Advertisement
Taman Budaya Yogyakarta Gelar Sarasehan untuk Perkuat Seni Karawitan

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA–Pandemi Covid-19 dirasakan para seniman karawitan. Selama pandemi Covid-19, penyelenggaraan pertunjukan karawitan berlangsung secara daring, kini setelah situasi mulai membaik, penyelenggaran karawitan pun mengalami situasi liminalitas atau ambang antara pra dan pasca pandemi.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Purwiati menyampaikan melihat kondisi yang dialami karawitan saat ini, pihaknya berupaya memberikan ruang diskusi bagi seniman karawitan.“Memberikan ruang diskusi untuk teman teman pegiat seni terhadap situasi dan kondisi yang berkembang pada saat ini terkait dengan karawitan, yang memang mau tidak mau mengikuti pergerakan tren pasar yang terjadi,” ucapnya dalam Sarasehan Masyarakat Karawitan Yogyakarta bertajuk Liminalitas Karawitan di TBY, Rabu (5/3/2023).
Advertisement
Menurutnya situasi yang dihadapi seniman karawitan pasca Covid-19 perlu disikapi dengan bijaksana. “Ini perlu disikapi dengan bijaksana untuk berkomitmen terhadap dinamika perkembangan seni budaya, baik secara konvensional dalam sebuah pertunjukan yang komplet maupun pergelaran secara climen [terbatas] pada pertunjukan daring yang jangkauannya lebih luas untuk bisa dinikmati,” ujarnya.
Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Seni Budaya Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Dyah Wahyu Aprilina menyampaikan pandemi memberikan dampak bagi seni karawitan. Pasca berakhirnya pandemi Covid-19, menurut Dyah berbagai aktivitas di masyarakat muncul kembali secara luring.
“Dunia telah menyatakan pandemi Covid-19 telah berakhir, seiring dengan kembalinya berbagai aktivitas secara langsung dalam masyarakat. Pandemi Covid-19 telah mengantarkan masyarakat untuk melakukan aktivitas secara daring dan mengimplementasikan mekanisme new normal,” kata Dyah.
Dyah menyampaikan perubahan tersebut juga berdampak pada karawitan. Menurutnya, liminalitas terjadi secara holistik, karena mempengaruhi teks maupun penyelenggaraan pertunjukan, termasuk dalam karawitan.
BACA JUGA: Mengapa Pemda DIY Kekeh Stadion Mandala Krida Tidak Rusak?
“Lambat laun situasi new normal telah memanjakan segenap masyarakat karawitan dengan konsepsi seni pertunjukan yang cenderung hemat dan tidak begitu bersangkut paut dengan keberadaan banyak aspek. Walau terdapat masyarakat karawitan yang menghendaki mekanisme terdahulu pra pandemi Covid-19,” ujarnya.
Menurutnya seniman karawitan mengalami dilema mengenai penyelenggaraan karawitan setelah masa pandemi. “Pelaku karawitan ingin dekat lagi dengan para penikmatnya, seperti sebelum pandemi. Tapi bagaimana nanti implementasinya, kita punya kebaruan bagaimana menikmati karawitan bersama,” ucapnya.
Melalui sarasehan tersebut, Dyah berharap dapat melahirkan pemikiran terkait tantangan yang dihadapi seniman karawitan. “[Diharapkan] Melahirkan suatu pemikiran khusus untuk seni karawitan sesuai tuntutan dan kepentingan zaman,” ucapnya.
Selain itu, Dyah juga berharap dapat menjaring masukan dari peserta sarasehan. “Dari forum ini, kami berharap nanti ada masukan dari peserta terutama terkait bagaimana pemerintah melalui Taman Budaya dapat melakukan program khusus untuk karawitan,” katanya.
Dyah menyampaikan sarasehan tersebut merupakan agenda rutin TBY. “Sebagai agenda rutin tahunan, setiap tahun ada tiga kali kegiatan ini sebagai ajang untuk bertemu para pemerhati maupun seniman karawitan. Nanti bisa bertukar pikiran, sharing, terutama masa sekarang bagaimana mereka [pemerhati dan seniman karawitan] bisa terus berkarya pasca pandemi,” katanya.
Prof Suminto A. Sayuti, Akademisi Seni Pertunjukan UNY menyampaikan situasi liminalitas sudah ada sejak dahulu. Menurutnya, eksistensi karawitan selalu didukung berbagai hal. “Karawitan eksistensinya selalu didukung hal yang lain. Baik kaitannya dengan pertunjukan wang orang, ketoprak dan seterusnya, sampai kepada bagi orang yang punya hajat menikah dan lainnya,” ucapnya.
Menurutnya, pada masa karawitan berkembang dalam budaya lisan, saat masyarakat masih arus penyebaran seni masih menggunakan radio. “Waktu itu karawitan menjadi sesuatu yang luar biasa, tetapi saat transformasi terjadi, seperti saat ini, yang pasti ketidakpastian itu sendiri. Saya kira teman-teman karawitan perlu melakukan repositioning diri,” ujarnya.
Dia pun menilai perubahan situasi yang dialami karawitan merupakan takhir yang tidak dapat dipungkiri. Dia mencontohkan dalam kajian budaya, karawitan perlu dimaknai sebagai ensemble proses sosial yang di dalamnya ada makna diproduksi. Dia juga menyampaikan karawitan perlu disebarluaskan tidak hanya antar seniman karawitan, namun juga ke masyarakat luas. Menurutnya, dengan begitu karawitan dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat.
Prof. Triyono Bramantyo, Akademisi Musik ISI Yogyakarta menyampaikan situasi saat ini ada dalam masa post humanisme. Kondisi masyarakat yang banyak tergantung dengan teknologi pun mempengaruhi karawitan. Dia pun mencontohkan sejumlah pertunjukan seni selama pandemi diselenggarakan secara daring.
“Itu menjadi kurang komunikatif, aspek komunikatifnya hilang, akibatnya ekspresinya hilang. Jadi kurang bagus akibatnya,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya post pandemi, namun juga posthumanism. Dia pun berharap generasi muda kembali pada situasi saat kesenian dapat menghidupkan komunikasi.
“Supaya kesenian kembali pada posisi semula, menghidupkan dimensi, roh berkesenian atau spiritualitas kesenian dan menghidupkan semangat untuk menemukan gaya individu bermain,” katanya.
Anon Suneko, Praktisi Seni Karawitan Omah Gamelan berharap dengan adanya digitalisasi terhadap karawitan, seniman karawitan tetap harus mempertahankan orisinalitasnya. “Kadang kita kembali ke kebudayaan lama terus terlena. Kita tetap harus ada hal-hal yang bisa kita petik, serasikan, sehingga perkembangannya ke depan bisa berpadu padan, antara kita mempertahankan yang asli, orisinil tetapi yang modern juga perlu,” ucapnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Polda DIY Catat Titik Arus Balik Tertinggi ada di Tempel
- Lurah di Gunungkidul Wajib Bikin LHKPN ke KPK
- Pakar UGM Nilai Desentralisasi Total Pengelolaan Sampah Tidak Tepat
- Kegiatan Monoton dan Kurang Menarik Jadi Pengganjal Peningkatan Lama Tinggal Wisatawan di DIY
- Ingin Hasil ASPD Optimal, Dinas Pendidikan Gunungkidul Gelar Tryout
Advertisement
Advertisement