Bantuan Air Bersih Sudah Menjangkau 8 Kapanewon di Gunungkidul
Bantuan air bersih sudah disalurkan ke delapan kapanewon di Gunungkidul. BPBD mengalokasikan 1.150 tangki untuk warga terdampak kekeringan.
Bayi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Kapanewon Seyegan menjadi salah satu lokus penanganan stunting di Kabupaten Sleman. Pasalnya, angka stunting mencapai 7,2% atau lebih tinggi dari rerata di Bumi Sembada sebesar 5,5%.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan pencegahan stunting masih menjadi program prioritas yang dilaksanakan di 2024. Salah satu fokus penangan di Kapanewon Seyegan dikarenakan jumlahnya termasuk yang paling banyak Sleman.
Dia mengungkapkan berdasarkan hasil kajian ilmiah yang telah dilakukan, kasus stunting di Seyegan tidak hanya dikarenakan pola asuh atau angka kecukupan gizi bagi ibu hamil dan bayi baru lahir. Namun, ada juga faktor lingkungan, yang salah satunya dikarenakan pencemaran bakteri E-coli di sumber-sumber air warga.
“Ternyata memang ada pengaruhnya. Sumber air yang terpapar E-coli dan dikonsumsi bisa berpengaruh terjadinya stunting. Ini sudah ada risetnya sehingga butuh penanganan serius,” kata Kustini kepada wartawan, Selasa (16/1/2024).
Guna mengatasi permasalahan ini, dia mengakui sudah menyiapkan sejumlah program. Selain program rutin mulai pemenuhan angka kecukupan gizi, juga ada pemberian layanan air bersih.
Guna mewujudkan sudah ada kerja sama dengan PDAM Tirta Sembada. Rencannaya sumber air bersih di Kapanewon Turi akan ditarik hingga bisa melayani warga di Seyegan. “Kebetulan ada program bantuan dari Pemerintah Pusat, maka dimanfaatkan untuk pemasangan sambungan rumah baru agar air yang dikonsumsi tidak terpapar bakteri,” katanya.
Kustini mengungkapkan, di tahun ini rencananya pemasangan sebanyak 2.000 SR baru. Sasaran program tidak hanya untuk keluarga miskin dikarenakan keluarga berstatus mampu juga masuk prioritas. “Sudah dimulai dan program SR diberikan secara gratis. Tujuannya dalam rangka penanggulangan stunting di Kapanewon Seyegan. Untuk angka stunting di Sleman masih 5,5%,” katanya.
BACA JUGA: Angka Stunting di DIY Tahun Ini Ditarget Turun Menjadi 14 Persen, Ini Strategi yang Dilakukan
Panewu Seyegan, Samino saat dikonfirmasi kemarin tidak menampik angka stunting di Seyegan masih relatif tinggi. Yakni sebesar 7,2% atau lebih tinggi rataan di Sleman 5,5%. “Sudah ada penurunan dari 7,5 persen menjadi 7,2 persen sehingga Seyegan menjadi salah satu fokus penanganan stunting di Sleman,” katanya.
Menurut dia, tingginya stunting tidak hanya disebakan karena pola asuh maupun kecukupan gizi. Namun berdasarkan penelitian juga ada indikasi paparan dari bakteri E-coli di sumber air yang dikonsumsi warga.
Samino mengungkapkan ada pengambilan sampel air sebanyak 31 lokasi di sumber milik warga. Adapun hasilnya, 29 titik terkonfirmasi tercemar E-coli sehingga bersurat ke pemkab untuk membantu dalam penanganan. “Ada program pipanisasi dan ini kami manfaatkan untuk mengurangi risiko paparan bakteri agar angka stunting bisa semakin diturunkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bantuan air bersih sudah disalurkan ke delapan kapanewon di Gunungkidul. BPBD mengalokasikan 1.150 tangki untuk warga terdampak kekeringan.
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Dinkes Kota Jogja menargetkan 3.146 anak menerima vaksin HPV pada BIAS 2026. Tahun ini, imunisasi juga menyasar anak laki-laki kelas 5 SD.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 31 Juli 2026 tersedia 12 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Palur hingga Yogyakarta.