Kemarau, DLH Sleman Waspadai Kebakaran di TPST dan Transfer Depo
Volume sampah Sleman mencapai 15.429 ton hingga pertengahan September 2026. DLH mewaspadai risiko kebakaran saat musim kemarau.
Petani menyiapkan lahan di lahan Padukuhan Gading I, Kalurahan Gading, Playen, Gunungkidul pada Sabtu (7/1/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyampaikan bahwa sektor pertanian padi di zona selatan Gunungkidul tak lagi jadi masalah setelah hujan sempat turun selama tiga hari lalu.
Sekretaris DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan petani Gunungkidul terbiasa dengan sistem budi daya atau menanam ngawu-awu. Menggunakan sistem tersebut berarti benih padi justru ditanam sebelum musim hujan tiba.
“Hal ini dilakukan dengan harapan menghemat air untuk pertanaman musim berikutnya, serta kecukupan tenaga kerja masing-masing untuk olah lahan dan tebar benih,” kata Raharjo dihubungi, Sabtu (7/1/2024).
Raharjo menambahkan sistem tanam ngawu-awu tersebut dilakukan sebelum diprediksi gagal karena perubahan iklim.
Dia mengaku El-Nino menyebabkan kemarau lebih panjang dan kering sehingga musim hujan mundur pada Januari 2024.
Padahal banyak petani khususnya di zona selatan telah menanam sejak bulan November dan Desember 2023.
Berdasarkan laporan DPP Gunungkidul, luasan tanam padi dan jagung serta kedelai sampai 31 Desember 2023 mencapai 11.569 hektare. Dari angka itu, luas tanam padi sebanyak 9.774 hektare dan luas tanam jagung dan luas tanam kedelai 4 hektare.
Sementara itu, Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan bahwa berdasarkan laporan lapangan, hujan turun merata di seluruh Gunungkidul selama dua hari sehingga jajarannya mengimbau petani segera melakukan penanaman musim tanam pertama.
BACA JUGA: Gunungkidul Butuh Regenerasi Petani
Sebelumnya, DPP telah melakukan monitoring. Hasil monitoring tersebut adalah ada pertanaman padi yang terlanjur tumbuh dan mengalami kekeringan. Intensitas kekeringan dari ringan sampai berat.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan di Balai Penyuluh Pertanian Tanjungsari, Wahyudi mengatakan hujan di Kapanewon Tanjungsari turun selama dua hari. Dia menerangkan curah hujan pada 4 Januari 2024 sebesar 40 milimeter dan 5 Januari 2024 sebesar 16 milimeter.
Ketua Kelompok Tani Karya Tani Padukuhan Dunggubah II, Duwet, Wonosari, Samidi mengaku hujan yang turun memberikan harapan kepada benih yang telah ditanam sejak bulan November dan Desember 2023.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Volume sampah Sleman mencapai 15.429 ton hingga pertengahan September 2026. DLH mewaspadai risiko kebakaran saat musim kemarau.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.