Advertisement

Enam Bulan, Omzet Produksi Pengolahan Ikan di Kulonprogo Capai Rp3,4 Miliar

Andreas Yuda Pramono
Sabtu, 02 Desember 2023 - 14:47 WIB
Ujang Hasanudin
Enam Bulan, Omzet Produksi Pengolahan Ikan di Kulonprogo Capai Rp3,4 Miliar Tekwan Gebek Udang, salah satu olahan dari ikan di Kulonprogo. - Istimewa / DKP Kulonprogo

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulonprogo mencatat omzet sektor pengolahan dan pemasaran ikan di Kulonprogo semester I tahun 2023 mencapai sekitar Rp3,4 miliar.

Pembina Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan DKP Kulonprogo, Isna Bahtiar mengatakan omzet sektor produksi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan semester I 2023 diperkirakan mencapai Rp3,4 miliar.

Advertisement

“Untuk data sektor produksi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sementara di semester I tahun 2023 tercatat ada 92.000 kilogram,” kata Isna dihubungi, Sabtu (02/12/2023).

Isna menambahkan beberapa jenis olahan ikan yang ada di Bumi Menoreh antara lain ada kerupuk udang, kerupuk kulit ikan, amplang, dan kerupuk tengiri. Selain itu masih ada kripik wader, teri, belut, peyek udang, peyek ikan, abon lele, dan basreng lele.

Kemudian untuk produk olahan basah ada dimsum lele, otak-otak, nuget ikan, bandeng presto, lele asap, dan gebleg tengiri. Ada juga olahan ikan hasil inovasi baru seperti slondok udang, tekwan beku, donat lele, bakpia lele, dan gebleg ikan beku.

Dia menjelaskan setidaknya ada 88 kelompok dan pemasar (Poklahsar) ikan dari Kabupaten Kulonprogo. Sebanyak lima kelompok di antaranya memiliki tata cara pengolahan hasil perikanan baik yang dibuktikan dengan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).

SKP tersebut, menurut Isna penting karena sebagai bukti penerapan tata cara pengolahan ikan yang benar sesuai standar Good Manufacturing Practices (GMP) Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Sertifikat ini penting untuk dapat mengintegrasikan dengan pembangunan Aerotropolis yang berupusat di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Isna menegaskan salah satu upaya transformasi di sektor perekonomian yang dapat diintegrasikan dengan kawasan inti Aerotropolis adalah melalui aktivitas pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Aktivitas tersebut dapat mendukung utamanya keberadaan bandar udara (bandara). Ada simbiosis mutualisme yang terjadi, sebab bandara juga mendukung pembangunan aktivitas pengolahan dan pemasaran tersebut.

BACA JUGA: DKP Kulonprogo Optimistis Capai Target Produksi Perikanan Tangkap

Anggota Komisi II DPRD Kulonprogo, Hamam Cahyadi mengatakan Kulonprogo diuntungkan karena menjadi pintu gerbang DIY melalui YIA. Sebab itu, pemasaran produk olahan ikan dapat ditingkatkan sampai tingkat ekspor.

“Kalau serius, Kulonprogo bisa sampai ke tingkat ekspor besar produk olahan ikan. Jadi undang investor pabrik pengolahan ikan. Kulonprogo ini strategis dengan adanya bandara,” kata Hamam.

Hal tersebut, menurut Hamam seperti yang dimaksud Gubernur DIY, bahwa DIY among tani dagang layar. DIY menggarap potensi perikanan walau kondisi pantai Kulonprogo tidak terlalu menguntungkan bagi nelayan. Industri pengolahan perikanan menjadi sangat potensial.

“Tidak harus produksi besar tapi yang penting bagaimana bisa menjual. Perlu dibuat branding bahwa Kulonprogo memiliki pantai dengan olahan perikanannya,” katanya.

Upaya kolaborasi pun memungkinkan dilakukan sebagai upaya mencapai tahap ekspor dan membangun branding. Dia memberi contoh Kabupaten Pacitan yang memiliki omzet perikanan tangkap laut mencapai Rp50 miliar.

“Kalau bisa dikerjasamakan. Produksi mereka diolah dan dipasarkan di Kulonprogo dengan pemberdayaan kelompok nelayan kita yang hanya bisa melaut di musim tertentu. Ini akan meningkatkan kesejahteraan nelayan Kulonprogo,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Gibran Enggan Beberkan Hasil Pembahasan Kementerian Baru dengan Prabowo di Kartanegara

News
| Sabtu, 24 Februari 2024, 08:27 WIB

Advertisement

alt

Pelancong Masuk ke Thailand Diwajibkan Bawa Uang Tunai Minimal Rp6,7 Juta

Wisata
| Jum'at, 23 Februari 2024, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement