Hujan Mulai Turun, Petani Gunungkidul Diimbau Tak Buru-buru Menanam
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Sukamto saat memperlihatkan kreasi Lukisan memanfaatkan gedebog pisang di rumahnya di Dusun Jeruklegi, Katongan, Nglipar. Selasa (12/9/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sukamto, warga Jeruklegi, Katongan, Kapanewon Nglipar berhasil memanfaatkan limbah atau sampah dari batang pohon pisang (gedebok) menjadi lukisan cantik. Hasil kerajinan tangan ini kini bahkan telah dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung hingga Surabaya.
Gedebok biasanya hanya dipergunakan untuk pakan atau membuat tali. Selain itu, juga ada yang dijadikan kerajinan keranjang.
Namun, di tangan Sukamto, gedebog disulap menjadi lukisan berbagai gambar mulai dari pemandangan alam hingga hewan-hewan seperti ayam, burung garuda, ular dan lain sebagainya. “Untuk gambar tergantung permintaan dari pemesan,” kata Sukamto kepada wartawan, Selasa (12/9/2023).
Untuk proses pembuantan, Sukamto memanfaatkan teras rumah sebagai tempat bekerja. Adapun ruang tamu rumah disulap menjadi tempat galeri untuk memerkan karya lukisan dengan gedebog pisang ini.
BACA JUGA: Ini Dia Deretan Lukisan Termahal Sepanjang Sejarah, Ada yang Tembus Rp12,5 Triliun
Belasan karya sudah terbingkai rapi mulai dari kaligrafi, elang memburu mangsa, terpasang apik di rumah bercat warna hijau itu. Menurut dia, aktivitas merajut lukisan ini sudah berlangsung sejak 2000. Namun awalnya, sama seperti pelukis lainnya dengan menggunakan media kanvas dan cat air.
Dikarenakan ingin tantangan, Sukamto pun mulai berinovasi dengan memanfaatkan sampah atau limbah yang berada di sekitara rumah. “Kebetulan saya petani juga memelihara ternak kambing. Jadi, muncullah ide membuat lukisan dari gedebog,” katanya.
Lukisan gedebog dibuat dengan membuat skesta lukisan di atas triplek. Selanjutnya, untuk pewarnaan tidak memakai cat, tapi diganti dengan daun dan batang pohon pisang. “Gedebog dipotong-pootng menggunakan cutter. Lalu ditempel mengikuti skesta yang ingin dilukis di atas papan triplek,” katanya.
Dalam sebulan, dia mengaku bisa menyelesaikan empat sampai lima karya. Namun, hal itu tidak bisa diprediksi karena jika saat panen akan berkurang waktunya untuk melukis. “Satu karya dijual rata-rata Rp2 juta. Untuk pemasaran sudah sampai di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya,” katanya.
Disinggung kendala, ia mengakui tidak ada masalah karena bahan baku banyak tersedia di sekitar rumah. Meski demikian, kendala utama yang dihadapi adalah pemasaran. “Belum bisa secara luas, tapi sekarang sudah dibantu dari Dinas perdagangan Gunungkidul masuk di websnya, semoga bisa semakin meluas pemasarannya,” katanya.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan, terus berupaya membantu usaha warga untuk mengenalkan produknya melalui laman UMKM Gunungkidul. “Tidak hanya untuk promosi, tapi juga sudah ada aplikasi belanja produk lokal,” katanya.
Kelik berharap dengan layanan khusus UMKM bisa meningkatkan penjualan pelaku usaha di Bumi Handayani. “Tujuan utama tetap untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
DPUPKP Sleman membagi tim pemeliharaan drainase di wilayah barat dan timur untuk menjaga saluran tetap berfungsi selama musim hujan.
Telkom membukukan pendapatan Rp113,5 triliun hingga September 2026, tumbuh 3,5% secara tahunan, didukung pertumbuhan bisnis data dan infrastruktur digital.
Realisasi pembangunan fisik Bantul baru 69,40% hingga Triwulan III 2026. DPRD meminta Pemkab mempercepat proyek infrastruktur, terutama perbaikan jalan.
BMKG tidak mendeteksi hujan saat bongkahan es merusak rumah di Pandak, Bantul. Asal-usul fenomena tersebut masih perlu dianalisis lebih lanjut.
Nelayan Gunungkidul mulai menangkap gurita. Sekali melaut, hasil tangkapan bisa mencapai 15 kilogram dengan harga hingga Rp100.000 per kilogram.