Fajar Alfian dan Fikri Ingin Naik Podium Tertinggi di Asian Games 2026
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri lolos semifinal Asian Games 2026 dan membidik emas setelah menang atas pasangan Korea Selatan.
Peserta Pawai Budaya Garis Imajiner yang digelar Dinas Kebduayaan Sleman di kawasan wisata Kaliurang, Sabtu (28/10/2023)./ ANTARA/HO-Bagian Forkopim Setda Sleman
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menggelar acara Pawai Budaya Garis Imajiner, Sabtu (28/10/2023) di kawasan wisata Kaliurang. Acara tersebut diikuti ribuan peserta dari 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman.
Pawai Budaya Garis Imajiner yang merupakan dukungan terhadap penetapan Sumbu Filosofis Jogja sebagai warisan dunia ini dimulai dari gardu pandang Kaliurang dan berakhir di kawasan Tlogoputri.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa membuka acara secara simbolis dengan pemukulan gong di panggung kesenian di kawasan Tlogoputri Kaliurang.
Danang mengatakan, agenda ini sebagai upaya melestarikan, mengembangkan serta memperkenalkan seni dan budaya yang ada di wilayah Kabupaten Sleman kepada masyarakat luas.
"Pawai Budaya Garis Imajiner ini juga sebagai media untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun Yogyakarta yang tidak bisa lepas dari garis imajiner yang memiliki sumbu filosofis," katanya.
Menurut dia, sumbu filosofis memiliki makna keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.
"Garis ini memang imajiner, tetapi setidaknya bisa diwujudkan dengan perilaku budaya masyarakat," katanya.
Ia berharap kegiatan Pawai Budaya Garis Imajiner Kabupaten Sleman 2023 dapat menjadi salah satu sarana untuk menggali, mengenalkan, memasyarakatkan, melestarikan, serta mengukuhkan eksistensi budaya dan kesenian tradisional Kabupaten Sleman.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Edy Winarya mengatakan, Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten yang dilalui garis imajiner.
"Hal ini menjadi salah satu latar belakang Sleman perlu melestarikan filosofi tersebut melalui Festival Garis Imajiner. Kegiatan ini mengusung tema 'Resik Ketitik, Reget Kejiret'. Tema ini diangkat berlatar belakang keprihatinan terhadap isu penanganan sampah yang belum tertangani dengan baik," katanya.
Dengan tema ini, kata dia, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penanganan sampah berbasis budaya.
"Selain itu, Festival Garis Imajiner diharapkan dapat menjadi wahana kreatifitas bagi seniman sekaligus mempertahankan eksistensi jati diri seni tradisional kerakyatan," katanya.
Dalam event yang dilaksanakan pada 28-29 Oktober 2023 itu masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti, pawai budaya, pentas seni dan UMKM, gelar seni kawasan candi, dan lomba film dokumenter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri lolos semifinal Asian Games 2026 dan membidik emas setelah menang atas pasangan Korea Selatan.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.
Kaspersky menemukan situs palsu yang menawarkan iPhone 18 dengan harga fiktif. Pengguna diminta waspada sebelum memasukkan data pribadi.
Ratusan peserta membersihkan Pantai Baru Bantul. Gerindra mendorong kebersihan menjadi budaya untuk mendukung pariwisata dan ekonomi hijau.
Asah Kreativitas Anak Sejak Dini, Alfamart dan Johnson’s Gelar Lomba Mewarnai di Graha Bung Karno Klaten