Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Petugas memilah sampah plastik di BUMDes Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (Kupas) Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (7/2/2023). Kelompok itu mengolah sampah organik menjadi kompos dan sampah plastik menjadi batako. – Antara/Hendra Nurdiansyah
Harianjogja.com, BANTUL—Pemkab Bantul menyiapkan pedagang dan petugas kebersihan pasar untuk bisa mengelola sampah pasar. Hal ini menjadi bagian dari visi Pemkab Bantul untuk Bantul Bersih Sampah 2025 (Bantul Bersama).
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Bantul, Agus Sulistiyana, menjelaskan pihaknya saat ini sedang menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dari pedagang dan petugas kebersihan untuk memisahkan sampah pasar.
BACA JUGA: Cawapres Ganjar Diumumkan Hari Ini, Mahfud Temui Ketum Partai Hanura
Pemilahan sampah ini diperlukan untuk mengantisipasi penumpukan sampah yang tidak diangkut oleh Dinas Linkungan Hidup (DLH) Bantul. Jika belum dipilah maka sampah akan sulit diolah. Sedangkan jika sampah sudah dipilah, menurutnya bisa dikerjasamakan dengan pihak lain untuk pengangkutan atau pengolahan.
Ia mencontohkan seperti yang sudah dilakukan di Pasar Jejeran, Pleret. Di sana sudah ada pihak yang mengambil sampah yang telah dipilah dari pasar. “Di sana sudah ada yang mengambil, bahkan ada nilai ekonominya, walaupun kecil, misal setumpuk Rp2.000. Yang mengambil dari pihak ketiga kayak bank sampah dan sebagainya,” ujarnya, Selasa (17/10/2023).
Ia mengakui membudayakan para pedagang dan petugas kebersihan pasar untuk memilah sampah bukanlah hal yang mudah. Dengan setengah paksaan untuk memilah di pasar, ia berharap para pedagang juga akan mulai memilah sampah di rumahnya masing-masing.
“Dengan berkali-kali petugas menyampaikan, kita juga berulang kali menyampaikan. Meski pun masih ad asak geleme. Tapi ketika itu didorong, dipaksa dan sebagainya di pasar, harapan kami kebiasaan itu dibawa ke rumah,” kata dia.
Adapun selama ini ia melihat sampah di pasar sebenarnya juga sudah ada pemilahan namun belum sempurna. “Misalnya plastic, masih dicampur kresek hitam, plastic putih, plastic botol dan sebagainya masih dicampur. Harapan kita kalau bisa pemilahan sudah tuntas,” ungkapnya.
Selain mengedukasi ke pedagang, pihaknya juga menyiapkan sarana yang diperlukan, seperti kantong-kantong sampah, tempat untuk pemilahan dan sebagainya. Di pasar-pasar menurutnya sudah ada Tempat Penampungan Sampah (TPS).
Sedangkan Tempat Pengolahan Sampah Recycle, Reduce, Reuse (TPS3R) baru ada di satu pasar, yakni Pasar Niten. “Dibangun oleh DLH di Pasar Niten. Di sana ada pengolahannya. Itu juga ada mesinnya juga untuk mengolah. Itu untuk beberapa pasar di sekitarnya juga,” kata dia.
Seperti diketahui, Pemkab Bantul mencanangkan Bantul Bersama dengan penguatan pengolahan sampah di setiap wilayah. Dengan program ini, ditargetkan Bantul tidak lagi mengangkut sampah ke Piyungan pada 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
DLH Kulonprogo mengimbau warga tidak membakar sampah selama musim kemarau karena berisiko memicu kebakaran lahan dan melanggar aturan.
PT Pegadaian (Persero) secara resmi memasuki babak baru dalam pengelolaan hubungan ketenagakerjaan yang inklusif dan berkeadilan
BMKG memprediksi El Nino bertahan hingga awal 2027 dan memicu kemarau lebih kering dengan risiko kekeringan serta karhutla yang meningkat.
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan dinilai memberikan manfaat besar dalam memudahkan masyarakat mengakses layanan kesehatan.
Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid divonis 2 tahun penjara dalam kasus korupsi, lebih ringan dari tuntutan jaksa 8 tahun 6 bulan.