatan sampai tuntas sangat dibutuhkan. Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penularan penyakit TBC di Bantul.

Salah satunya adalah memberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi kontak erat pasien TBC, menguatkan jejaring internal dan eksternal fasilitas kesehatan, serta kolaborasi multi sektor melalui pendekatan District based Public Private Mix (DPPM).

BACA JUGA: Siswa SMAN 2 Bantul Deklarasi Antitawuran

Istilah DPPM adalah jejaring layanan yang melibatkan seluruh fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan. Melalui pendekatan DPPM, kata Agus, Dinas Kesehatan Bantul, fasilitas kesehatan, dan komunitas saling berkolaborasi untuk meningkatkan angka penemuan kasus TBC serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan sesuai standar dan berpusat pada pasien.

Lebih lanjut Agus mengatakan pengendalian penyakit TBC termasuk satu dari lima prioritas kesehatan nasional. Karena itu pihaknya terus berupaya untuk menemukan dan mengobati pasien TBC sampai sembuh.

Ia mengakui tidak mudah untuk menemukan pasien TBC karena masyarakat biasanya mengangggap bahwa TBC itu aib, selain itu juga pasien harus minum obat dalam jangka waktu lama sehingga masyarakat enggan untuk melapor. Rata-rata TBC yang ditemukan sebagain besar karena mengalami gejala batuk, demam, dan penurunan berat badan, kemudian memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Setelah petugas mengetahui ada pasien TBC langsung dilakukan tracing untuk menekan angka penularan. Sebab TBC, menurutnya seperti Covid-19 yang mudah menular, “Jika tidak ditemukan dan diobati akan menyebar kemana-mana,” ucapnya.

Demikian kasus TBC banyak ditemukan pada anak, kata Agus, karena anak sangat rentan. Sama seperti Covid-19, anak rentan tertular karena sering kontak erat dengan banyak orang sehingga tidak menutup kemungkinan tertular. Kemudian gizi buruk dan stunting pada anak juga bisa jadi mudah tertular TBC.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso menambahkan bahwa kasus TBC sebenarnya tidak mematikan dan mudah disembuhkan asalkan pasien patuh minum obat dalam jangka waktu minimal enam bulan. Angka kematian dalam kasus TBC di Bantul diakui Sri Wahyu sekitar 1,5%.

Meski terlihat kecil namun cukup besar jika dibandingkan dengan angka pasien TBC yang ditemukan, “Yang meninggal sejauh ini karena ada penyakit penyerta, pola makan dan tidak teratur minum obat sehingga penyakit TBC jadi agresif,” katanya.

Kepala SSR Sinergi Sehat Indonesia Wilayah Bantul dan Sleman, Nur Holis Majid mengatakan penanggulangan TBC tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Kesehatan, melainkan butuh kerjasama semua pihak dari fasilitas kesehatan, komunitas, dan masyarakat. SSR Sinergi Sehat Indonesia sejauh ini sudah melakukan upaya untuk menemukan dan tracing kasus TBC namun jumlahnya masih terbatas.

Dalam sehari baru mendapatkan 3-4 orang dari yang seharusnya bisa mencapai 6-7 orang karena berdasarkan estimasi kasus TBC di Bantul baru ditemukan sekitar 50%. Artinya masih ada sekitar 50% lagi yang belum diketahui.

Maka perlu melakukan tracing dari satu orang yang kena, minimal tracing sampai 20 orang.  “Kalau hasil tracing ada yang dicurigai TBC maka diirim ke puskesmas atau rumah sakit. Kalau kita tahu dalam rumah ada anak maka kita dorong langsung lakukan pemeriksaan karena anak rentan tertular. Kemudian yang menderita kencing manis, lansia dan ibu hamil juga kita dorong untuk skrining karena rentan tertular,” papar Nur Holis.

Selain menemukan kasus, pihaknya juga memastikan pasien TBC rutin meminum obat dalam jangka waktu yang ditentukan oleh medis. Sebab jika putus minum obat maka TBC sulit untuk disembuhkan karena akan resisten terhadap obat, namun biasanya minimal enam bulan pengobatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Gempa Bumi, Bagaimana Kondisi WNI di Suriah?

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 19:37 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement