Advertisement
Dinkes Dorong Penjamah Makanan Punya Sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan Siap Saji
Advertisement
Harianjogja.com, UMBULHARJO—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menggelar pelatihan keamanan pangan siap saji di Balai Kota Jogja, Kamis (22/2/2024). Gelaran ini dilakukan untuk memastikan para penjamah makanan mendapatkan pembekalan soal keamanan pangan. Di akhir sesi, sebanyak 50 peserta pelatihan yang kebanyakan merupakan karyawan hotel, resto, dan catering di wilayah Kota Jogja ini akan mendapatkan sertifikat yang akan berlaku seumur hidup.
Staf Sertifikasi dan Lisensi Kesehatan Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Jogja Eggasari Ratna Firdausi menjelaskan sebelumnya peserta diminta untuk mengerjakan tes untuk mengukur sejauh mana pengetahuan mereka sebagai penjamah makanan terkait dengan keamanan pangan. Selain itu, pihaknya juga turut menghadirkan pemateri dari BPOM DIY dan Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Egga menyebut sertifikat pelatihan keamanan pangan ini akan menjadi pelengkap sertifikasi layak sehat dan layak hygine di tempat mereka bekerja.
Advertisement
"Sejak 2021 sebanyak 50 persen penjamah makanan di hotel, restoran, maupun catering wajib memiliki sertifikat pelatihan keamanan pangan," ujarnya saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (22/2/2024).
Baca Juga
Cegah Penularan Penyakit, Penjamah Makanan di Restoran Diberi Vaksin
KERACUNAN MAKANAN : Ups, Ratusan Katering di Sleman Tak Miliki Sertifikat Jasa Boga
PKL Tidak Bisa Dapat Sertifikasi PIRT, Ini Alasannya
Egga mengatakan pelatihan ini penting dilakukan. Mengingat sebentar lagi akan memasuki momen Ramadan. Keamanan pangan menjadi hal yang patut diperhatikan baik oleh pemilik usaha, karyawan, maupun masyarakat. Di sisi lain, Kota Jogja merupakan kota wisata yang di dalamnya terdapat banyak hotel, restoran, dan usaha catering yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.
"Kami lebih dorong ke situ biar wisatawan terjamin," imbuhnya.
Egga menyebut pada 2023 lalu, program ini telah menyasar kepada 300 penjamah makanan. Sementara, pada tahun ini Dinkes kembali menggencarkan pelatihan dengan menargetkan 350 peserta pelatihan yang terbagi dalam 7 sesi dalam setahun. Untuk memastikan para pemilik usaha ataupun karyawan taat pada aturan, Dinkes bekerja sama dengan BPOM untuk melakukan penindakan jika ditemui adanya pelanggaran. "Kalau sidak dari BPOM. Dinkes juga punya, tapi lebih ke sampling karena fungsinya lebih ke pembinaan dan pengawasan," katanya.
Sementara, salah satu pemateri yang juga Akademisi Fakultas Teknologi Pertanian UGM Rahma Wikandari menuturkan sering kali penjamah makanan abai terhadap keamanan pangan. Misalnya, tidak mengenakan sarung tangan ataupun celemek. Padahal, pedagang harus melayani pembeli sekaligus menerima uang dan mengembalikan uang pembeli. Jika abai bukan tak mungkin makanan akan terkontaminasi oleh mikroba. Mikroba inilah yang menjadi penyebab paling banyak terjadinya keracunan.
"Terkadang juga masih banyak yang menyepelekan cuci tangan. Seharusnya, cuci tangan tak hanya pakai air, tapi juga pakai sabun agar mikroba benar-benar mati," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Belanja Pegawai Bantul Tembus 34 Persen Rekrutmen Dipangkas
- Jenazah 2 Prajurit Gugur di Lebanon Tiba di Lanud Adisutjipto
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement







